Terapkan MBG, Pemda Siap Gandeng Emak-emak Dogiyai
DOGIYAI - Pemerintah Kabupaten Dogiyai dibawa kepemimpinan Bupati Yudas Tebai, S.Pd.,M.Si, dan Wakil Bupati Yuliten Anouw, SE, berencana gandeng Emak-emak (Mama-mama) Dogiyai untuk menyediakan Makan Bergizi Geratis (MBG) untuk anak-anak sekolah.

DOGIYAI - Pemerintah Kabupaten Dogiyai dibawa kepemimpinan Bupati Yudas Tebai, S.Pd.,M.Si, dan Wakil Bupati Yuliten Anouw, SE, berencana gandeng Emak-emak (Mama-mama) Dogiyai untuk menyediakan Makan Bergizi Geratis (MBG) untuk anak-anak sekolah.
Menurut Bupati Yudas, keterampilan mama-mama dalam menyajikan makanan bergizi tidak diragukan, karena mama-mama memiliki segudang pengalaman.
“Saya rasa, program MBG sebaiknya dikelola oleh mama-mama Dogiyai, seperti Wanita Katolik dan kelompok ibu-ibu di Dogiyai, karena mereka memiliki pengalaman dalam mengolah makanan,” tutur Bupati Yudas kepada awak media di Nabire, Sabtu (8/03/25) pekan lalu.
Dengan demikian mama-mama di wilayah masing-masing proaktif menyediakan makan bergizi kepada anak-anaknya sendiri (siswa/siswi), sekaligus anak-anak akan merasakan sentuhan kasih sayang seorang mama.
“Sasarannya masing-masing wilayah mama-mama akan menyediakan dan memberikan makanan bergizi kepada anak-anak mereka, di situ anak-anak akan merasakan setuan kasih sayang seorang mama,” kata Yudas.
Dalam penerapan program MBG, Yudas mengatakan, berencana mengemas konsep berbasis pangan lokal. Konsep tersebut sekaligus meningkatkan ketahanan pangan lokal agar berefak pada peningkatan ekonomi rakyat.
“Iya jadi pemberian makan bergizi juga dikelola dari pangan lokal guna meningkatkan gizi siswa/siswi di masing-masing wilayah,” katanya.
Dikatakan Yudas, Gubernur Papua Tengah bersama pihaknya telah mengusulkan ke pemerintah pusat untuk memanfaatkan pangan lokal dalam pemberian MBG. Jika mendapat pertujuan pemerintah pusat pasti mama-mama akan menjadi agen-agen makan bergizi.
Yudas menambahkan, penghasil pangan lokal terbesar di Meeuwo (daerah suku Mee) adalah Kabupaten Dogiyai, sehingga ketersediaan pangan lokal untuk pemberian makanan bergizi relatif cukup, tinggal pemerintah memanfaatkannya.
“Dogiyai merupakan salah satu daerah penghasil pangan utama. Oleh karena itu, kami akan berkolaborasi agar makanan yang dikonsumsi para pelajar nantinya berasal dari bahan lokal yang kaya akan nutrisi,” akunya.
Pengalaman sebelumnya, dikatakan Yudas, program PMTAS yang penah diterapkan beberapa dekade lalu dengan tujuan serupa seperti MBG. Ketika program tersebut menggunakan pangan lokal, dampaknya sangat positif bagi siswa.
“Pada saat itu, PMTAS dikelola langsung oleh para guru di sekolah dan hasilnya sangat baik. Pengalaman tersebut bisa kita jadikan acuan dalam memasukkan bahan pangan lokal ke dalam program MBG ini,” jelas Yudas.
Yudas mengharapkan, untuk menyukseskan program MBG sangat bergantung pada partisifasi aktif semua pihak, seperti masyarakat, gereja dan berbagai para pihak terkait di program MBG ini. “Saya harap dalam penerapannya nanti kita semua bisa bersinergi dan bersama-sama menyukseskan program MBG berbasis pangan lokal di Dogiyai,” pinta Yudas.(you)
Bagikan artikel ini



