NABIRE - Kita memasuki masa pra paskah 2020 pada hari Rabu (26/2). Setiap tahun kita membuka masa pra paskah, ditandai dengan abu di dahi kita. Abu sebagai tanda atau simbol bahwa kita memasuki masa pantang dan puasa. Pantang adalah mengurangi kebiasaan dalam hidup seperti merokok, minuman alkohol, perjudian, dan lain-lain. Puasa berarti makan satu kali dalam sehari khusus hari Rabu Abu dan Jumat Agung. Demikian siaran pers dari Pastor Administrator Diosis Keuskupan Timika, Marthen Ekowaibi Kuayo, Pr, yang diterima media ini, Minggu (1/3) di ruang rapat pertemuan Paroki Santo Yosep Nabar.  Dikatakan, bunda gereja mengajak kita untuk berpantang dan puasa sebagai tanda solider dengan sesama tetapi juga mendekatkan diri kita kepada Tuhan pemberi kehidupan. Kita akan menjalani masa pra paskah tahun ini, selama lima minggu. Selama masa pra paskah kita akan merenungkan tema ”Membangun Ekonomi Yang Bermartabat”. Tema ini mau mengingatkan kepada kita bahwa ekonomi untuk melayani manusia. Manusia menjadi tolak ukur pengembangan ekonomi. Dengan pengertian bahwa segala bentuk pengembangan ekonomi jangan mengekpoitasi manusia dan alam. Selama pembangunan ekonomi semata dipandang sebagai ladang bisnis dalam kehidupan manusia maka martabat manusia tidak mendapat tempat dalam dunia ini.  Manusia tidak akan lihat sebagai pribadi. Manusia menjadi barang yang bisa diperjual belikan oleh siapun yang ingin memperoleh keuntungan berlebihan. Ketika manusia tidak dihargai martabatnya maka manusia adalah citra Allah,segambar dan serupa Allah (Kejadian 1:26), tidak mendapat tempat dalam kehidupan di dunia ini.  Gerakan Tungku Api kehidupan (Gertak)menjadi perhatian Keuskupan Timika beberapa tahun terakhir ini bersama Alm. Mgr. John Philip Gaiyabi Saklil Pr. Tungku Api adalah simbol dari kehidupan. Tungku Api merupakan lambang dari kehidupan yang mengarahkan manusia kepada “Membangun Ekonomi Yang Bermartabat.” Kesejahteraan. Kita berbicara tentang tungku api kehidupan berarti kita bicara tentang bagaimana manusia menjadi sejahtera. Untuk itu kehidupan manusia selalu dan senantiasa terarah kepada kesejahteraan. Mewujudkan hidup sejahtera menjadi arah dan tujuan hidup manusia. Kesejahteraan manusia akan terwujud dalam kerja, kerja merupakan pintu masuk untuk mencapai kesejahteraan.   Panggilan dan tanggung jawab hidup manusia sebagai makhluk individu dan makhluk sosial terungkap dan terwujud dalam kerja. Kerja sebagai penggungkapan diri individu dan sekaligus menjadi sarana yang efektif untuk melawan kemiskinan dan menuju kesejahteraan hidup (Amsal 10:4), serta mempraktekkan suatu belarasa yang dapat diwujudkan dengan berbagai hasil kerja dengan mereka yang berkekurangan (Efesus 4: 28). Kerja sebagai wujud keluhuran martabat manusia. Allah yang ditujuhkan untuk mencapai kepenuhan kesejahteraan bersama. Proses pergulatan hidup manusia untuk mengolah dan mengelolah hidup sebagai rahmat dan karunia Allah akan melahirkan daya hidup sebagai daya juang untuk hidup pantang menyerah. Daya hidup yang dimaksudkan kemandirian dan keberlanjutan kesejahteraan hidup. Kemandirian dan keberlanjutan hidup sejahtera terarah pada kesejahteraan hidup bersama. Kesejahteraan hidup bersama mencakup hubungan antar manusia dengan manusia,manusia dengan alam ciptaan  dan manusia dengan Allah. Kesejahteraan hidup bersama terbangun dalam keutuhan ciptaan.  Maka manusia pihak entah siapapun dia dan dari golongan manapun sebagai manusia ciptaan mengusahakan pembangunan ekonomi yang bermartabat,tanpa kita mengorbangkan salah satu pihak dari manusia alam dan Tuhan. Allah telah menyediahkan alam semesta untuk keberlangsungan hidup manusia.  Namun daerah yang Sumber Daya Alam yang kaya belum menjamin secara langsung bahwa masyarakatnya akan sejahtera.Golongan miskin tidak mendapat keuntungan dari sumber daya alam tersebut karena beberapa alasan: Pertama,adanya kemiskinan karena struktur yang menjadi penghalang. Kedua, kemiskinan terjadi karena keterbatasan ketrampilan dan skil atau pengetahuan yang dimiliki oleh orang yang bersangkutan. Ketiga, kemiskinan terjadi karena kemalasan yang berada pada diri manusia. Dalam masa prapaskah ini, ibu bapak,saudari-daudara yang dikasihi Tuhan,mari kita merefleksikan diri masing-masing dan mengenali diri kita lebih untuk melepaskan diri dari semua penghalang yang membuat kita hidup miskin dalam kehidupan kita. Kita diajak oleh bunda gereja untuk mengusahakan kesejahteraan bersama, sehingga baik pihak yang menciptakan kemiskinan struktural maupun pihak simiskin sendiri bersama-sama berjuang untuk keluar dari rantai kemiskinan yang merendahkan martabat manusia sebagai ciptaan Allah. (modes)