Program Kembara Perkuat Ekonomi Masyarakat Transmigrasi Muting
Tahap awal dimulai dengan FGD dan Pelatihan Tata Kelola Kelembagaan serta Literasi Keuangan Dasar yang berlangsung di Balai Kampung Mandekman, Minggu (20/9/2026).

MERAUKE — Upaya mendorong kemandirian ekonomi masyarakat di kawasan transmigrasi terus diperkuat. Di Kampung Mandekman, Distrik Ulilin, Kabupaten Merauke, Tim Ekspedisi Patriot (TEP) UGM PS014 menggulirkan Program “Kembara: Kelembagaan Masyarakat Berdaya” sebagai langkah membangun kelembagaan masyarakat yang produktif sekaligus mengembangkan potensi lokal.
Program yang dipimpin Prof. Dr. Agustinus Supriyanto, SH., M.Si. bersama Wakil Ketua Tim M. Yusril Mirza, S.Ark., M.A., serta anggota Amara Elvira, S.I.P., Divya Ayunda Pramesti, S.Hut., Dea Nurfath Ramadhani, S.E., dan Retno Dwi Hastuti, S.I.P., tersebut diarahkan agar masyarakat tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi mampu menjadi penggerak ekonomi di kampungnya sendiri.
Program Kembara melibatkan sejumlah kelembagaan masyarakat Kampung Mandekman, mulai dari Muslimat, PKK Kampung, Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan), kelompok jemaat Gereja Katolik hingga Pondok Pesantren.
Keterlibatan lintas kelompok tersebut diharapkan mampu membangun sinergi dalam mengembangkan produk berbasis potensi lokal sekaligus menciptakan ekosistem pemberdayaan yang inklusif.
Pendekatan yang digunakan dalam program ini adalah Participatory Action Research (PAR), yang memadukan pemberdayaan masyarakat dengan penelitian secara partisipatif. Program dirancang dalam tiga tahapan utama, yakni pelatihan, pendampingan dan diseminasi inovasi produk kampung.
Tahap awal dimulai dengan FGD dan Pelatihan Tata Kelola Kelembagaan serta Literasi Keuangan Dasar yang berlangsung di Balai Kampung Mandekman, Minggu (20/9/2026).
Pelatihan tersebut diarahkan untuk meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai kepemimpinan, struktur organisasi, pembagian tugas dan fungsi, administrasi serta pengelolaan keuangan sederhana.
Kegiatan menghadirkan akademisi Universitas Musamus, Romualdus Turu Putra Maro Djanggo, SE., M.Si., dan Bendahara Distrik Ulilin, Husein Akbar Jaelani, sebagai narasumber.
Selanjutnya, pelatihan kedua berupa Hilirisasi Produk Pertanian Sederhana dijadwalkan berlangsung Rabu (23/9/2026). Materi difokuskan pada kemampuan masyarakat mengolah potensi hasil pertanian lokal, meningkatkan kualitas kemasan serta mengenalkan strategi pemasaran dasar.
Dari produk pertanian yang sebelumnya hanya memiliki nilai jual terbatas, masyarakat didorong untuk menciptakan produk olahan yang memiliki nilai tambah dan peluang pasar lebih luas.
Setelah pelatihan, program dilanjutkan dengan pendampingan terhadap masing-masing kelembagaan masyarakat selama September hingga November 2026.
Pendampingan diarahkan untuk mengaktifkan kembali peran kelembagaan, membangun kemandirian dalam menyusun dan menjalankan program produktif, serta menginisiasi kegiatan kewirausahaan berbasis potensi lokal.
Rangkaian Program Kembara nantinya ditutup melalui Mini Expo Inovasi Produk Kampung. Forum tersebut akan menjadi ruang bagi masyarakat untuk memperkenalkan berbagai hasil inovasi yang dikembangkan selama program sekaligus membuka peluang penguatan ekonomi melalui produk dan kelembagaan kampung.

Peluncuran program di Kampung Mandekman turut dihadiri Kepala Distrik Ulilin, Kepala Polsek Muting, perwakilan Danramil 1707-05/Ulilin, Kepala Polsubsektor Ulilin, Kepala Kampung Mandekman serta jajaran aparatur lainnya.
Peserta program dari Pesantren Mandekman, Siti Lainah, mengapresiasi kegiatan tersebut. Menurutnya, masyarakat selama ini memiliki banyak potensi yang belum dikembangkan secara maksimal.
“Melalui kegiatan Kembara, kami mendapatkan pengetahuan baru mengenai bagaimana mengelola kelembagaan dan mengembangkan potensi yang sudah ada di kampung. Selama ini banyak potensi masyarakat yang belum dikembangkan secara maksimal. Dengan pendampingan ini kami berharap dapat lebih mandiri dan mampu menghasilkan kegiatan yang bermanfaat bagi masyarakat,” ujarnya.
Apresiasi serupa disampaikan Yuliana Alimo Mahuse, anggota Perkumpulan Jemaat Gereja Katolik. Sebagai masyarakat asli setempat, ia berharap program tersebut memberikan dampak nyata bagi perekonomian masyarakat.
“Saya sebagai orang asli di sini, sangat berterima kasih atas program yang dilakukan oleh UGM dan Kementrans yang harapannya dapat berkontribusi terutama ekonomi kepada daerah kami,” katanya.
Ketua Tim Ekspedisi Patriot UGM PS014, Prof. Dr. Agustinus Supriyanto, mengatakan keberhasilan pembangunan kawasan transmigrasi tidak cukup hanya diukur dari pembangunan infrastruktur.
Menurutnya, kekuatan utama pembangunan juga terletak pada kemampuan masyarakat mengelola potensi serta kelembagaan yang dimiliki.
“Kelembagaan masyarakat merupakan fondasi penting dalam membangun kemandirian ekonomi. Melalui Program Kembara, kami ingin mendorong masyarakat agar tidak hanya menjadi penerima manfaat pembangunan, tetapi juga menjadi pelaku utama yang mampu menciptakan inovasi dan mengembangkan potensi lokal secara berkelanjutan,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Distrik Ulilin, Junaidi, S.IP., M.A.P., berharap kehadiran Tim Ekspedisi Patriot UGM dapat memberikan dampak nyata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi.
“Saya dengan kedatangan Tim Ekspedisi Patriot UGM dapat memberikan kebermanfaatan dan dampak yang luar biasa bagi sinergi masyarakat transmigrasi dan asli Papua, khususnya untuk meningkatkan ekonomi,” ungkapnya.
Program Kembara juga sejalan dengan arah pembangunan transmigrasi yang disampaikan Menteri Transmigrasi M. Iftitah Sulaiman Suryanagara. Pemerintah menempatkan masyarakat sebagai aktor utama dalam pengembangan kawasan transmigrasi.
“Keberhasilan transmigrasi saat ini tidak hanya dilihat dari pembangunan permukiman, tetapi bagaimana kawasan transmigrasi mampu berkembang menjadi pusat pertumbuhan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat,” kata Iftitah pada 14 September 2026.
Melalui Program Kembara, Tim Ekspedisi Patriot UGM PS014 berupaya membangun model pemberdayaan yang tidak berhenti pada peningkatan kapasitas individu, tetapi juga memperkuat kelembagaan produktif.
Kelembagaan yang kuat diharapkan mampu melahirkan inovasi, mengolah potensi lokal menjadi produk bernilai ekonomi, sekaligus memperkuat hubungan sosial antara masyarakat transmigrasi dan masyarakat asli Papua.
Dengan demikian, kawasan transmigrasi Muting diharapkan tidak hanya berkembang sebagai kawasan permukiman, tetapi juga tumbuh sebagai ruang ekonomi baru yang digerakkan oleh masyarakat sendiri. (Papuapos Nabire)
Bagikan artikel ini



