NABIRE – Sebagian besar tenaga paramedis seperti perawat, bidan, analis dan dokter spesialis yang bekerja di Badan Layanan Umum (BLU) Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Nabire masih berstatus kontrak, honor daerah, belum menjadi aparatur sipil negara. Oleh karena itu, jika mereka (para medis) ini keluar gara-gara tidak ada pendapatan, honor mereka tidak dibayar, BLU RSUD Nabire akan kekurangan tenaga para medis.Para medis yang berstatus kontrak, honor daerah ini, selama lima bulan terakhir ini, sejak Januari hingga Mei, tidak menerima upah berupa honor dari pemerintah daerah. Padahal mereka ini harus makan, membayar kos dan membiayai keluarga. Sebagian dari mereka ini sudah berkeluarga dan tinggal di kos, rumah sewa.Kepala Bagian Perawatan BLU RSUD Nabire, Silas Numbogre di sela-sela aksi tuntutan hak-hak dari para medis dan tenaga honorer BLU RSUD Nabire di depan Instalasi Gawat Darurat (IGD), Selasa (15/5) kepada insan media mengatakan tenaga honorer dan para medis melakukan aksi tuntutan hak-hak mereka berupa insentif bagi aparatur sipil negara (ASN), uang lauk pauk (ULP) dan honor karena selama lima bulan ini, sejak Januari hingga Mei 2018, tidak menerima honor, ULP dan instensif dari pemerintah daerah.Silas menambahkan, pelayanan di BLU RSUD ini bisa berjalan normal karena adanya tenaga kontrak baik itu perawat, bidan maupun dokter spesialis. Kalau mengharapkan pelayanan dari ASN saja tidak cukup. Karena, idealnya, untuk melayani pasein 12 orang di setiap kamar perawatan empat (4) orang, kalau dua orang saja tidak cukup.Tenaga kontrak dan honorer yang ada ini, kata Silas, mereka juga harus makan, bayar kost dan membiayai keluarga. Kalau sudah dapat hak mereka selama lima bulan, tunggakan mereka yang tanggulangi pasti bertambah besar. Sementara sumber pendapatan yang diharapkan, uang honornya tidak ada, tenaga kontrak dan honorer nanti makan apa dengan uang apa.Ia menilai apabila aksi para medis dan tenaga honorer ini tidak ditanggapi secepatnya, buntutnya kepada pelayanan di rumah sakit. Karena, para medis juga akan malas masuk kerja dan mempengaruhi pelayanan medis kepada masyarakat di daerah ini.Menurutnya, uang intensif merupakan hak setiap ASN sehingga ketika ASN di BLU RSUD ini tidak menerima haknya sehingga melakukan aksi. Demikian juga halnya dengan ULP yang diperhitungkan pemerintah kepada setiap ASN. Sedangkan untuk tenaga kontrak dan honorer, haknya untuk dibayarkan honor setiap bulan kepada setiap tenaga kontrak dan honorer. Aksi yang dilakukan di depan rumah sakit hanya untuk meminta kepada pemerintah daerah agar segera membayar hak-hak dari para medis dan tenaga honorer di BLU RSUD Nabire yang menunggak hingga lima bulan.Sementara itu, seorang perawat senior di BLU RSUD Nabire secara terpisah mengatakan, karyawan, tenaga kontrak dan honorer di RSUD melakukan aksi, kumpul di RSUD untuk menuntut pembayaran hak-hak ASN, tenaga kontrak dan honorer karena, ada selentingan yang didengar oleh karyawan bahwa di lingkungan pemerintah daerah, ada beberapa instansi yang sudah terima ULP sehingga karyawan di RSUD juga melakukan aksi untuk meminta perhatian pemerintah agar membayar intensif, ULP dan uang honor.Ia menambahkan, kalau pemerintah mau bayar, ya bayar untuk semua organisasi perangkat daerah dan instansi pemerintah, jangan separuh dapat dan separuh tidak dapat. Jika seandainya, karyawan RSUD tidak mendapat kabar bahwa ada instansi yang sudah menerima hak pegawai di luar gaji, tidak mungkin karyawan RSUD melakukan aksi seperti ini.Sekalipun karyawan BLU RSUD melakukan aksi, karyawan melaksanakan tugas pelayanan medis kepada masyarakat selama setengah hari kerja sebelum ada pertemuan antara karyawan dengan pemerintah daerah. (ans)