DEIYAI - Dalam seratus hari kerja Presiden Prabowo Subianto, mengeluarkan satu kebijakan baru, yaitu Makan Bergizi Gratis (MBG) bagi para pelajar mulai dari tingkat Taman Kanak-kanak (TK) sampai SLTA, di seluruh Indonesia, termasuk di Kabupaten Deiyai, Provinsi Papua Tengah.

Kebijakan baru tersebut, menuai banyak tanggapan dari para siswa dan juga komponen masyarakat, sehinggga sebagai bentuk penolakan kebijakan MBG, para siswa di Papua, khususnya para siswa di Deiyai melakukan aksi demo penolakan MBG di Waghete.

Ribuan siswa terdiri dari, siswa SD, SMP, SMA dan SMK yang ada di Deiyai, pada 26 Februari 2025, mulai pagi, berkumpul di lapangan sepak bola Thomas Adii di Waghete. Usai orasi sedikit, mulai star menuju halaman Kantor Bupati Deiyai di Tigido, Waghete, untuk melakukan aksi demo, dengan tujuan menolak dengan tegas terhadap program pemerintah pusat tersebut.

Para pendemo yang terdiri dari ribuan siswa itu, diterima langsung Pj Sekda Deiyai, Melianus Pakage, didampingi anggota DPRD, pejabat teras lainnya.

Di halaman Kantor Bupati Deiyai itu, para siswa langsung melakukan orasi secara bergantian dari keterwakilan siswa masing-masing jenjang pendidikan, sebagai aspirasi mereka penolakkan program MBG yang telah canangkan oleh pemerintah pusat.

Dalam orasinya, para siswa menyampaikan dengan tegas bahwa ‘MBG kami tolak, kalau pendidikan gratis kami terima’ dan sambil orasi, para siswa juga kumpul ubi dan sayur yang dibawa masing-masing siswa dari rumahnya, jadi tumpuhkan besar di halaman kantor bupati, depan para pejabat, sebagai bukti makanan bergisi alami, bukan makanan bergisi olahan pabrik.

Dalam aksinya para siswa menyampaikan, beberapa poin yang merupakan aspirasi, diantaranya, menolak dengan tegas program MBG dan menerima pendidikan gratis.

Kedua, pemerintah diminta menyediakan tenaga guru. Ketiga, pemerintah benahi fasilitas sekolah dan berapa poin lainnya yang terkait peningkatan kwalitas manusia dan juga perbaikan gisi anak melalui sekolah-sekolah, akan menjadi catatan penting bagi pemerintah kabupaten, provinsi dan pusat.

“Kami seratus persen tolak program MBG, kami mau pendidikan gratis. Kami mau tu pendidikan yang layak, dan soal makan ini, orang tua kami punya kebun, ternak dan melihat hal ini, ada dinas terkaitnya di daerah,” kata salah seorang orator, Damia D.

Biaya pendidikan itu digratiskan, dari TK sampai di SMA/SMK dan pemerintah sediakan fasilitas sekolah yang memadai sesuai kebutuhan di sekolah, juga pemerintah sediakan tenaga guru yang bisa aktif di sekolah, dan juga sediakan taman baca bagi siswa, bukan bicara makan.   

“Soal makan itu, orang tua kami juga mampu menghidupi keluarga dan jika ada dana berikan melalui dinas terkaitnya, bukan bikin di jalan-jalan,” tegasnya.

Beberapa poin yang menjadi aspirasi para siswa, diserahkan langsung kepada Pj Sekda, Melianus Pakage, dengan harapan dapat diteruskan ke pemerintah provinsi dan pusat. 

Usai menerima aspirasi para siswa, Pj. Sekda, Melianus menyampaikan, harapan para siswa yang telah disampaikan, telah terima dan akan diupayakan untuk diteruskan, karena program ini bukan program Pemerintah Kabupaten Deiyai, tetapi program pemerintah pusat.

“Kami tidak bisa ambil kesimpulan, Keputusan. Akan teruskan ke pemerintah atasan dan hal seperti ini perlu dirembuk dengan pejabat ditingkat atas,” ungkapnya.

Usai aksi demo di halaman kantor bupati, para siswa bubar dengan tertib, pulang ke rumahnya masing-masinng, bersama para guru yang mendampingi anak didiknya.

Sementara itu, salah seorang anggota DPRD Deiyai, Simon D menyampaikan, aspirasi para siswa, yang telah sampaikan ke pemerintah akan dikawal sesuai tugas dan fungsi Dewan. “Kami akan berupaya koordinasi ke eksekutif, berupaya teruskan melalui lembaga sebagai wakil rakyat juga,” ungkapnya.(hbb)