NABIRE - Rumah BUMN Nabire terus menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan Usaha Mikro, Kecil dan Menengah (UMKM) di wilayahnya, dengan fokus pada pengembangan dan pemasaran produk-produk unggulan dari mitra binaannya. Salah satu sektor yang menjadi perhatian utama adalah kopi, dimana para pelaku usaha kopi binaan Rumah BUMN Nabire aktif didukung untuk memperluas jangkauan pasar mereka.

Nining Sulastri Talantan, sekretaris Rumah BUMN Nabire menjelaskan, meskipun para mitra binaan kopi ini sudah sangat aktif, mereka tetap terdaftar dan terus menerima dukungan berkelanjutan dari Rumah BUMN. "Kami membantu penjualan mereka, termasuk pesanan-pesanan dari luar Nabire," ungkap Nining saat ditemui di kantornya, Selasa (24/06/2025).

Dukungan pemasaran ini salah satunya difasilitasi melalui pemanfaatan platform digital. "Kami di sini ada aplikasi rumah PLN, itu semua terkumpul usaha-usaha yang tergabung dalam rumah BUMN seluruh Indonesia," jelas Nining. Melalui portal ini, produk-produk kopi dari Nabire dapat diakses oleh calon pembeli di seluruh nusantara, membuka peluang pasar yang lebih luas.

Selain itu, Rumah BUMN Nabire juga aktif memanfaatkan media sosial sebagai sarana promosi. "Kita bantu jualan melalui online itu maupun portal PLN itu sendiri Rumah BUMN Nabire punya, kemudian di media sosial kita mengajak untuk karyawan aktifkan media sosial di mana pun grup-grup masukan ada penjualan online khususnya di dalam Nabire," ujarnya. 

Untuk penjualan ke luar daerah, Rumah BUMN Nabire tidak ragu untuk memberikan pelatihan kepada mitra binaan mereka dalam mengoptimalkan media sosial. 

"Kalau keluar sudah berapa kali pakai media sosial, kita panggil untuk menuntut kita punya mitra binaan untuk contoh aplikasi di Facebook maupun Shopee, kita pernah juga pernah mengajar seperti begitu," tutur Nining.

Meskipun demikian, ada kendala yang sering dihadapi untuk pengiriman ke luar Papua, terutama terkait biaya ongkos kirim yang cukup mahal. "Jadi kalau ada pemesanan silakan, hanya kadang-kadang untuk luar Papua tidak terlalu besar karena ongkos kirimnya terlalu mahal, itu terkendala dengan ongkos pengiriman," keluh Nining, menjelaskan tantangan dalam memperluas pasar kopi secara nasional.

Namun, kendala ini tidak berlaku untuk penjualan sebagai oleh-oleh. "Kecuali oleh-oleh, kalau ada kunjungan wisatawan atau kunjungan dinas-dinas sudah tahu rumah BUMN suka datang ke sini. Atau tamu-tamu kami dari luar daerah datang kita penjualan kami bantu," papar Nining, menunjukkan bahwa kunjungan langsung menjadi salah satu jalur penjualan yang efektif.

Khusus untuk penjualan kopi, pasar terbesar masih berada di wilayah Papua. "Kalau untuk kopi, seputaran Papua saja paling sering dari Jayapura," pungkas Nining, menegaskan potensi pasar lokal yang kuat untuk produk kopi dari Nabire. 

Ini menunjukkan bahwa meskipun ada aspirasi untuk ekspansi nasional, fokus pada penguatan pasar regional tetap menjadi prioritas.(sam)