Esai : Abdul Munib

Ketika awal karier kewartawanan di sekitar tahun 1990 di Biro Jawa Pos Kediri, penulis selalu meliput ke Desa Ngepeh, Loceret Nganjuk. Disana terbaring tokoh kebangkitan nasional penggagas organisasi Budi Oetomo. Namanya dokter Soetomo. Setelah saya cermati dari ke tujuh tokoh utama kebangkitan nasional ini dari kalangan Pers. 

Yang paling tua dari mereka adalah Eduard Douwes Dekker. Ia lahir di Belanda tahun 1820, lima tahun sebelum Perang Diponegoro. Dia lah yang tahun 1860 menerbitkan buko novel berjudul Max Havelaar dengan memakai nama samaran Multatuli. Mengisahkan pedihnya penjajahan Kolonial Belanda di Lebak Banten, ketika dia jadi pegal disana.

Sering keliru dengan nama Ernest Douwes Dekker yang mendirikan organisasi partai politik pertama Indische Partij tahun 1912 bersama Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangun Koesoemo. Edward dan Ernest Keduanya sama-sama penulis. Ernest itu jurnalis handal di jamannya. 

1.Eruard

Buku Max Havelaar karya Eduard Douwes Dekker (1820–1887) adalah api kebangkitan yang dinyalakan. Eduard adalah penulis Belanda yang menggunakan nama pena Multatuli (Aku yang menderita banyak). Melalui novel satirnya membongkar kekejaman sistem tanam paksa di Hindia Belanda. Novel itu memicu gerakan anti-kolonial dan perubahan kebijakan Belanda.

Eduard Lahir di Amsterdam pada 2 Maret 1820, ia pergi ke Batavia pada usia 18 tahun (1839) dan menjabat sebagai pegawai pemerintah kolonial. 

Pengalamannya sebagai Asisten Residen di Lebak, Banten, banyak menyaksikan langsung penindasan yang dilakukan oleh bupati setempat yang didukung oleh pemerintah kolonial terhadap rakyat jelata. Hatinya berontak. Ia frustrasi karena aduannya mengenai ketidakadilan tidak ditindaklanjuti. Menyebabkan ia mengundurkan diri. Novel Max Havelaar itu ditukis sebagai bentuk kritik. 

Ia menulis Max Havelaar yang mengisahkan eksploitasi dan penderitaan rakyat akibat kolonialisme, feodalisme, dan korupsi. Dampaknya buku ini menjadi buku terlarang namun membangkitkan kesadaran etis di Belanda dan menginspirasi perjuangan kebangsaan di Indonesia. Beliau menghabiskan sisa hidupnya di Eropa dan meninggal di Ingelheim, Jerman, pada 19 Februari 1887.

2. Dokter Soetomo

Tokoh kebangkitan nasional utama yang berasal dari Nganjuk adalah dr. Soetomo (lahir dengan nama Soebroto), pendiri organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Beliau lahir di Desa Ngepeh, Kecamatan Loceret, Kabupaten Nganjuk pada 30 Juli 1888 dan diakui sebagai salah satu pahlawan perintis pergerakan nasional Indonesia.

Soetomo lahir Desa Ngepeh, Loceret, Nganjuk, 30 Juli 1888. Ia pendiri Budi Utomo (organisasi modern pertama di Indonesia) bersama rekan-rekan STOVIA. Lahir dari keluarga priyayi, menempuh pendidikan dokter di STOVIA, Jakarta. Ia mendapat julukan Bapak Pergerakan Indonesia.Wafat tanggal 30 Mei 1938 dimakamkan di Desa Ngepeh. Ia tak sempat melihat Indonesia merdeka. 

3. Dokter Wahidin

Lebih tua dari Dokter Soetomo, Dokter Wahidin Sudirohusodo lahir 7 Januari tahun 1852 dan wafat 26 Mei tahun 1917. Wahidin adalah seorang dokter sekaligus reformis pendidikan Hindia Belanda. Ia bersama Dokter Soetomo merupakan penggagas utama lahirnya organisasi Budi Utomo pada 1908, yang dikenal luas sebagai pelopor Kebangkitan Nasional Indonesia. 

Wahidin Soedirohoesodo. Lahir di Mlati, Sleman, Yogyakarta. Mendapat gelar Pahlawan Nasional Indonesia (ditetapkan 1973)

Latar belakang dan pendidika Wahidin berasal dari keluarga keturunan bangsawan dan beruntung bisa mengenyam pendidikan di masa kolonial. Ia menempuh studi di Europeesche Lagere School (ELS) dan melanjutkan pendidikannya di sekolah kedokteran Jawa, School tot Opleiding van Inlandsche Artsen (STOVIA) di Batavia.

Kiprah dan Perjuangan Sebagai seorang dokter, Wahidin dikenal sangat dermawan. Ia sering memberikan pelayanan kesehatan secara cuma-cuma atau dengan biaya murah kepada rakyat jelata yang kurang mampu.

Selain di bidang medis, perjuangan utamanya berfokus pada pendidikan dan kesadaran kebangsaan. Pendiri Dana Pelajar (Study Fonds): Ia berkeliling Jawa mengumpulkan dana untuk membantu anak-anak pribumi yang cerdas namun tidak mampu secara finansial agar bisa bersekolah.

Ia juga Tokoh Pers. Ia memimpin surat kabar Retno Dumilah. Menjadikannya sebagai corong untuk menyebarkan propaganda anti-penjajahan dan semangat nasionalisme. Ikut menggagas Budi Utomo. Saat melakukan kampanye pendidikan, ia bertemu dengan para pelajar STOVIA di Batavia. Ide-ide pembaharuan yang ia bawa menjadi inspirasi utama berdirinya organisasi Budi Utomo pada 20 Mei 1908. Sebagai tonggak pergerakan nasional di Indonesia. 

4.Kihajar Dewantara

Raden Mas Suwardi Suryaningrat (1889-1959), yang kemudian dikenal sebagai Ki Hajar Dewantara, juga tokoh penting kebangkitan nasional. 

Dia juga seorang jurnalis, dan Bapak Pendidikan Nasional Indonesia. Ia dikenal melalui kiprahnya di Indische Partij. Ia juga mendirikan Taman Siswa, pencetus semboyan Tut Wuri Handayani. 

Ki Hajar lahir 2 Mei 1889 di Yogyakarta dari keluarga bangsawan Pakualaman. Tapi ia tak memakai gelar kebangsawanannya. Pada usia 40 tahun masuk pergerakan untuk lebih dekat dengan rakyat. Ki Hajar disebut tokoh Tiga Serangkai bersama Ernest Douwes Dekker dan Tjipto Mangoenkoesoemo. Mendirikan Indische Partij pada 1912, sebagai partai politik pertama yang memperjuangkan kemerdekaan Indonesia.

Kritik Ki Hajar terkenal tajam dengan tulisannya. Salah satunya yang paling fenomenal adalah "Als ik eens Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda). Ditulis pada 1913, menyindir perayaan 100 tahun kemerdekaan Belanda di tanah jajahan.

Setelah diasingkan ke Belanda, ia kembali dan mendirikan Lembaga Pendidikan Taman Siswa pada 1922 untuk memberikan kesempatan pendidikan bagi rakyat pribumi. Atas jasanya, hari kelahirannya, 2 Mei, ditetapkan sebagai Hari Pendidikan Nasional. 

Ki Hajar adalah Jurnalis aktif dan kritis pada masa kolonial Belanda. Ia bekerja di berbagai surat kabar, antara lain Sediotomo (Surat kabar bahasa Jawa, Yogyakarta), Midden Java (Surat kabar bahasa Belanda di Yogyakarta. De Expres (Surat kabar harian yang dipimpin oleh Ernest Douwes Dekker), Oetoesan Hindia, Kaoem Moeda, Tjahaja Timoer, Poesara S.I. Soerabaya.

Tulisan-tulisannya dikenal sangat tajam, komunikatif, dan bernada antikolonial, yang membuatnya menjadi penulis handal pada masanya. Salah satu tulisannya yang paling terkenal dan menyebabkan ia diasingkan adalah "Als ik een Nederlander was" (Seandainya Aku Seorang Belanda) yang dimuat dalam surat kabar De Expres. 

5.Ernest

Ernest Douwes Dekker termasuk dalam Tiga Serangkai bersama i Hajar Dewantara dan Cipto Mangunkusumo. Mereka berjuang melawan kolonialisme melalui jurnalistik kritis. Ernest sempat menjabat menteri di era Soekarno. 

Ernest lahir di Pasuruan pada 8 Oktober 1879. Meski berdarah campuran (Indo), ia menolak diskriminasi Belanda terhadap pribumi dan berpihak pada perjuangan kemerdekaan Indonesia.

Pada 25 Desember 1912, ia mendirikan Indische Partij, partai politik pertama yang secara terang-terangan menuntut kemerdekaan Indonesia dengan semboyan "Indie untuk Indie".

Perjuangan melalui Pers dijalankan berdasarkan aktifitasnya sebagai jurnalis. Ernest mendirikan surat kabar De Expres untuk membongkar kekejaman kolonial Belanda.Pengasingan: Akibat tulisannya yang kritis, ia berkali-kali ditangkap dan diasingkan oleh Belanda, bahkan pernah dibuang ke Suriname pada masa Perang Dunia II. 

Stelah kemerdekaan, ia mengganti namanya menjadi Danudirja Setiabudi. Pernah menjabat sebagai Menteri Negara (1946), dan diangkat sebagai Pahlawan Nasional pada 1961.

Ernest Douwes Dekker sering disamakan dengan Eduard Douwes Dekker (penulis Max Havelaar dengan nama pena Multatuli). Keduanya berbeda generasi. Eduard adalah paman buyut dari Ernest, namun keduanya sama-sama pejuang kemanusiaan yang menentang penjajahan Belanda.. 

6.Dokter Tjipto 

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo (1886–1943) adalah tokoh pergerakan kemerdekaan Indonesia yang vokal, berani, dan antifasis, terkenal sebagai bagian dari "Tiga Serangkai" bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara. Ia dokter yang jujur. Aktif melawan kolonialisme melalui [Indische Partij] dan tulisan kritis, yang mengakibatkan pengasingan oleh Belanda, namun tetap berjuang hingga akhir hayatnya.

Dr. Tjipto Mangoenkoesoemo lahir di Jepara, 4 Maret 1886. Tjipto menempuh pendidikan di STOVIA dan dikenal sebagai murid berbakat. Sebagai dokter, ia dikenal humanis, sering memberikan pengobatan gratis, dan berjasa besar menanggulangi wabah pes di Malang pada 1910. 

Awalnya Tjipto aktif di Budi Utomo,kemudian keluar karena ingin gerakan yang lebih radikal dan demokratis. Ia mendirikan Indische Partij pada 1912 bersama Douwes Dekker dan Ki Hajar Dewantara untuk memperjuangkan kemerdekaan melalui nasionalisme Hindia.

Karena tulisan-tulisan tajamnya yang mengkritik pemerintahan Hindia Belanda, ia dianggap berbahaya dan diasingkan. Tjipto diasingkan ke Belanda (1913) dan Banda Neira (1927) karena aktivitas politiknya. Meskipun dalam pengasingan, ia tetap terhubung dengan perjuangan, seperti melalui surat-suratnya dengan Soetomo. Ia wafat pada 8 Maret 1943 dan dimakamkan di Ambarawa. Dua tahun sebelum Indonesia merdeka. 

Nama Tjipto Mangoenkoesoemo diabadikan sebagai Rumah Sakit Dr. Cipto Mangunkusumo (RSCM) di Jakarta.Tjipto dikenang tidak hanya sebagai pejuang yang menuntut "rawe-rawe rantas, malang-malang putung (segala yang merintangi akan dilibas), tetapi juga sebagai sosok yang berdedikasi tinggi bagi kesehatan rakyat kecil. 

7. Tirto Adi Soeryo

 Raden Mas Tirto Adhi Soerjo (1880–1918) adalah Bapak Pers Nasional dan tokoh kebangkitan nasional Indonesia yang mempelopori pers pribumi modern. Melalui surat kabar Medan Prijaji, ia berani mengkritik pemerintah kolonial Belanda, menjadikannya inspirasi tokoh Minke dalam tetralogi Pulau Buru karya Pramoedya Ananta Toer. Ia lahir di Blora, Jawa Tengah, dengan nama kecil Djokomono dari keluarga bangsawan. 

Tirto sempat menempuh pendidikan dokter di STOVIA, namun memilih keluar dan terjun ke dunia jurnalistik. Ia melepaskan gelar ningratnya untuk berbaur dengan rakyat biasa. Dia dikenal sebagai perintis Pers Pribumi. Mendirikan surat kabar Medan Prijaji (1907) di Bandung, yang menjadi koran pertama yang dikelola, diterbitkan, dan diedarkan oleh orang pribumi untuk kepentingan pribumi. 

Dengan alat perjuangannya melalui tulisannya, ia memperjuangkan hak-hak rakyat tertindas dan melawan feodalisme. Akibat kritik tajamnya, ia ditangkap dan diasingkan oleh Belanda ke Lampung, lalu wafat dalam kesunyian di Batavia pada 7 Desember 1918.

Pemerintah RI mengukuhkannya sebagai Bapak Pers Nasional pada 1973 dan menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional pada 2006.Tirto Adhi Soerjo menggunakan surat kabar tidak hanya untuk berita, tetapi sebagai alat advokasi untuk membela rakyat kecil melawan kesewenang-wenangan pemerintah kolonial. 

Selamat Hari Kebangkitan Nasional. Hampir semuanya dari tokoh-tokoh diatas mempejuangkan memperjuangkan nasionalis dengan tulisan, melalui Novel dan Pers. 

Esais adalah Penanggung-Jawab Koran Harian Papuapos Nabire dan Papuapos TV