Oleh: Habakuk Pigai, S.PtKEBERLANGSUNGAN hidup masyarakat Papua tak lepas dari keberadaan ternak babi. Ternak babi menjadi salah satu hewan yang dipandang penting bagi kehidupan masyarakat Papua dalam berbagai aspek. Bukan hanya sebagai hewan ternak yang kemudian dimanfaatkan dagingnya sebagai santapan. Bukan hanya dijadikan hewan ternak yang membantu ekonomi keluarga. Di atas itu semua, ternak babi memiliki peran yang sangat penting bagi masyarakat Papua, terutama dalam hal misitis, babi dianggap sebagai hewan yang sakral dan sering dilibatkan dalam berbagai upacara adat. Selain aspek ekonomi dan kepercayaan, masih banyak aspek-aspek dalam kehidupan masyarakat Papua lain yang bersinggungan dengan babi.Tulisan ini akan membahas secara singkat peran babi dalam kehidupan masyarakat Papua di pedalaman dan di perkotaan.PembahasanBabi bagi Masyarakat PedalamanSejak dahulu, keberadaan babi memang sudah menjadi hal yang lumrah bagi masyarakat Papua. Pada mulanya babi dibawa oleh pendatang-pendatang dari Eropa pada abad-abad kolonialisme. [1] Bahkan di beberapa daerah, babi menjadi satu-satunya hewan ternak yang dapat hidup karena Papua merupakan sebuah wilayah yang secara geografis merupakan pegunungan dan lembah-lembah yang menyebabkan babi dapat berkembang biak dengan baik.Di beberapa daerah pedalaman di Papua, babi masih dianggap sebagai hewan sakral yang dagingnya tidak boleh dimakan secara cuma-cuma dan tanpa alasan atau hanya sebagai pengenyang perut semata. Babi hanya dikonsumsi ketika ada sebuah upacara-upacara tertentu, misalnya Pesta Babi atau Upacara Bakar Batu. [2]Memotong dan memakan babi hanya dikaitkan dengan peristiwa-peristiwa penting seperti pembakaran mayat, perkawinan dan ritus inisiasi.Berkenaan dengan pentingnya peran babi dalam kehidupan adat di Papua, banyak penduduk di Papua, terutama yang tinggal di daerah pegunungan yang mendiami lembah bermata pencaharian sebagai peternak babi. Memelihara babi merupakan kegiatan yang sering dilakukan oleh masyarakat di Papua pedalaman atau oleh orang-orang asli Papua. Beternak babi kemudian menjadi salah satu mata pencaharian yang cukup digemari oleh masyarakat Papua. Memang jarang ada orang Papua yang beternak babi hanya untuk dimanfaatkan dagingnya.Hal ini terlihat dari pengaturan rumah Honai yang merupakan rumah adat orang Papua yang memiliki atap berbentuk bulat kerucut dari jerami. Menilik dari adanya rumah Honai, terlihat bahwa babi memiliki kedudukan yang penting bagi masyarakat Papua dan bahwa beternak babi menjadi mata pencaharian yang hampir utama. Rumah Honai terbagi dalam tiga tipe, yaitu bangunan untuk laki-laki (Honai), bangunan untuk perempuan (Ebei), dan satu tipe khusus untuk kandang babi (Wamai). [3]. Kandang babi menjadi hal yang penting pada rumah Honai, karena babi merupakan hewan ternak yang kerap menjadi peliharaaan masyarakat Papua pedalaman hingga sekarang.Sejak zaman dahulu, babi dianggap sebagai status simbol bagi si pemilik babi di masyarakat. Semakin banyak babi yang dimiliki seseorang atau sebuah kampung, semakin tinggi pula statusnya, semakin banyak yang dapat dihadiahkannya dan semakin besar pula pesta diselenggarakannya. Misalnya bagi masyarakat Dani, dari sudut pandang sosial, babi itu sangat penting. Jumlah babi yang dimiliki seseorang, ikut menentukan bagaimana dia dipandang oleh orang lain.Karena babi dianggap sebagai status simbol, maka masyarakat Papua kerap kali menjadikan babi sebagai alat tukar sebagai upaya untuk meningkatkan jumlah babi yang dimiliki dan mendongkrak status sosial. Misalnya, dalam masyarakat Dani, babi dipakai sebagai alat tukar jasa, prestasi, dan utang. Hingga kini pun babi masih tetap digunakan sebagai mas kawin yang diberikan kepada mempelai wanita menjelang pernikahan. Bahkan biasanya babi digunakan sebagai alat ukur wanita.Kornelis K.A dalam tulisannya yang berjudul Hukum Adat Mendominasi Hukum Positif di Papua menuturkan bahwa dalam hukum adat di Papua pun, masyarakat kerap menjadikan babi sebagai alat pembayaran denda atau ganti rugi. Hal ini tentu saja menunjukkan betapa babi memang dianggap sebagia hal yang penting di samping uang. Sedikit mengenai hukum adat Papua, masyarakat Papua kebanykan lebih suka menyelesaikan sebuah perkara secara hukum adat ketimbang secara hukum positif (perdata dan pidana).Dalam dunia seni, babi juga digunakan sebagai pewarna hitam pada kerajinan yang dibuat oleh para wanita dan pria Arfak. Beberapa perhiasan seperti gelang, anyaman tas dan busana bagi wanita dan pria memang memliki warna dominan yaitu, putih, hitam, merah, dan kuning. Warna hitam biasanya memang didapatkan dari asap lemak babi dan damar. Untuk itulah babi menjadi penting bagi dunia kerajinan atau seni bagi masyarakat Papua pula.A.E. Dumatubun dalam tulisannya,Kebudayaan, Kesehatan Orang Papua dalam Perspektif Antropologi, juga menyebutkan bahwa di dalam dunia medis secara tradisional, babi juga digunakan sebagai obat. Taring babi sering digunakan sebagai alat menging. (penulis adalah anggota DPRD Kabupaten Paniai, tinggal di Enarotali)