Seribu Lilin Pijarkan Harapan: Lawan Diskriminasi, Rangkul ODHA Papua Tengah

NABIRE - Malam itu, Kompleks RRI Nabire tak hanya terang, namun juga sarat makna. Ribuan titik cahaya berpendar indah, membentuk siluet tulisan ‘HIV AIDS’ sebagai simbol solidaritas dan empati yang membara. Sebanyak 1.000 lilin dinyalakan pada Selasa (08/12/2025) malam, menjadi deklarasi nyata pemerintah dan masyarakat Papua Tengah. Perjuangan melawan HIV/AIDS adalah perjuangan bersama.
Penyalaan seribu lilin ini menjadi puncak emosional dari rangkaian peringatan Hari AIDS Sedunia yang diinisiasi oleh Pemerintah Provinsi dan Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Provinsi Papua Tengah.
Kegiatan yang berlangsung sejak awal Desember ini secara resmi ditutup, meninggalkan pesan mendalam tentang kepedulian dan kebersamaan, sejalan dengan jadwal yang ditetapkan oleh Kementerian Pusat.
Mengangkat tema lokal yang menyentuh hati, ‘Sa Jaga Ko, Ko Jaga Sa, Mari Kitong Baku Jaga’, acara ini tak sekadar seremonial. Tema ini ajakan tulus bagi seluruh masyarakat Papua Tengah untuk meninggalkan sikap apatis, mengikis diskriminasi dan menghapus stigma buruk yang selama ini membelenggu para Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA). Ini adalah panggilan untuk bertindak dengan cinta dan pengertian.
Staf Ahli II Bidang Kemasyarakatan, SDM dan Pengembangan Otsus Provinsi Papua Tengah, Ukkas, S.Sos., M.K.P, mewakili gubernur menegaskan urgensi kolaborasi. Ia menjelaskan bahwa ritual seribu lilin dan doa bersama adalah refleksi bahwa perjuangan kesehatan ini tidak bisa dipikul sendiri.
"Kita harus melangkah bersama demi keselamatan dan masa depan masyarakat Papua Tengah," tegas Ukkas, seraya menambahkan, ini adalah perjuangan demi Papua Tengah yang sehat dan produktif.

Sementara itu, Ketua KPA Provinsi Papua Tengah, Freny Anouw, menyampaikan betapa pentingnya peneguhan mental bagi para ODHA. Acara malam itu, menurutnya, sebuah suntikan motivasi dan harapan. Tujuannya jelas, yakni memberikan kekuatan agar para penderita mampu melawan penyakit yang diderita, bahkan dengan harapan untuk ‘bertahan hidup lagi seribu tahun’.
Freny dengan nada tulus juga menekankan peran vital masyarakat dalam mendukung mereka. "Mereka juga bagian dari kita. Mari kita saling menguatkan dan mendoakan mereka. Jangan ada diskriminasi karena mereka hidup berdampingan dengan kita," katanya, menyerukan penerimaan dan dukungan sosial yang tanpa syarat.
Sebelum mencapai puncaknya di malam lilin, KPA Papua Tengah telah aktif bergerak melalui berbagai kegiatan. Mulai dari sosialisasi edukatif di berbagai lapisan masyarakat, kegiatan jalan santai yang merangkul kesehatan fisik hingga malam doa dan renungan yang telah berlangsung, semua dirancang untuk meningkatkan kesadaran dan menghapus mitos-mitos negatif seputar HIV/AIDS.
Penyalaan 1.000 lilin di Nabire pada malam ini sejatinya bukan hanya menerangi kegelapan, melainkan juga simbol dari 1.000 harapan baru yang disematkan bagi para ODHA. Ini adalah pesan kuat bahwa mereka tidak sendiri dan bahwa dukungan kemanusiaan di Papua Tengah jauh lebih terang dari stigma.
Freny Anouw berharap, kegiatan ini akan menjadi pengingat abadi bagi seluruh anak bangsa, khususnya di Papua Tengah, bahwa setiap nyawa adalah berharga. "Tidak ada satu pun anak bangsa yang boleh ditinggalkan dalam perjuangan melawan HIV-AIDS," tutupnya, menutup rangkaian acara dengan janji komitmen yang tak lekang oleh waktu.(amd)
Bagikan artikel ini



