NABIRE – Gempa bumi berkekuatan 6,6 magnitudo mengguncang Kabupaten Nabire, Papua Tengah, pada Jumat (19/9/2025) pukul 03.19 WIT. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memastikan gempa tersebut dipicu oleh aktivitas tektonik di Sesar Anjak Weyland. Meski pusat gempa berada di darat dan tidak berpotensi tsunami, masyarakat diminta tetap waspada karena hingga kini tercatat lebih dari 169 gempa susulan, dengan 23 di antaranya dirasakan warga.

BMKG menegaskan, seperti dikatakan Qowiyalsa yang merupakan perwakilan BMKG, pihaknya hanya dapat mengeluarkan peringatan dini jika gempa berpotensi tsunami. Namun, dalam kasus gempa Nabire yang terjadi Jumat silam, peringatan dini tidak dikeluarkan karena pusat gempa berada di darat, sehingga tidak menimbulkan adanya potensi tsunami.

Selain itu, BMKG menekankan, Indonesia tidak memiliki sensor magnet sebagai alat deteksi sebelum terjadinya gempa. Sistem yang digunakan adalah jaringan seismograf yang mendeteksi gelombang gempa (gelombang primer dan gelombang sekunder), sehingga analisis cepat dapat dilakukan.

“Alat kami merekam gelombang primer lebih dulu sebelum gelombang sekunder dirasakan manusia. Dari data ini, kami pastikan gempa Nabire 6,6 M tidak memicu tsunami,” jelas petugas BMKG.

Selain itu, jaringan sensor di Yapen, Sorong, dan wilayah lain di Papua terus mendukung pemantauan aktivitas seismik agar informasi cepat tersampaikan kepada masyarakat.

Menurut BMKG, penanggulangan bencana bukan hanya tugas pemerintah, melainkan juga masyarakat. Pemerintah daerah diimbau memperkuat infrastruktur, menyediakan posko evakuasi, serta memastikan jalur evakuasi jelas. Sementara itu, warga diminta membekali diri dengan pengetahuan dasar menghadapi gempa.

“Keselamatan bukan hanya urusan BMKG atau pemerintah, tetapi tanggung jawab semua pihak,” tegas Qowiyalsa selaku perwakilan BMKG, saat diwawancarai siswa SMA Negeri 1 Nabire.

BMKG menyampaikan bahwa program edukasi mitigasi bencana sedang direncanakan berupa Sekolah Lapang Gempa (SLG) yang ditujukan kepada masyarakat. agar masyarakat memahami langkah yang harus dilakukan sebelum, sesaat, dan setelah gempa.

Pra bencana, mengenali titik kumpul, tidak menaruh benda berat di tempat tinggi, serta mempelajari jalur evakuasi. saat bencana, menjauhi kaca, melindungi kepala, dan segera keluar setelah guncangan mereda. Pasca bencana, menuju lapangan terbuka atau posko aman, memeriksa kondisi sekitar, serta mengikuti informasi resmi BMKG dan BPBD.

Selain itu, tuturnya, BMKG bersama BPBD telah menyiapkan titik evakuasi di Nabire. Warga pesisir diminta bergerak menuju tempat sejauh 1–2 kilometer jika gempa besar terjadi dan berpotensi tsunami. Sementara itu, masyarakat di sekitar tebing atau lereng diminta menghindari area rawan longsor.

Papua, termasuk Nabire, merupakan wilayah dengan aktivitas seismik tinggi. Karena itu, BMKG menekankan pentingnya kewaspadaan tanpa menimbulkan kepanikan, serta edukasi, kesiapsiagaan, dan disiplin mengikuti informasi resmi yang diharapkan mampu untuk mengurangi risiko adanya korban jiwa.

“Bencana tidak bisa dihindari, tetapi dampaknya bisa diminimalisir jika kita semua siap,” pungkasnya.(pelajar SMAN 1 Nabire)