​NABIRE - Komoditas sirih telah menjelma menjadi salah satu tanaman perkebunan primadona yang memegang peranan penting dalam menggerakkan roda ekonomi masyarakat di Nabire, Papua. Budidaya sirih, yang merupakan bagian tak terpisahkan dari tradisi mengonsumsi sirih pinang di Papua, diusahakan secara luas oleh berbagai kalangan masyarakat, baik Orang Asli Papua (OAP) maupun non-OAP, sebagai sumber pendapatan keluarga yang menjanjikan.

​Lahan-lahan potensial untuk budidaya komoditas ini tersebar di beberapa distrik, dengan konsentrasi utama terlihat jelas di Distrik Teluk Kimi, khususnya di Kampung Kimi, daerah Pantai Gersen, dan juga di kawasan Kaladiri. Kawasan budidaya di sekitar Pantai Gersen diperkirakan mencapai luasan yang cukup signifikan, yakni hampir 50 hektar, menunjukkan keseriusan petani dalam mengelola komoditas ini.

​Meningkatnya minat masyarakat terhadap sirih sebagai komoditas unggulan disebabkan oleh tingginya tingkat konsumsi sirih pinang di Nabire. Kebutuhan akan sirih, yang menjadi "kudapan sehari-hari" dan bahkan digunakan dalam acara adat, sangat tinggi. Sayangnya, pasokan sirih lokal dari kebun-kebun yang ada di Nabire saat ini masih belum mampu menanggulangi permintaan pasar yang terus melonjak.

​Akibat defisit pasokan tersebut, sirih untuk konsumsi, termasuk pinang dan kapur, sebagian besar masih didatangkan dari luar Nabire, seperti dari Jayapura atau daerah lain. Hal ini mengindikasikan bahwa peluang pasar lokal masih terbuka sangat lebar bagi petani sirih di Nabire untuk meningkatkan hasil produksi mereka guna menekan ketergantungan pada pasokan dari luar.

​Petani sirih di Pantai Gersen, yang beberapa di antaranya berasal dari suku Buton, Sulawesi, telah menunjukkan kemahiran dalam budidaya sirih. Pengusahaan sirih di lokasi ini pun bukanlah hal baru; telah berlangsung kurang lebih selama 20 hingga 25 tahun, menandakan adanya pengalaman dan pengetahuan lokal yang terakumulasi secara turun-temurun.

​Kepala Bidang Perkebunan Ronald Wilison Manuaron, SP, menyatakan bahwa Pemerintah Daerah, melalui dinas Peternakan dan Perkebunan Kabupaten Nabire, berkomitmen untuk terus memberikan pendampingan intensif kepada para petani. Sebagai langkah konkret, direncanakan pendampingan ke depan dengan bantuan sarana produksi seperti, pupuk, obat-obatan, dan alat semprot guna lebih meningkatkan produksi sirih di Kabupaten Nabire. Pendampingan ini bertujuan untuk membantu petani dalam menghadapi potensi masalah budidaya, seperti serangan penyakit atau hama, demi menjaga kualitas dan kuantitas produksi.

Untuk bibit, petani sirih Nabire saat ini masih mengandalkan bibit lokal yang sudah ada dan teruji kualitasnya di daerah tersebut. Meskipun demikian, upaya pendampingan dan pengembangan harus terus dilakukan, mengingat budidaya sirih yang optimal membutuhkan penanganan khusus agar tanaman terhindar dari penyakit, terutama jamur yang mudah menyerang saat curah hujan tinggi.

​Mengenai aspek pemasaran, produk sirih yang dipanen oleh petani Nabire tidak hanya dipasarkan di wilayah Nabire saja. Hasil panen juga dikirim ke sejumlah kabupaten tetangga, termasuk Dogiyai, Paniai, Deiyai, dan Intan Jaya, menunjukkan jangkauan pasar yang luas dan permintaan yang merata di wilayah Papua Tengah.

​Tingginya permintaan dari daerah-daerah tersebut, didorong oleh konsumsi sirih pinang yang juga mengakar kuat dalam budaya masyarakat di wilayah pegunungan, seringkali menyebabkan produk sirih lokal di Nabire tidak mencukupi untuk memenuhi semua kebutuhan pasar yang ada.

​"Kadang-kadang hasil produk dari sirih yang diproduksi oleh petani kita di Nabire tidak mampu memenuhi permintaan," ungkap Ronald Wilison Manuaron, SP, saat diwawancarai Papuapos di Dinas Peternakan pada hari Jumat (04/12/2025), menggarisbawahi urgensi perluasan lahan dan peningkatan produktivitas bagi masa depan komoditas sirih di Nabire.(sam)