ENAGOTADI - Satu juta perkolam ikan, wouw! Insentif yang sangat mengiurkan. Inilah cara Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa suntik atau motivasi ratusan petani budidaya kolam ikan air tawar di Kabupaten Paniai yang hadir dalam agenda tatap muka di Kampung Akai, Distrik Paniai Timur, Kamis (10/7/25) kemarin.

Suntikan Gubernur Meki, tak sekedar meningkatkan semangat dan kinerja para petani ikan. Namun memberikan keuntungan ekonomi. Selain itu berperan dalam mengatasi masalah gizi dan stunting.

“Satu juta per kolam. Jadi kalau 2 kolam berarti 2 juta, 10 kalom berarti 10 juta. Di negara ini, bantuan hanya berupa kartu, pupuk, dan lain-lain. Di Paniai dan Papua Tengah, pemerintah kasih uang cash ke petani. Ini supaya uang rakyat benar-benar dirasakan sampai ke bawah. Kita akan buat supaya masyarakat sejahtera,” tutur Meki disambut tepuk tangan  meriah.

Untuk meningatakan kesejahteraan petani budidaya ikan air tawar, Gubernur Meki meminta kepada pimpinan OPD terkait baik kabupaten maupun provinsi selalu siap, berkolaborasi dan bersinergi dalam realisasikan program tersebut.

“Tiga orang ini yang nanti urus ikan itu. Kalau ada tiga orang ini, semuanya beres di negeri ini. Yang merencanakan dan pelaksana teknis di lapangan, semuanya ada di sini. Jadi harus siap dari seluruh sisi,”ungkap Meki, sembari memperkenal para pimpinan OPD sekaligus mengajak tangkap ikan di kolam percontohan milik Pemkab Paniai.

Orang nomor satu di Papua Tengah ini adalah mantan Bupati Paniai, periode tahun 2018-2023. Ternyata program ini sudah berjalan sejak dia bupati kala itu. Tak terhenti, setelah menjadi Gubernur Papua Tengah, Meki kembali menaruh perhatiannya kepada petani budidaya ikan air tawar di Kabupaten Paniai.

Dari beberapa sumber terpercaya yang diperoleh dapur redaksi Papuapos Nabire, ternyata pada masa kepemimpinan Meki sebagai Bupati Paniai kala itu,  pernah memberikan bantuan berupa insentif sebesar Rp 7.500.000 kepada 232 petani ikan. Penyalurannya melalui rekening bank tiap petani, sekaligus memberikan kartu petani ikan.

Pantasan, Gubernur Meki tanya, “Ini mereka sudah punya kartu ikan ya ?” “iya,” jawab serentak ratusan petani ikan binaan Dinas Perikanan Kabupaten Paniai yang hadir dalam tatap muka tersebut.

Perhatian Gubernur Meki tidak hanya untuk masyarakat di Kabupaten Paniai. Namun merata di 8 kabupaten yang ada di Provinsi Papua Tengah. Misalnya, di Kabupaten Intan Jaya, Meki menaruh perhatinya untuk memberdayakan petani kopi, membuka akses jaringan listrik dan jaringan jalan.

“Kita buat di sini, kemarin di Intan Jaya kita sudah tanam kopi, kita akan menyalakan lampu 24 jam, jalan ini kita berdoa supaya tembus agar mereka (masyarakat, red) Intan Jaya juga menikmati pembangunan. Untuk itu jangan palang-palang, supaya semua jalan,” kata Meki.

Setiap pemimpin memiliki garis start yang berbeda-beda. Lantaran itu, Meki menyatakan, pada masa kepemimpinanya adalah kesempatan yang baik untuk rakyat jemput dan memanfaatkannya melalui program seperti intensif bagi petani ikan agar hidup berkecukupan dan sejahtera.

“Kali ini kalau kita tidak pakai baik, itu nanti seperti 10 tahun lalu (sebelum pemekaran Provinsi Papua Tengah, red). Kita dukung orang tapi tidak dapat apa-apa. Hari ini kita menikmati provinsi ini dengan baik. Tidak ada cara lain, petani ikan jaga ikan baru bisa dapat uang, bisa bangun rumah, bisa sekolahkan anak dan bisa sejahtera,” imbuh Meki.

Meki juga mengajak kepada para petani budidaya ikan untuk mendukung kepemimpinan Bupati Paniai agar program pemberdayaan ini bisa berjalan sesuai harapan bersama, hari ini dan masa yang akan datang.

“Dapat 100 ribu, 200 ribu dari ikan, berarti pemerintahan itu sukses. Jadi dukung pak bupati supaya semua jalan kedepan. Tuhan bilang, apa yang ada padamu itu harus kembangkan dengan baik,”ujar Meki melalui rekaman audio yang dikirim ke dapur redaksi Papuapos Nabire, Jumat (11/7/25).

Untuk program lanjutan dari program ini, Meki kembali memotivasi para petani ikan dengan gagasan penyelenggaraan Festival Ikan Air Tawar sebagai bentuk apresiasi terhadap petani ikan berprestasi.



“Coba kita buat festival ikan. Siapa yang bisa piara ikan besar-besar, juara satu kita kasih Rp 100 juta. Siapa yang tidak mau ! Sekarang ini kita punya otak ini main (harus berpikir kreatif, red). Tidak hanya bawa proposal, tapi bawa kolam, bawa ikan, bawa kopi, bawa kebun, bawa kandang. Itu baru uang keluar,” tandasnya.

Meki memutar kembali peribahasa Suku Mee yang sering disampaikan turun temurun sejak leluhur hingga kini kepada orang Mee. Agar selalu berkerja keras dalam memenuhi kebutuhan hidup.

“Kita punya budaya tidak penah ada minta-minta, di negeri ini tidak ada ! Saya mau ingatkan kembali, “edi kouko okaibado meyaa. Aki nai, aki tonaawi kai akida keitiyake too ewakiyaa. Artinya hujan itu datang sendiri. Tapi kalau anda mau makan, anda mau jadi orang kaya anda kerja baru bisa,”katanya.

Meki menegaskan, pimpinan pemerintah daerah (kepala daerah), hanya bisa topang masyarakatnya melalui kebijakan-kebijakan yang pro terhadap kebutuhan hakiki rakyat.

“Tidak bisa bupati, gubernur (kita) ini bantu. Kita ini hanya bisa memberikan kebijakan,”jelasnya.

Untuk memberikan dukungan dan insentif kepada petani ikan, Meki memerintahkan kepada Dinas Perikanan Kabupaten Paniai memastikan melalui sistem by name by address agar tepat sasaran. Sambungnya, pemberian intensif ini akan berkolaborasi antara Pemprov Papua Tengah dan Pemkab Paniai.

“Ibu kepala dinas atur supaya sistemnya by name by address. Kalau 1 kolam dapat 1 juta dari kabupaten berarti 1 juta dari gubernur, jadi 1 kolam dapat 2 juta,” akunya disambut tepuk tangan meriah. (you)