NABIRE - Penerimaan Sakramen Krisma bagi umat Kuasi Paroki Santo Yosep Nabire Barat sebanyak 37 Krismawan/Krismawati oleh Uskup Keuskupan Timika Mgr. Jhon Philip Saklil Pr, Sabtu (25/11) bertempat di Gereja Katolik Kuasi Paroki Santa Yosep Nabar.  Uskup Timika Jhon Philip membuka kata pengantar, tujuan penerimaan Sakramen Krisma kepada umat menyampaikan tujuan kehidupan kita maka itu pertayaannya, kalau kita menjadi Paroki apakah kamu semakin beriman, apakah kamu sebagai orang yang lebih aktif percaya kepada Tuhan ini tugas yang tidak muda. Dikatakan Uskup, hari ini bukan hanya meresmikan Paroki tetapi hari ini adalah kita mau berjanji kepada Tuhan apa yang kita harus buat sebagai orang percaya, sehingga kita senang sekali ada sejumlah orang yang menerima Sakramen Krisma. Untuk itu, kita awali dengan perayaan ini dengan mengatakan niat kita, rencana kita dan penerimaan Sakramen Krisma. Di kesempatan itu, Diakon Kuasi Paroki Santo Yosep Nabire Barat Frans Tekege dalam laporannya menyampaikan Bapak Uskup hari ini kami umat Katolik Kuasi Paroki Nabar mengantar warga kami sebanyak 37 orang yang ini menerima Sakramen Krisma, mereka telah disiapkan dengan membimbing para pemangku selama dua bulan dan yang lain kami, mereka adalah memang dapat menerima sakramen krisma. Sebagai kepenuhan insyatif anggota Kristus yang baik maka kami memohon dengan rendah hati dalam kesempatan ini Bapak Uskup menerima Sakramen Krisma kepada mereka. Terima kasih kepada semua parisipasi para pembina pada pelayan-pelayan dan pengajar dan telah ambil bagian dalam tugas pengajaran Bapak Uskup, terima kasih atas kesediaan dari kamu semua untuk dapat menerimakan Sakramen Krisma.  Kesempatan yang sama Uskup Jhon Philip telah pemberkatan para pelayanan Paroki yang baru selama tiga tahun, yakni 2017 hingga 2020 dan selanjutnya akan diganti oleh penggurus baru lagi, kesempatan itu juga tak lupa Uskup menyampaikan kepada pegawai-pegawai orang asli Papua yang tinggal di rumah kost dan kontrakan itu segera bangun rumah milik sendiri dan tinggal disitu saja seperti orang pendatang. “Orang pendatang yang tinggal di rumah kost wajar, karena mereka tidak ada tanah. Orang asli Papua yang tinggal di rumah kos dan kontrakan itu lucu dan aneh,” ujar Uskup. (modes)