NABIRE - Warga Intan Jaya tinggalkan tanah tumpah darah bukan karena tidak punya apa, bukan pula karena lapar dan susah mencari nafkah di tanah lelulurnya.

Tetapi, warga Intan Jaya keluar ke daerah lain untuk mencari kedamaian dan ketenangan agar bebas mencari makan dan hidup seperti sesama manusia lainnya di bagian daerah lain.

Mewakili sesama warga di Intan Jaya,  seorang pemuda asal Intan Jaya di Nabire, Senin (8/3) menuturkan, kami bukan tidak punya rumah, kebun dan babi di kampung.

Kami juga punya kebun, rumah dan babi di kampung tetapi kami harus terpaksa meninggalkan semua harta milik disana hanya untuk mencari ketenangan, kedamaian.

Warga Intan Jaya terpaksa ke Nabire, Timika dan beberapa kabupaten lainnya di Papua hanya demi mencari kedamaian, mencari tempat yang nyaman.

Dalam kisahnya di depan Wakil Ketua Dewan Pimpinan Daerah (DPD) Partai Demokrat (PD) Papua, Ricky Ham Pagawak bersama ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) PD beberapa kabupaten di Provinsi Papua, saat penyerahan bantuan kemanusiaan dari DPD Partai Demokrat Papua di Halaman Gereja Paroki St Antonius Padwa, Bumi Wonorejo menuturkan, sebetulnya kami warga Intan Jaya tidak mengungsi karena perang atau bencana alam tetapi warga Intan Jaya keluar dari tanah leluhur dengan meninggalkan harta benda karena tidak ada ketenangan disana.

Suasana itu sudah terjadi sejak 2018 silam.

Perwakilan pengungsi Intan Jaya ini dengan nada sedih menambahkan, kami terpaksa keluar karena tidak bisa ke kebun untuk mencari makan, tidak bisa ke hutan untuk mencari kayu bakar, ke rumah tetangga saja tidak bisa, kami disuruh keluar dari rumah mereka.

Oleh sebab itu, kami mati banyak juga bukan karena dibunuh tetapi mati karena kelaparan sebab tidak bisa mencari makan secara bebas.

Salah seorang Kepala Suku dari Titigi, Intan Jaya, Kristian Mirib menuturkan warga Intan Jaya ke luar dan mengungsi ke daerah lain termasuk Nabire bukan karena disuruh mengungsi, keluar dari Intan Jaya oleh aparat, TNI tetapi masyarakat keluar sendiri karena ketakutan.

Mengungsi bukan juga karena desakan tetapi warga tidak sanggup menahan ketakutan.

  Ia menambahkan, negara punya tanggung jawab untuk melindungi warga, tetapi yang terjadi selama dua tahun terakhir ini, warga Intan Jaya hidup dan tinggal di dalam suasana ketakutan, tidak ada kenyamanan disana.

Akibat tidak adanya kenyaman di Intan Jaya, menurut catatan Tim Peduli Kemanusiaan Paroki St Antonius Padwa, Bumi Wonorejo, ada sebanyak 353 kepala keluarga (KK) dari Intan Jaya yang tersebar di 25 titik di kota dan sekitar kota Nabire.

Karena itu, menurut Diakon Belau dari Paroki St Antonius Padwa, pihaknya mengalami kesulitan untuk menampung pengungsi dari Intan Jaya.

Karena, sebesar dan sebanyak berapapun bantuan yang diberikan kepada pengungsi, tidak akan merasakan bantuan kecuali ditampung di satu dua lokasi bantuan berupa pangan bisa dinikmati bersama secara merata dibanding di bagi-bagi menurut titik.

   Kepala Suku Moni di Nabire, Soter Zonggonau meminta pemerintah pusat dan pemerintah provinsi agar memperhatikan masalah yang dihadapi masyarakat Intan Jaya secara serius.

Wakil Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua, Ricky Ham Pagawak usai penyerahan bantuan saat ditanya awak media mengatakan, partai besar karena rakyat.

Pimpinan daerah seperti bupati ada karena rakyat.

Karena itu, pemimpin daerah yang dipercayakan oleh rakyat harus memperhatikan rakyatnya, apalagi anak daerah.(ans)