Angka Kematian Suku Mee Akibat Miras Terus Bertambah *Jhon Adii Desak Suku Mee Harus Sepakat Tutup Miras
NABIRE - Beberapa tahun terakhir ini genarasi emas mati usai mengkonsumsi miras terus terdengar di kuping khalak umum. Masih ingat di kolekt
NABIRE - Beberapa tahun terakhir ini genarasi emas mati usai mengkonsumsi miras terus terdengar di kuping khalak umum.
Masih ingat di kolektivitas ingatan kita bahwa tahun 2017 di Moanemani Kabupaten Dogiyai 3 orang mati usai konsumsi Minuman keras (Miras).
Kabar serupa di Waghete pada tahun 2018, 8 orang mati masal kerena konsumsi miras, pada tahun yang sama di Enagotadi 5 orang mati juga usai konsumsi miras, di Nabire hampir tiap tahun ditemukan jazatnya usai berpesta miras.
Ironisnya, usai pesta miras di Timika kembali menambah datar panjang kematian 11 pemuda suku mee j, pada tanggal 1 Juli 2020.
Kondisi ini mengajak sala seorang Intelektual Suku Mee, Yohanes Adii,S.Hut harus angkat bicara.
Dikatakan Jhon, karena berpesta miras kini tercatat puluhan jiwa harus melayang, dan semua rata-rata anak muda yang diharapkan oleh geraja dan orang tuanya sebagai figur.
Persoalan ini tidak bisa kita diam diri,dan cukupkan dengan mengucapkan berbelah sungkawa, namun suku mee terutama kepala-kepala suku yang ada ditanah Papua harus ambil sikap untuk tutup peredaran miras di wilayah adat meepago,tegas Jhon.
Untuk menuju kesana, Jhon sarankan, kepada semua putra/i suku Mee yang mengisi disegalah status di sturuktur sosial duduk merembuk bersama dengan masyarakat suku Mee untuk melahirkan kesepakatan bersama guna menutup peradaran miras di wilayah adat Meepago.
Jika tidak ditempuh langka ini, Jhon kwatirkan kematian genarasi emas suku mee akan terus terjadi dan jumlahnya pasti bertabah dalam tiap tahun bahkan tiap bulan.
Karena itu, Jhon kembali menegaskan Suku Mee harus serius sikapi dan ambil tindakan masal secara simultan tanpa terkecuali. (eby)
Bagikan artikel ini



