Pola KBM di SMPN 7 Diubah Saling Berhadapan
NABIRE - Pola Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMP Negeri 7 Nabire yang terletak di Kampung Nusantara Kimi diubah, dimana yang biasanya murid duduk ada empat barisan dari depan ke belakang, namun saat ini di SMPN 7 Nabire para murid dalam proses KBM duduk saling berhadapa
Bagikan
NABIRE - Pola Kegiatan Belajar Mengajar (KBM) di SMP Negeri 7 Nabire yang terletak di Kampung Nusantara Kimi diubah, dimana yang biasanya murid duduk ada empat barisan dari depan ke belakang, namun saat ini di SMPN 7 Nabire para murid dalam proses KBM duduk saling berhadapan antara sesama teman, sehingga terlihat bagian tengah kosong bagi guru untuk menerangkat pelajaran kepada murid atau anak-anak peserta didik.
Pola KBM murid saling berhadapan ini atas hasil survey Negara Australia di Indonesia secara khusus di Papua, telah ditemukan dengan belajar atau proses KBM 4 baris dari depan ke belakang, para siswa-siswi tidak efektif belajar dengan baik, bahkan ada yang sedang bermain-main, sehingga ditemukan ada anak lulusan SD yang tidak bisa membaca dan menulis.Untuk itu, pada awal tahun pelajaran 2016/2017 saat pembukaan pendaftaran murid baru, telah ditemukan 21 anak tidak bisa membaca dan menulis, sehingga pihak sekolah membuat kelas khusus dengan tujuan memberikan pengayaan khusus bagi 21 anak hingga bisa membaca dan menulis, barulah dipindahkan bergabung dengan teman-teman lain yang kini efektif belajar.Demikian dikatakan Kepala sekolah SMP N 7 Nabire Saloce Yumame,S.Pd.M.Pd, kepada Papuapos Nabire Senin (26/9) di ruang kerjanya seraya menambahkan, proses membaca dan menulis menjadi masalah serius dalam dunia pendidikan yang harus diperhatikan secara bersama oleh pemerintah dan orang tua, karena pendidikan dan masa depan anak merupakan tanggung jawab bersama.Lanjut kata Saloce, belajar atau sekolah berkonsentif efektif di Papua secara umum untuk lebih mengenal diri pribadi siswa-siswi dan lingkungan untuk murid dapat mengusai Ilmu Pengetahuan dan Teknologi (Iptek) dan kelak dapat dipersiapkan menuju abad 21 dengan belajar yang lebih menyenangkan.Sebab, menurutnya, tujuan menuju abad 21 nanti adalah pihak sekolah bersama pemerintah dengan dukungan orang tua murid kita dapat memberantas anak dari tidak bisa membaca dan menulis ke bisa baca dan menulis dengan baik dan benar, sehingga orang tua, guru dan pemerintah harus bersatu membawa anak menuju abad ke 21 dengan tidak ragu. (des)
Bagikan artikel ini



