NABIRE — Pelatihan membatik yang diselenggarakan oleh kementerian Perindustrian ini melalui Dinas Perindustrian Kabupaten Nabire, Papua Tengah, menjadi angin segar bagi para pelaku Usaha Mikro Kecil dan Menengah (UMKM) lokal. Namun, euforia ilmu dan keterampilan baru ini terancam padam oleh kendala klasik, minimnya modal usaha dan sulitnya akses terhadap bahan baku.

Salah satu peserta sekaligus pengusaha batik di Nabire, Elisabeth Ayer, mengungkapkan dilema yang ia hadapi. Saat mengawali usaha dari modal awal Rp50 juta. Pelatihan memberikan bekal yang sangat berharga, tetapi perjalanan untuk memajukan usaha kini terhenti.

"Kendala yang saya hadapi yaitu mungkin dari modal yang kurang dan kurangnya perhatian dari pemerintah," ujar Elisabeth saat diwawancarai di aula Maranata pada Senin (13/10/2025). 

Menurutnya, pelatihan itu sendiri sudah sangat baik, tetapi sulit untuk melanjutkan produksi secara mandiri. Masalah utama lainnya adalah ketersediaan bahan baku membatik. 

Elisabeth menjelaskan bahwa bahan-bahan penting, seperti kain mori dan pewarna, harus didatangkan dari Jawa. Keterbatasan modal untuk pengadaan bahan baku dalam jumlah besar membuat usahanya terpaksa istirahat sementara.

Saat ini, ia harus mengerjakan pekerjaan lain untuk mengumpulkan modal baru agar dapat kembali berbelanja bahan baku batik. Meski demikian, Elisabeth tetap menyampaikan apresiasi kepada panitia dan instansi terkait yang telah menyelenggarakan kegiatan pelatihan membatik tersebut. Ia berharap peserta lain dapat mengambil manfaat maksimal dari materi teori dan praktik yang berlangsung selama empat hari tersebut.

"Ke depannya pemerintah sangat memperhatikan sehingga kegiatan yang kelanjutan dari membatik ini supaya memberikan perhatian untuk khususnya untuk batik, sehingga ke depan Batik ini di Kabupaten Nabire khususnya dan juga provinsinya sangat berkembang," tutupnya.(sam)