Semua Pihak Diminta Lestarikan Bahan Baku Noken
NABIRE - Jika Noken telah diakui oleh salah satu Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu UNISCO, maka mulai saat ini semua pihak diminta untuk melestarikan bahan baku Noken, yakni Pohon Genemo atau Belinjo yang mulai dikembangkan dari pekarangan rumah, halaman sekolah, gereja dan juga kantor–kantor pemerintah.

NABIRE - Jika Noken telah diakui oleh salah satu Badan Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB), yaitu UNISCO, maka mulai saat ini semua pihak diminta untuk melestarikan bahan baku Noken, yakni Pohon Genemo atau Belinjo yang mulai dikembangkan dari pekarangan rumah, halaman sekolah, gereja dan juga kantor–kantor pemerintah.
Sebab, untuk saat ini pembuatan Noken yang dilakukan oleh Mama-mama Papua, sudah mulai sulit mendapatkan bahan baku seperti kulit Genemo yang harus berjam–jam mama-mama Papua meluangkan waktu yang cukup lama di hutan baru bisa menemukan bahan baku yang digunakan untuk membuat noken.
“Jika kita selamatkan pohon Genemo, berarti kita lestarikan budaya Noken dan asesoris laninya yang terbuat dari kulit kayu Genemo,” demikian dikatakan Titus Pekei selaku pencetus gagasan Noken ke Unesco kepada Papuapos Nabire, Senin (11/11) di Rumah Makan Sari Kuring Nabire.
Ditambahkan, peserta pelatihan Kesenian Noken Tardisional Cintai Negeri Lestarikan Budayaku, bukan sekedar mengikuti pelatihan ini, tetapi lebih penting ilmu yang didapat harus ditularkan kepada ibu-ibu lain dan juga generasi anak–anak Papua.
"Karena selaku pencetus Noken ke UNESCO, maka saya mengatakan 'Agia Dokii' yang berarti noken merupakan paru–paru hidup saya yang harus dijaga, dilestarikan dan dibudidaya dari generasi ke generasi tanpa harus pandang suku, agama dan budaya, jika kita ingin budaya Noken terus lestari," katanya.
Untuk itu, selaku pencetus Noken meminta kepada pihak pemerintah dalam hal ini Dinas Kehutanan dan Lingkungan Hidup Provinsi Papua Tengah dan seluruh kabupaten agar menjaga dan membudidaya pohon Genemo yang mulai dikembangkan dari pekarangan rumah, sekolah-sekolah, perkantoran dan juga tempat–tempat ibadah atau gereja yang masih ada tanah kosong.
Harapan lain disampaikan bahwa pelestarian dalam bentuk pelatihan yang dilaksanakan selama tiga hari oleh Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nabire tidak berhenti sampai di sini, tetapi harus terus dikembangkan. "Karena tujuan kita harus mengembalikan bentuk-bentuk kearifan lokal dengan menyebutkan nama Noken dengan bahasa ibu agar kita menyatuh dengan alam dimana kita berada atau tinggal," tandasnya.(des)
Bagikan artikel ini



