NABIRE – Bentangan rawah di Muara Kali Bumi menghadang rencana pembangunan jalan ke Lapangan Terbang (Lapter) Karadiri. Luasnya rawah di Muara Kali Bumi cukup lebar sehingga dana pembangunan jalan dari kota Nabire ke bandara baru lewat Waroki tidak cukup hanya dengan dana Rp 60 miliar.

Anggota Komisi C Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire, Simon Tiranda di gedung parlemen Nabire, Selasa (12/6) mengatakan setelah konsultasi dengan Kantor Wilayah Badan Pertanahan Nsional (BPN) Provinsi Papua pekan lalu dan melihat foto udara, ternyata tanah rawah di Muara Kali Bumi cukup lebar. “Kemarin, 3 hari lalu, saya lihat dari peta udara itu, disampingnya Kali Bumi itu banyak rawah. Saya lihat itu di peta itu banyak rawah,” ungkapnya.

Dari kondisi ini, Simon Tiranda menilai, bisa saja pembangunn jalan tersebut bisa dipaksakan tetapi anggarannya tidak normal. Karena, anggaran yang disetujui hanya untuk pembangunan jalan toh.   Oleh sebab itu, dana pembangunan jalan dari kota Nabire (Waroki) ke Bandara Karadiri sebesar Rp 60 miliar tidak cukup untuk menyelesaikan pekerjaan jalan tersebut.

Legislator dari Partai Demnokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) ini menilai pemerintah Provinsi Papua masih perlu menambah dana lagi untuk membuka jalan kota Nabire – Bandara Kaladiri untuk mendukung akses ke bandara baru. Karena, kondisi tanah di muara Kali Bumi banyak rawah sehingga perlu jembatan yang dibangun juga perlu bentangannya panjanga. 

Oleh sebab itu, Simon Tiranda menilai sebelum jalan Waroki – Karadiri belum selesai, akses ke bandara baru (Karadiri) melalui jalan lewat Kampung Bumi Mulia (SP C) Wanggar, sebagai jalan alternatif.


Bandara Karadiri


Menyinggung pembangunan bandara Karadiri, anggota Komisi C ini mengungkap, saat konsultasi dengn Dirjen Perhubungan Udara (Dirhubdara) Kementerian Perhubungan (Kemenhub), April lalu, Kemenhub menganggarkan Rp 78 miliar untuk penyelesaian tempat parkir, ruang tunggu dan terminal.

Sedangkan untuk pembangunan tower dan peralatan komunikasi di bandara ditangani oleh Airnav.

Simon Tiranda bersama anggota Komisi C (kini Ketua Komisi C), Salmon Pigay menanyakan apakah pekerjaan tersebut akan ditangani oleh kontraktor yang mengerjakan Bandara Nabire ataukah ada kontrak lain, Dirjen Hubdara Kemenhub mengatakan kontraknya ditentukan lewat lelang.

Mantan Kepala Bandara Halmahera Selatan ini mengatakan, Bandara Nabire di Karadiri jenis pesawat AVTR, karena panjangnya baru 1600 meter (1,6 KM). Kalau mau didarati jenis pesawat boeing lagi, pemerintah harus menambah 1400 meter. Karena boeing bisa mendarat di Bandara dengan panjang landasan 3.000 meter (3 KM). (ans)