NABIRE - Tanggal 28 November 2024 lalu terjadi musibah kebakaran, si jago merah menghanguskan 12 gedung milik SMP YPK Imanuel Nabire yang terletak di jantung Kota Nabire. Dari 12 gegung bangunan itu ada 5 bangunan Rombongan Belajar (Rombel) yang juga ikut terbakar dan rata dengan tanah. Tersisa 7 ruangan kelas yang masih utuh bangunannya dan saaat ini digunakan untuk proses Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) bagi peserta didik.

Keterbatasan rungan kelas mulai awal semester genap ini, kepala sekolah bersama dewan guru mengambil sikap menerapkan sistim KBM dua sesi. Dengan pembagian murid ada yang masuk pagi dan ada pula yang masuk siang.

“Proses KBM dengan sistim dua sesi akan berlaku hingga ada bangunan kelas baru,” kata Kepala Sekolah SMP YPK Imanuel Nabire, Linda Maro, S.Pd, Senin (13/1/25) di ruangan kerjanya.

Kata dia, kalau sudah ada bangun 5 kelas baru lagi, maka semua murid dipastikan akan masuk sekolah di pagi hari. Namun sepanjang belum ada tambahan bangunan kelas baru, sistim dua sesi tidak akan berubah dan semua guru harus siap melayani murid di pagi dan siang hari.

Lanjutnya, dengan keterbatasan ruangan kelas, proses pembelajaran dapat dikatakan sangat efektif. Karena para murid tidak lagi harus mencatat, tetapi guru telah menyiapkan modul pembelajaran. Gutinggal ru menjelaskan pelajaran kepada semua peserta didik di masing–masing kelas.

Sehingga waktu yang tadinya bisa 4 jam pelajaran, bisa dikurangi hingga dua 2 jam saja. Dengan harapan proses KBM bisa berjalan sesuai dengan kalender pendidikan.

“Karena dengan dukungan modul anak tidak lagi mencatat, tetapi tinggal guru memberikan penjelasan dari isi modul,” ujarnya. (des)