NABIRE - Penerapan kebijakan lima hari sekolah di SMK Negeri 2 Nabire, Papua Tengah, membawa perubahan signifikan terhadap pola kegiatan belajar mengajar (KBM). Melalui wawancara yang dilakukan siswa, terungkap bagaimana guru dan peserta didik beradaptasi dengan perubahan jam belajar tersebut.

Wakil Kepala Sekolah Bidang Kurikulum SMK Negeri 2 Nabire menjelaskan, sebelumnya proses pembelajaran dilaksanakan selama enam hari sekolah. Namun, berdasarkan kesepakatan Musyawarah Kerja Kepala Sekolah (MKKS), sistem belajar diubah menjadi lima hari, yakni dari Senin hingga Jumat.

“Setiap perubahan pasti memiliki tantangan dan hambatan yang tidak bisa dihindari. Yang terpenting adalah bagaimana kita menyesuaikan diri agar proses KBM tetap berjalan dengan baik,” ujarnya Senin (2/3/2026) kepada siswa saat diwawancarai.

Ia mengungkapkan, salah satu tantangan utama dalam penerapan lima hari sekolah adalah penyesuaian jam pulang peserta didik. Jika sebelumnya siswa pulang pada pukul 14.30 WIT, setelah perubahan jadwal, khususnya pada Selasa hingga Kamis, jam pulang menjadi pukul 15.10 WIT.

“Pada awalnya siswa mengalami kesulitan beradaptasi karena waktu belajar lebih panjang. Namun seiring berjalannya waktu, peserta didik mulai menyesuaikan diri dengan ritme belajar yang baru,” katanya.

Menurutnya, perubahan dari enam hari menjadi lima hari sekolah merupakan tantangan sekaligus peluang untuk meningkatkan kualitas pembelajaran.

Penyesuaian kurikulum dilakukan agar tujuan utama pendidikan, yakni peningkatan prestasi dan kesiapan masa depan siswa, tetap tercapai.

“Baik guru maupun peserta didik mau tidak mau harus mengikuti jadwal yang telah ditetapkan. Guru wajib melaksanakan pembelajaran sesuai jadwal, dan siswa harus siap belajar hingga sore hari,” jelasnya.

Ia juga menyinggung pelaksanaan program Makan Bergizi Gratis (MBG) di sekolah. Berdasarkan hasil pengamatan dan wawancara siswa, setelah makan siang sebagian peserta didik cenderung merasa lelah dan mengantuk sehingga kurang fokus mengikuti pelajaran.

“Ini menjadi tantangan tersendiri. Namun, dengan model pembelajaran yang tepat, siswa perlahan dapat kembali bersemangat dan menyesuaikan diri,” ujarnya.

Sementara itu, dari sisi kesiswaan, pengelolaan peserta didik pasca makan siang sangat bergantung pada peran guru di kelas. Setelah istirahat kedua dan makan siang pada pukul 11.45 hingga 12.45 WIT, kegiatan belajar kembali dilanjutkan.

“Keaktifan siswa setelah makan siang bergantung pada metode mengajar guru. Kreativitas guru sangat dibutuhkan agar siswa tetap fokus dan tidak merasa bosan,” ungkapnya.

Melalui penerapan lima hari sekolah ini, SMK Negeri 2 Nabire berharap seluruh warga sekolah, baik guru maupun peserta didik, dapat terus beradaptasi dan menjadikan perubahan sebagai langkah menuju peningkatan mutu dan prestasi pendidikan. (Tadius Degei/Juara 3 Lomba Karya Jurnalistik HPN 2026 PWI Papua Tengah)