Sudah Habis Waktu Kejayaan Kompas dan Tempo Bersama Berakhirnya Barat
Esai : Abdul Munib*

Esai : Abdul Munib*
Di penghujung abad 20, di tahun 1990-an para wartawan idealis Amerika pada geilsah. Mereka merasa ada yang berubah pada jurnalistik yang dijalaninya. Ruang redaksi semakin dikalahkan oleh ruang modal. Yang mana sebelumnya etika usaha Pers tidak demikian. Diantara para wartawan idealis itu ada Bill Covach dan Tom Rosenstiel. Keduanya kemudian menulis buku Sembilan Elemen Jurnalisme.
Seperti berhotbah membawa pesan 'Jangan Mencuri' kepada audiens maling-maling yang sudah bangkotan. Isi khotbah itu masuk telinga kanan keluar telinga kiri. Masuk telinga kiri keluar telinga kanan. Bagai anjing menggonggong, dan kafilah bisnis media makin tak mau tahu. Monster industri Pers tak punya telinga untuk coba mendengar dan menyimak isi khotbah itu.
Mereka dua mengkhotbahkan kewajiban pertama jurnalisme adalah kebenaran. Dan sebagai orang Barat tentu yang dimaksud kebenaran adalah kebenaran material empiris yang terindera. Yang kedua soal loyalitas jurnalisme adalah kepada warga. Yang ketiga intisari jurnalisme adalah disiplin verifikasi. Yang keempat, harus menjaga independensi dari sumber berita. Yang kelima jurnalisme harus mengemban tugas pemantau kekuasaan. Yang keenam jurnalisme harus menyediakan forum publik untuk kritik maupun dukungan warga. Harus menarik dan relevan. Berita harus konfrehensif dan proporsional. Dan para wartawannya harus diberi kebebasan mengikuti hati nurani. Tapi usaha pers tak mempedulikannya. Persetan dengan isi khotbah itu semua. Yang penting gua cuan.
Sembilan pokok yang disebut sembilan elemen jurnalisme diatas dikukuhkan ditengah zaman yang makin egois dan doktren ekonomis. Berubahnya nuansa pers yang dirasakan mereka di penghujung abad 20 itu, diakibatkan adanya konglomerasi masuk media, globalisasi dan Internet.
Sedangkan di Indonesia tahun 1990-an media masih hidup tersengal-sengal karena tercekik hegemoni Orde Baru. Majalah Tempo, Editor, dan Tabloid Detik dibredel tahun 1994. Pemred Tempo Gunawan Mohamad melawan, ia keluar dari PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) dan mendirikan AJI (Aliansi Jurnalis Independen). Nafas dan semangat yang mereka ambil adalah khotbah Bill Covach diatas tadi itu. Genre ini kemudian diikuti wartawan muda dalam pelbagai organisasi pers dan menguasai quorum pada konstituen Dewan Pers. Dan dalam nuansa ini pula lah Dewan Pers kita bekerja. Mirip menara gading yang sok suci, ditengah realitanya yang amat jauh dan bertolak belakang.
Munculnya media dengan platform digital semakin memperparah apa yang dikhotbahkan para wartawan idealis Amerika di penghujung millenium kedua itu. Media ditelan disrupsi. Hanyut dibawa arus hukum ekonomi karena booming. Beritanya tak terkapitalisasi seperti saat di platform cetak. Iklan pun tak pernah datang lagi.
Kondisi inilah yang kemudian memunculkan Pers Anak Kambing. Pers yang untuk dapat tetap hidup harus mencari indukan untuk dapat tetap menyusu. Dengan ini Harkat dan Martabak Pers jatuh pada titik nadir yang belum pernah dialami sebelumnya. Dia tak bisa lagi jadi alat kontrol sosial yang sebenarnya, - sesuai tugas konstitusinya dalam UU nomor 40 tentang Pers.
Sedangkan hidup tanpa martabat adalah keadaan yang tak dapat diterima oleh siapapun yang berprinsip pantang hina. Yang malu dicap Pers Anak Kambing mereka berlari ke puncak Gunung Kesucian Palsu. Mereka menampakkan diri seperti manifestasi dari Khotbah Penghujung Abad 20 itu. Ada yang pura-pura tetap jadi Anjing Penggonggong dengan jurnalisme klaim sumber A1 ala Ban Bocor Halus. Jurnalisme tanpa sumber jelas alias anoname. Tapi saham mayoritasnya ada di tangan Soros. Lelaki tua perampok rupiah di peristiwa Krismon. Juga Harian Kompos yang tak berubah sejak dahulu sebagai agen Eropa. Jurnalistik anti-Basar Al-Assad Suriah. Belakangan gabung politik jadi tukang survei. Seperti Surya Paloh dan Hari Tanu gabung politik bikin Nasdem dan Perindo.
Gampang cerita, di era platform digital ini pers dalam maknanya yang dulu sudah tak bisa dijalankan lagi. Di dunia maya, satu situs media tak ubahnya majalah dinding yang bertebaran seperti bintang dilangit. Siapa mau peduli, tak ada yang mau peduli. Platform Google bukan untuk pers saja, tapi untuk semua pelanggan mesin pencari yang mampu membayar biaya hosting. Bisnis jasa cetak yang dulu menghidupi banyak karyawan cetak diminim semua sekali tegukan oleh Google, tanpa sisa sedikit pun.
Fenomena Rupert Murdoch, Raja Media di dunia menjadi impian banyak pengusaha media tanah air. Tempo misalnya dia diandaikan sebagai Majalah Mingguan TIMES nya Indonesia. Kompas dan SCIS berjalan selalu beriringan tak mungkin terpisah, seperti mata dan alisnya, sebagai satelit Barat di Indonesia yang mengkontrol pikiran para pemegang kekuasaan dan intelektual di Indonesia dari waktu ke waktu, terutama pada masa Orde Baru. Impian menjadi Rupert Murdoch nya Indonesia juga singgah pada kepala Surya Paloh, Dahlan Iskan dan Hari Tanusudibyo. Dan banyak lagi tokoh pers lainnya.
Tapi kini ditengah kecamuk dan pergeseran ihwal dunia, tercermin dalam perang Ukraina dan Palestina, model Unipolar yang dibawakan Barat sedikit lagi, sedang berlangsung atau telah terkalahkan oleh model dunia baru : Mulatipolar. Dimana bangsa-bangsa dan negara di dunia berdiri sejajar. Menghirup udara bebas anti-hegemoni. Persis seperti gambar rantai lambang sila kedua Pancasila yang dicanangkan Founding Father bangsa dan negara kita, sejak awal Indonesia merdeka.
Gejala atau simptom yang ditimbulkan oleh demo pro-Palestina di jantung negara-negara Barat, adalah tanda kalahnya media Barat dalam perang opini dan perang kognitif. Perang Gaza lima belas bulan merubah pikiran rakyat Barat, bahwa dunia tak bisa lagi dikelola dengan hegemoni dan kemunafikan seperti selama ini dijalankan. Narasi tak lagi hanya berada di pena jurnalis, melainkan rakyat sendiri langsung membuatnya sekarang ini. Ekonomi Amerika dan Inggris di pinggir jurang. Tak ada dana lagi untuk menggelontor media mengepung opini dengan algoritma, reting atau oplag.
Perilaku rezim AS yang hidup foya-foya, yang berjalan selama ini telah membuat utang dan devisit negara AS dalam keadaan kritis. Jurus pamungkas Trump perang tarif hanya seperti tikus kecil dihadapan Raksasa Ekonomi Baru : Tiongkok. Dunia dipelopori Rusia, Cina dan Iran tak takut lagi sama Preman Koboy AS.
Tiang tiang penyangga Unipolar berupa negara-negara angota NATO atau Uni Eropa, sekutu AS di Timur Tengah : Mesir, Yodania, UEA, Qatar, Bahrain, Rejim ISIS Jolani di Suriah. Juga proksin Barat di Indonesia dari kalangang organisasi mahasiswa, klan balawi, MUI, organisasi Think Tank, cukong konglomeratol dan oligarki, oknum jenderal-jenderal binaan organisasi intelejen Barat dan dari TNI maupun kepolisan, partai politik-partai politik bail langsung maupun tak langsung, media-media yang selalu mempublikasi Indonesia itu tak ada baiknya sama sekali. Tiang-tiang penyangga peradaban Barat itu pelan-pelan sedang roboh. Tak mampu lagi memikul beban peradaban Barat yang hakikatnya anti-kemanusiaan. Walhasil peradaban anti-Tuhan.
Lalu media kita apakah akan berujung di satu sudut sempit yang namanya Pers Anak Kambing ?Tentunya untuk menjawab pertanyaan ini butuh ilmu paripurna dan pamungkas yang dapat menyingkirkan sampah-sampah konspirasi dan proksi yang ditanam di benak pikiran warga Indonesia selama ini. Menghentikan debat kusir maha panjang. Untuk dapat melahirkan Karya Agung Pemikiran menjelang satu abad Sumpah Pemuda. Pers kita harus menemukan posisi paling strategis dalam perjalanan Bangsa selanjutnya.
Sebagaimana biasa sebuah esai harus ditutup, untuk kali ini penulis tak berkehendak untuk menutupnya. Biar saja terbuka dan kosong barangkali generasi berikut dapat mengkonstruksinya dengan Narasi Agung Pancasila yang berpondasi kokoh seiring datangnya Zaman Keadilan di seluruh muka bumi. Pikiran bangsa ini sudah tersesat terlalu jauh di kedalaman hutan belantara konspirasi yang menutupi kesadaran adimanusia. Potensi luar biasa yang dimiliki seorang makhluk berakal.
*Penulis adalah Penanggung Jawab Papuapos Nabire dan Lapuapos TV
Bagikan artikel ini



