RSUD Nabire Mendesak Pengadaan Mesin Insinerator Limbah Medis Memadai

NABIRE - Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kabupaten Nabire saat ini tengah menghadapi kendala serius terkait pengelolaan limbah medis. Pihak rumah sakit menyatakan sangat membutuhkan mesin insinerator baru yang ramah lingkungan dan memiliki kapasitas mumpuni.
Hal ini disebabkan oleh kerusakan pada mesin lama, sementara bantuan mesin baru yang diterima dianggap belum mampu memenuhi volume limbah yang dihasilkan setiap harinya.
Ketua Komite K3RS, Hesty Paula, S.Kep. Ns. MA, saat ditemui media ini di Kantor Humas RSUD Nabire, Senin (12/01/2026) menjelaskan fasilitas pembakaran limbah medis yang dimiliki rumah sakit sebenarnya sudah ada sejak tahun 2015.
Namun, seiring berjalannya waktu, mesin tersebut mengalami kerusakan total sehingga tidak lagi dapat dioperasikan. Meski telah mendapat bantuan mesin baru dari Pemerintah Provinsi Papua Tengah, spesifikasinya dinilai masih jauh dari standar kebutuhan rumah sakit.
Mesin insinerator bantuan yang baru saja dipasang bulan ini ternyata belum bisa dioperasikan secara maksimal karena kendala teknis. Hestiani mengungkapkan, mesin tersebut memiliki cerobong yang terlalu pendek dan daya bakar yang sangat terbatas. Kapasitas pembakarannya hanya mencapai 15 kilogram per hari, dan mirisnya, mesin tersebut tidak mampu menghancurkan limbah tajam seperti jarum suntik secara sempurna.
Kondisi ini menambah daftar panjang permasalahan limbah di RSUD Nabire, di mana pihak rumah sakit sempat tidak melakukan aktivitas pembakaran selama hampir satu tahun. Selama masa vakum tersebut, limbah medis hanya bisa dikumpulkan dan disimpan di ruang tertutup untuk menghindari risiko penularan penyakit atau pencemaran lingkungan, sembari menunggu solusi perbaikan alat.
Proses instalasi mesin baru pun sempat terkendala karena kerumitan teknis di lapangan. Pihak rumah sakit harus membongkar mesin lama terlebih dahulu dan membangun rumah mesin yang baru sebelum alat dari provinsi bisa dipasang. Sayangnya, setelah semua persiapan fisik selesai, kinerja mesin tidak sesuai dengan informasi awal yang menyebutkan kapasitas bakar mencapai 100 kilogram sekali operasional.
Fakta di lapangan menunjukkan ketimpangan yang besar antara kapasitas alat dan volume sampah medis. Dalam satu bulan, RSUD Nabire rata-rata menghasilkan sekitar 1.000 kilogram limbah medis. Jika mesin hanya mampu membakar 15 kilogram per hari dan membutuhkan waktu istirahat selama dua hari setelah digunakan, maka penumpukan limbah medis di lingkungan rumah sakit dipastikan akan terus terjadi dan sulit terurai.
Menyikapi situasi yang mengkhawatirkan ini, manajemen RSUD Nabire berencana segera melakukan koordinasi kembali dengan Pemerintah Provinsi Papua Tengah. Mereka berharap ada evaluasi mendalam terkait spesifikasi bantuan yang diberikan, agar mesin insinerator yang tersedia benar-benar memadai dan mampu menjamin keamanan serta kebersihan lingkungan rumah sakit dari paparan limbah infeksius. (amd)
Bagikan artikel ini


