Piala Dunia FIFA 2026 akan digelar kurang dari seminggu lagi, 11 Juni 2026 menjadi hari perdana laga dunia. Atmosfer memanas tidak hanya terjadi di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko sebagai negara penyelenggara Piala Dunia 2026. Namun di belahan bumi lain, di kota yang jaraknya sekitar 14-16an ribu kilometer dari Amerika Serikat, atmosfer di Kota Nabire pun sudah memanas. Dukung mendukung tim sudah menjadi pemandangan warga kota ini. Bermacam ragam ekspresi dukungan. Mendekorasi lokasi di sudut-sudut kota dengan nuansa negara jagoannya, bendera negara jagoannya dikibarkan di rumah-rumah warga, menghiasi kendaraan dengan bendera negara tim kebanggaannya, dan tidak sedikit warga yang nekat menghiasi kendaraannya dengan bendera super jumbo dan dibawa taputar keliling kota. Warga pengandara seperti sudah didogma, bendera tim kebanggaan peserta Piala Dunia 2026 seperti menjadi kelengkapan wajib saat berkendara. Tak hanya itu, baku gara antar pendukung baik di dunia nyata maupun di dunia maya, juga telah mengikis lapisan Ozon (pelindung) menjadikan atmosfer memanas.

Banyak ragam alasan yang dijadikan dasar untuk memutuskan dukungan. Ada yang mendukung atas dasar fanatisme negara, negara dengan banyak bintang, negara peraih juara dunia, dan beragam alasan lainnya.

Mesak Magai, Bupati Nabire dua periode ini mungkin punya sudut pandang berbeda untuk memilih jagoannya. Tidak hanya satu alasan untuk memilih jagoannya di Piala Dunia 2026 tahun ini. Setelah menimbang, mengingat, memutuskan; palu jatuh dan pilihannya adalah Senegal.

Keriting rambut hitam kulit, menjadi alasan Mesak Magai menjatuhkan pilihan hatinya pada Timnas Senegal pada perhelatan Piala Dunia 2026. Ternyata, Mesak Magai menjadikan Senegal menjadi jagoannya di laga Piala Dunia 2026 bukan hanya karena pilihan harga diri (kesamaan ras : keriting rambut hitam kulit). Karena dari 10 negara dari Zona Afrika, Confédération Africaine de Football (CAF), selain Senegal, masih ada negara bernama Ghana, Pantai Gading dan Republik Demokratik Kongo dengan identitas ras : keriting rambut hitam kulit. Kenapa harus Senegal, bukan negara Afrika lainnya yang juga beridentitas keriting rambut hitam kulit ?

Senegal sang "Gerbang Menuju Afrika" punya magnet yang mampu menyedot hati Mesak Magai menempel lengket. Bagi Mesak Magai, Timnas Senegal memiliki kekuatan medan magnet di atas rata-rata di permukaan bumi. Medan magnet yang mungkin lebih dari 0,5 Gauss itu ternyata adalah pemain bernomor punggung 10, sang penyerang Timnas Senegal, Sadio Mané.

“Ini soal harga diri, keriting rambut hitam kulit, dan itu ada di Senegal,” tukas Mesak Magai.

Tapi lebih dari itu, di dalam tim ada sosok yang sangat menginspirasi. Dia tidak hanya menjadi bintang di lapangan dengan kepiawaiannya dalam bermain bola. Namun sang bintang pun memancarkan sinarnya di kehidupan luar lapangan. Jago di dalam lapangan dan jago di luar lapangan, Itu Hebat.

“Dia (Sadio Mané) sebagai pemain bola dan sebagai pribadi yang mempunyai magnet yang bisa menarik hati siapa saja. Saya adalah salah satunya,” kata Mesak Magai.

Di tengah kehidupan mewah yang identik dengan pesepak bola elite, Mane memilih jalan berbeda. Ia mendedikasikan sebagian besar kekayaannya untuk membantu masyarakat dan membangun kampung halamannya, Bambaly, sebuah desa kecil di Senegal.

Berbagai aksi kemanusiaan telah diwujudkan Sadio Mané secara nyata. Salah satu yang paling menonjol adalah pembangunan rumah sakit modern di Bambaly dengan nilai investasi sekitar 445 ribu poundsterling atau setara Rp8 miliar. Kehadiran fasilitas kesehatan tersebut memberikan akses layanan medis yang lebih baik bagi warga yang sebelumnya harus menempuh perjalanan jauh untuk mendapatkan perawatan.

Di bidang pendidikan, Sadio Mané juga menunjukkan komitmen besar. Ia membangun sekolah senilai sekitar Rp3,9 miliar, menyediakan laptop bagi para pelajar, serta memberikan beasiswa sekitar Rp6 juta kepada siswa berprestasi. Tidak hanya itu, ia turut membangun lapangan sepak bola berstandar FIFA guna mendukung pengembangan bakat generasi muda di desanya.

Kepedulian Sadio Mané juga diwujudkan melalui bantuan langsung kepada masyarakat. Ia memberikan santunan bulanan sekitar Rp1 juta kepada setiap kepala keluarga di Bambaly untuk membantu memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari.

Selain sektor kesehatan dan pendidikan, Sadio Mané turut membiayai pembangunan berbagai fasilitas umum seperti stasiun pengisian bahan bakar (SPBU), kantor pos, serta penyediaan jaringan Wi-Fi gratis yang dapat diakses warga desa.

Dalam aspek keagamaan, Sadio Mané juga berkontribusi dengan membantu pembangunan masjid di kampung halamannya.

Melalui berbagai aksi sosial tersebut, Sadio Mane menunjukkan bahwa kesuksesan tidak hanya diukur dari jumlah trofi dan kekayaan yang dimiliki. Tetapi juga dari seberapa besar manfaat yang dapat diberikan kepada sesama. Sadio Mané menjadi contoh nyata bahwa seorang atlet dunia tetap dapat menjaga kesederhanaan dan tidak melupakan akar tempat ia berasal.

Sadio Mané sang pemain bola. Di luar lapangan melakukan banyak hal baik untuk banyak orang. Mesak Magai sang kepala daerah dua periode. Di luar kantor melakukan banyak hal untuk menghidupkan dunia sepakbola di Nabire. Spirit Sadio Mané untuk Nabire. Semoga banyak dari kita di Nabire akan bercermin pada antusiasme, moral, atau sikap mental seorang bernama Sadio Mané. (suroso)