NABIRE - Pelaksanaan upacara Taptu (Penetapan Waktu) dan pawai obor merupakan bagian yang tidak terpisahkan menjelang peringatan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia. Hal tersebut dalam upaya mengingat kembali perjuangan para pahlawan nasional dalam merebut kemerdekaan.  Kegiatan Taptu yang diwarnai dengan pawai obor ini juga sebagai salah satu cara untuk mengobarkan semangat para generasi muda untuk mengisi kemerdekaan ini dengan hal-hal yang positif.Pelaksanaan upacara Taptu yang digelar didepan Kediaman (pendopo) Bupati Kabupaten Nabire dengan Irup Kapolres Nabire, AKBP. Sonny M Nugroho. T, S.IK melalui penyalaan api obor yang diberikan kepada tiga orang dari perwakilan peserta pawai, Jumat (16/8).Tampak Bupati Kabupaten Nabire Isaias Douw, S.Sos. MAP,  Wakil Bupati Kabupaten Nabire, Amirullah Hasyim, S.IP.,MM, Dandim 1705/Paniai Letkol Inf. Jimmy Sitinjak, Sekda Kabupaten Nabire, Drs. I Wayan Mintaya serta para unsur pimpinan OPD lainnya ikut hadir dalam upacara Taptu tersebut. Pawai obor dalam rangka peringatan HUT Kemerdekaan ke-74 Republik Indonesia, diikuti oleh ratusan peserta yang berasal dari pasukan TNI/Polri, ASN atau pegawai di lingkungan Pemerintah Kabupaten Nabire, para pelajar serta masyarakat.Selain para peserta pawai obor yang mengikuti kegiatan tersebut, terlihat juga warga tumpah ruah memenuhi disisi trotoar di sepanjang jalan R.E. Marthadinata  yang ingin melihat jalannya Pawai Obor yang akan finish di Taman Gizi Oyehe. Upacara Taptu atau yang biasa dikenal dengan pawai obor, tak banyak dari masyarakat kita yang mengetahui asal muasal kata ‘Taptu’ ini dan sejarah terselenggaranya tradisi yang bernuansa patriotisme dengan kegiatan pawai obor yang diikuti oleh berbagai unsur, mulai dari Polri, TNI, Pejabat, Pegawai Negeri Sipil (PNS) maupun perusahaan, organisasi masyarakat, pelajar serta lantunan lagu perjuangan lewat tabuhan genderang dari marching band. Dari berbagai tulisan dan artikel mengenai tradisi taptu disebutkan bermula sekitar abad ke17, dimana ketika pukul 21.30, para penabuh genderang militer mulai berkeliling ke jalan-jalan, untuk memperingatkan para pemilik bar agar segera menutup keran minuman bir, disebabkan belum semua orang mempunyai jam sebagai penanda waktu.Dan pada masa itu penerangan sangat minim sekali dan tidak ada senter (sebuah alat listrik portabel yang merupakan sumber cahaya untuk menerangi dan dioperasikan dengan baterai), karena cahaya listrik mulai dimanfaatkan atau digunakan pada abad 19, sehingga cahaya obor merupakan alternatif penerangan untuk jalan maupun penerangan portabel, dan lentera untuk penerangan di dalam ruangan. Sehingga ronda atau para militer yang berkeliling memberi peringatan dengan tabuhan genderang dan menggunakan obor sebagai penerangan. Hal tersebut menjadi tanda agar para pemilik bar segera menutup keran bir atau tidak lagi melayani para serdadu. Sekaligus, penanda agar para prajurit atau serdadu yang sedang bersenang-senang di bar-bar yang ada, segera kembali ke barak masing-masing saat mendengar suara peringatan, dan melaksanakan apel malam pada pukul 22.00 sebelum istirahat. Dari rangkaian kegiatan taptu yang dilaksanakan di Indonesia sendiri, hanya tradisi pawai genderang dan pawai obor yang sebenarnya terserap, tentu saja tanpa maksud yang sama dengan militer Belanda. Karena jelas pada masa perjuangan, para pahlawan kita tidak berada di bar-bar untuk minum dan bersenang-senang, melainkan terus bergerilya, menyusun strategi dan menyimpan tenaga untuk terus mencapai kemerdekaan. Jika merujuk pada makna pawai genderang dan obor yang sering menjadi rangkaian tradisi kegiatan nasional yang ada di negara kita, kegiatan tersebut tak lain untuk membangkitkan kembali semangat perjuangan masyarakat, semangat Bhinneka Tunggal Ika, dan mengenang serta menghormati pengorbanan para pahlawan yang telah berjuang sehingga kita bisa merdeka dari penjajahan. Oleh karena itu setelah acara taptu atau pawai obor dengan tabuhan genderang marching band, dilanjutkan dengan renungan suci di makam para pahlawan yang telah berjasa besar terhadap kemerdekaan yang kini kita rasakan. (cad)