Umat Katolik Peringati 132 Tahun Masuknya Misi Katolik di Tanah Papua, Melalui Parade Rohani dan Keluarkan Rekomendasi

NABIRE - Umat Katolik di tanah Papua khususnya, umat Katolik dari empat Paroki di Nabire, Paroki KSK Meriam, Paroki Antonius Padua Wonorejo, Paroki KR Siriwini, Paroki St. Yosep Nabire Barat, sedekenat Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika di Nabire, memperingati momentum bersejarah bagi umat Katolik, 132 tahun masuknya Misi Katolik di tanah Papua melalui kegiatan Parade Rohani di Nabire.
Dalam perayaan 132 tahun masuknya Misi Katolik di Tanah Papua, tahun 2026 yang dikemas melalui parade rohani, diikuti sebagian umat dari 4 paroki bersama sejumlah Ormas Katolik, Pemuda Katolik, PMKRI, ICAKAP, POXPOIN, WKRI, ISKA, THS THM, OMK, dan Sekolah Minggu Sedekenat Teluk Cenderawasih di Nabire.
Pelaksanaan parade rohani ini secara resmi dibuka Pastor Dekan, Romo RP. Sudrianta, didampingi Romo Y.A. D.Mulyono, melalui doa pembukaan mulai star dari halaman Gereja Paroki KSK Meriam Nabire.
Perayaan parade Rohani ini bertemakan ‘Setia Pada Agama Tuhan Selamatkan Bumi Papua', terlihat sangat antusias dan penuh kegembiraan. Pelaksanaan parade rohani ini mengambil rute, lewat depan Kodim menuju Jalan mMerdeka, turun ke kota sampai di tugu depan Kantor Bupati Nabire, dilanjutkan menuju Bandara lama, belok kiri dan kembali finis di halaman Gereja KSK.
Kegiatan parade rohani merupakan salah satu bagian dari rangkaian kegiatan dalam rangka memeriahkan hari bersejarah bagi umat Katolik di tanah Papua. Di mana mengenang 132 tahun Misi Katolik masuk di tanah Papua, lewat tanah Fak Fak, Provinsi Papua Barat.
Di sela sela kegiatan itu, Pastor Dekan Teluk Cenderawasih, Keuskupan Timika, Romo R.P. Sudrianto, SJ, didampingi Romo Yohanes Adrianto Dwi Mulyono, Ketua Komda Pemuda Katolik, Tino Mote, Ketua Kerawam, Marsel Gobai, Ketua Kategorial Romo Sundrianta mengatakan, pembawa iman Katolik di tanah Papua, Corneles Johanes Lecco Armandville.
Ia tiba di salah satu kampung di Fak Fak, Kampung Kuru pada 22 Mei 1894. Ia disambut warga lokal beragama Islam warga di Kampung Kuru, sudah lama ada di Fak Fak sejak abad ke-16 yang lalu.
Romo Sudrianta juga mengajak, umat Katolik merenungkan perkembangan sejarah iman Katolik dengan penuh toleransi.

Perkembangan Iman katolik, begitu Panjang dan lama di tanah Papua. Tidak hanya bawah iman katoliknya saja tetapi bawah dengan keadilan melalui pelayanan pendidikan, kesehatan dan pelayanan lainnya.
“Dalam perkembangan sejarah Katolik, Iman Katolik sejajar dengan pelayanan pendidikan, kesehatan, ekonomi dan lainnya di atas tanah Papua. Iman katolik dengan pelayanan pendidikan, kesehatan, satu ke satuan. Keduanya sejajar keiring perkembangan misi Katolik di atas tanah Papua,” katanya.
Romo juga mengajak, umat Katolik tetap terus terjaga toleransi sesama umat dari agama lainnya di tanah Papua dan mengeluarkan beberapa rekomendasi yang disampaikan tentang penetapan 22 Mei sebagai hari libur lokal di tanah Papua. (hbb)
Bagikan artikel ini



