NABIRE - Demi mempertahankan dan Mengatasi stok bahan pangan atau lonjakan kenaikan harga pangan, terutama saat bencana di daerah harus (Wajib) memitigasi persoalan-persoalan yang terjadi secara global, sehingga di setiap daerah harus melakukan inventarisasi lahan pangan dan terupdate.

Ketua Umum Hipeta (Hidup Petani Nyata) Provinsi Papua Tengah, Kristovel Mara, A.Md., Tek, saat ditemui wartawan, pada Rabu (11/3/26) mengatakan dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, sebagai masyarakat khususnya masyarakat petani, itu memang sejak awal sudah berpikir tentang ketahanan pangan.

Persoalan-persoalan yang terjadi secara global, itu di setiap daerah harus melakukan inventarisasi lahan pangan dan terupdate terhadap ketersediaan lahan pangan, khusus untuk bidang pertanian, peternakan dan perikanan.

“Ini adalah bagian terpenting atau sektor yang harus dijaga dengan baik adalah ketahanan pangan baik lokal maupun skala nasional. Karena kita (petani) bertindak di sini sebagai penyedia bahan baku," ujarnya.

Lanjut Kris (panggilan akrabnya) dalam bertahan hidup ini, tidak bisa tunggu ketika situasi itu sudah kacau, baru mau mulai untuk melakukan satu kegiatan ketahanan pangan. Oleh sebab itu, sejak dini ketika suatu isu global terjadi harus lebih siap 10 langkah di depan.

Sebagai contoh, kasus waktu lalu seperti Covid 19 yang terjadi, tidak sadar dan kita lengah di situ, akhirnya untuk ketersediaan pangan yang kita butuhkan, selalu tunggu dari pusat, dari pemerintah di atas. Nah, hal ini tidak boleh terjadi lagi, tidak boleh terulang di masa yang akan datang.

Ditambahkannya, dengan isu global yang terjadi bahwa perang yang telah berlangsung ini Presiden RI sudah menyampaikan kita adalah negara non-blok dan selalu mencari solusi damai untuk bisa mendamaikan semua situasi, namun kita sadari bahwa cara kerja dunia inikan seperti itu dan kita tidak bisa prediksi. 

Sehingga, untuk bisa tetap survive, bertahan, kita harus melakukan langkah-langkah konkret untuk menyediakan pangan dan bertahan hidup pada waktu tertentu kita harus berpikir kritis dan bertindak cepat. Karena tidak bisa prediksi bahwa besok masih aman. “Kita Harus ada di pikiran paling negatif bahwa besok itu ada kesulitan. 

Jadi untuk menghadapi kesulitan tersebut kita harus menyiapkan agenda-agenda untuk mempertahankan kehidupan dengan ketahanan pangan yang cukup,” pungkasnya.(rob)