NABIRE - Program Makan Bergizi Gratis (MBG) disosialisasika kepada siswa-siswi di Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire. Sosialisasi yang dilaksanakan di SMA Negeri (SMAN) 1 Nabire ini, salah satunya diadakan, lantaran adanya sejumlah penolakan dari masyarakat. 

Penolakan tersebut muncul karena kurangnya edukasi yang diberikan kepada guru, siswa-siswi dan orang tua siswa mengenai pelaksanaan program tersebut. Tujuannya agar masyarakat berpandangan bahwa program MBG merupakan hal yang positif. 

“Selama ini masyarakat berpandangan bahwa program MBG merupakan suatu hal yang negatif,” ujar seorang narasumber dari pihak pengelola di program MBG. Dengan adanya sosialisasi ini, masyarakat yang sebelumnya memiliki mindset negatif berubah pandangan ke hal-hal yang positif. 

Program MBG melakukan sosialisasi bukan hanya di Nabire saja, tetapi seluruh kabupaten yang ada di Papua Tengah khususnya.

Target dari sosialisasi ini adalah guru, siswa dan orang tua siswa serta masyarakat yang mencakupi keseluruhannya. Pihak yang bertanggung jawab dalam implementasi MBG berharap semua stakeholder baik yang berada dari lingkup Pemerintah Kabupaten (Pemkab) se-Papua Tengah dapat memahami program tersebut. Dimana, program ini bukan hanya Badan Gizi Nasional (BGN) saja yang menjalankan, tetapi berkolaborasi dengan semua pihak yang terkait. 

Pelaksanaan sosialisasi ini tidak berhenti sampai masyarakat berpandangan bahwa program MBG ini merupakan hal yang positif. “Respon yang diberikan masyarakat sejauh ini mendukung, tetapi adanya oknum-oknum yang kurang setuju,” katanya. 

Pada dasarnya, program MBG ini tidak ada paksaan. “Kami pada dasarnya tidak memaksakan semua siswa harus makan. Kalau memang mereka tidak mau makan, silakan. Yang penting nanti dibuat surat pernyataan kalau memang siswa tersebut tidak mau menerima MBG,” katanya. 

Adapun tanggapan dari pimpinan MBG mengenai rumor-rumor yang beredar seorang siswa yang keracunan MBG di Kalimantan Barat. “Kami juga menangapi terkait rumor-rumor adanya itu, bahasanya bukan keracunan ya, lebih tepatnya terkontaminasi. Kalau keracunan itu berarti seakan-akan kami mau meracuni siswa. Tapi ini ada indikasi terkontaminasi. Terkontaminasi ini apa? Disebabkan ada dapur yang beroperasional langsung dia masak. Jadi pada dasarnya masaknya itu bertahap mulai dari 1.000 kemudian setiap minggu naik supaya karyawannya juga tidak kaget saat masak,” katanya. 

Menurut sumber atau informasi yang didapat, tim dapur/karyawan maksimal satu dapur 50 karyawan. Yang terdiri dari kepala dapur, ahli gizi, akuntan dan 47 staf karyawan lainnya itu terbagi-bagi. Ada yang tim pemorsian, distribusi dan lain-lain.

Di Nabire ke depannya akan banyak dapur. “Jadi satu dapur kami petakkan radius jangkauannya itu maksimal berjarak 6 Km dengan jarak tempuh 30 menit,” ujar narasumber atau pengelolaan MBG di Nabire.

Berikut ini adalah 4 aspek fungsi MBG:

1. Aspek pendidikan, meningkatkan rasa semangat belajar siswa

2. Aspek ekonomi, meningkatkan percepatan ekonomi di daerah 

3. Aspek sosial, mengurangi nilai pengangguran di daerah 

4. Aspek kesehatan, mengurangi nilai stunting.(KELOMPOK 3: Laura, Hauraa, Relita, Obama, Febri, Charlie)