MIAMI— Panggung tertinggi Piala Dunia FIFA 2026 mungkin telah luput dari genggaman mereka, namun perseteruan klasik dua raksasa sepak bola Eropa tidak pernah kehilangan kilaunya. Sabtu malam waktu setempat di Hard Rock Stadium, Miami (atau Minggu, 19 Juli 2026 pukul 04.00 WIB), Tim Nasional Prancis dan Inggris akan saling berhadapan demi memperebutkan tempat ketiga dalam laga penutup turnamen yang diprediksi sarat gengsi.

Kedua tim harus mengubur mimpi ke partai puncak setelah mengalami patah hati dengan cara yang berbeda di babak semifinal. Langkah Les Bleus dihentikan oleh Spanyol dengan kekalahan telak 0-2. Lini serang Prancis yang biasanya mematikan mendadak buntu, hanya mencatatkan nilai harapan gol atau expected goals (xG) yang sangat minim, yakni sebesar 0,31. Kegagalan tersebut menjadi pukulan berat bagi organisasi serangan tim besutan Didier Deschamps.

Di sisi lain, nasib tak kalah tragis menimpa The Three Lions. Skuad asuhan Thomas Tuchel sempat berada di atas angin dan memimpin laga berkat gol dari Anthony Gordon. Namun, petaka datang di lima belas menit terakhir. Taktik bertahan ekstrem yang diterapkan Tuchel terbukti menjadi bumerang fatal; Argentina berhasil membalikkan kedudukan menjadi 1-2 hanya dalam kurun waktu enam menit saja pada fase akhir pertandingan.

Menatap laga krusial ini, Prancis sebenarnya lebih diunggulkan jika merujuk pada peringkat resmi FIFA terbaru yang menempatkan Les Bleus di posisi ke-3, satu tingkat di atas Inggris di peringkat ke-4. Kendati demikian, sejarah panjang mencatat bahwa Inggris memiliki rekor pertemuan keseluruhan yang lebih superior dibanding rival seberang selatnya itu.

Sepanjang sejarah sepak bola modern, kedua negara telah bertemu sebanyak 32 kali, dengan rincian Inggris meraih 17 kemenangan, Prancis 10 kemenangan, dan 5 laga sisa berakhir imbang. Meski begitu, memori pertemuan terakhir di panggung Piala Dunia justru berpihak pada Prancis, saat mereka sukses mendepak Inggris dengan skor 2-1 di babak perempat final edisi Qatar 2022 lalu.

Dari sisi konsistensi sepanjang turnamen 2026, Prancis mengemas catatan 6 kemenangan dan 1 kekalahan dengan produktivitas gol yang impresif (mencetak 16 gol dan hanya kebobolan 4 gol). Sementara itu, statistik Inggris sedikit di bawahnya dengan 5 kemenangan, 1 hasil imbang, dan 1 kekalahan (mencetak 14 gol namun telah kebobolan 8 gol).

Motivasi terbesar di atas lapangan nanti dipastikan tertuju pada persaingan gelar top skor atau Golden Boot. Megabintang Prancis, Kylian Mbappe, saat ini memimpin daftar dengan koleksi 8 gol, setara dengan catatan milik kapten Argentina, Lionel Messi. Panggung di Miami menjadi kesempatan emas bagi Mbappe untuk mengukuhkan diri sebagai penyerang tersubur turnamen secara mandiri.

Namun, lini belakang Prancis tidak boleh lengah. Dua andalan lini depan Inggris, Harry Kane dan Jude Bellingham, menguntit tepat di belakang dengan torehan masing-masing 6 gol. Ambisi individu ketiga pemain bintang ini diprediksi akan membuat tempo permainan berjalan sangat cair, terbuka, dan menyerang sejak menit awal.

Dari sisi kebugaran, Prancis memiliki keuntungan berharga karena memiliki waktu istirahat (recovery) sehari lebih lama ketimbang Inggris pasca-semifinal. Aspek fisik ini menjadi sangat krusial mengingat kondisi cuaca di Miami yang diperkirakan menyentuh angka 90°F (32°C), sebuah suhu ekstrem yang dipastikan akan menguras stamina para pemain.

Pertempuran psikologis akan memegang peranan penting. Skuad Prancis dinilai relatif lebih cepat bangkit setelah menerima kekalahan dari Spanyol yang memang tampil dominan. Sebaliknya, kubu Inggris saat ini sedang dihantam badai kritik tajam dari publik domestik akibat taktik pasif dan defensif yang diusung oleh Thomas Tuchel di semifinal.

Organisasi pertahanan Inggris menjadi sorotan tajam karena belum pernah sekalipun mencatatkan clean sheet di fase gugur tahun ini. Jika rapuhnya lini belakang tidak segera dibenahi, kecepatan luar biasa yang dimiliki oleh Kylian Mbappe dan Michael Olise dipastikan akan menjadi ancaman mematikan bagi gawang The Three Lions.

Selain medali perunggu, laga ini membawa misi emosional bagi skuad Prancis. Pertandingan ini dipastikan menjadi panggung terakhir bagi pelatih legendaris Didier Deschamps bersama tim nasional setelah mengukir sejarah penampilan terbanyak di Piala Dunia. Skuad Les Bleus tentu memiliki ambisi melimpah untuk mempersembahkan kado perpisahan termanis bagi sang arsitek sebelum masa baktinya resmi berakhir di tanah Amerika.(ppn)