Anggota DPRD Nabire Kecewa di Siriwo
NABIRE – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire kecewa dengan kondisi Kantor Distrik Siriwo di KM 100 Jalan T
Bagikan
NABIRE – Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Nabire kecewa dengan kondisi
Kantor Distrik Siriwo di KM 100 Jalan Trans Papua. Karena, kondisi kantor
terbengkalai, tidak ada aktifitas di kantor dan halaman kantor penuh dengan
rumput, ibarat rumah yang ditinggalkan penghuni. Kelompok Anggota DPRD Nabire yang diketuai Germanus Agapa saat melaksanakan hearing ke Distrik
Siriwo, Kamis (22/2), mengatakan kecewa dengan kinerja Kepala Distrik bersama
staf di Siriwo. Sebab, ketika memasuki kantor distrik, ternyata di dalam kantor
penuh dengan kotoran, tidak pernah bersihkan kantor. Belum lagi halaman kantor
yang penuh dengan rerumputan. Anggota Dewan, Obed Senapa menilai kantor distrik bagaikan kandang ayam. Karena, kotoran
berserakan, dinding kantor penuh dengan laba-laba. Kondisi seperti ini
menunjukkan bahwa kepala distrik bersama staf tidak pernah buka kantor. Nada-nada kekecewaan diungkapkan juga anggota dewan lainnya seperti Germanus Agapa, Linus
Doo dan Marcy Kegou. Linus Doo mengatakan heran kepala distrik tidak pernah
berada di tempat dan tidak memperhatikan kondisi kantor. Padahal, dana
operasional yang dialokasi untuk Distrik Siriwo dalam tahun anggaran lalu
sebesar Rp4 milyar, melebihi operasional distrik lain. Tetapi kondisi kantor
seperti ini. Germanus Agapa menilai, Bupati Nabire sudah mempercayakan pejabat yang bersangkutan dengan
penempatan sebagai kepala distrik untuk promosi. Tetapi, kalau kenyataan seperti
ini, mau jadi apa, tidak jelas. Dewan kecewa kalau melihat kinerja seperti. Saat tiba di Kantor Distrik anggota dewan mempertanyakan realisasi dana kampung yang
dikucurkan dalam tahun anggaran 2017 lalu. Anggota dewan mempertanyakan
pengawasan dan koordinasi antara kepala distrik dengan 6 kepala kampung dan
Badan Musyawarah Kampung (Bamuskam). Staf bersama Sekretaris Kampung Unipo, Oktovianus Bunay yang menerima kehadiran
mengungkapkan selama ini tidak ada koordinasi antara kepala kampung dan kepala
distrik. Karena, kepala distrik jarang ke tempat tugas sementara kepala kampung
menyusun rap dan melaksanakan sendiri. Anggota dewan, Marcy Kegou mengatakan apabila terjadi temuan karena kegiatannya tidak sesuai
dengan peruntukkan dana, hati-hati bagi kepala kampug karena ini dana dari
APBN.(ans)
Bagikan artikel ini



