NABIRE - Perselisihan sedang terjadi antara Ketua dan Sekretaris KPU Kabupaten Nabire. Bahkan komentar Ketua KPU Nabire, Sarlota Neci Martha Wartanoy, di salah satu media menyampaikan jika dirinya telah mengadu ke Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Jayapura terkait kasus tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Bahkan dirinya berencana akan membuat laporan ke Mapolda Papua.

Sementara Sekretaris KPU Nabire, Saverius Tebai, dalam keterangannya menyampaikan, apa yang disampaikan Ketua KPU Nabire dalam pemberitaan salah satu media itu merupakan pembenaran sepihak, sehingga dirinya perlu untuk menyampaikan klarifikasinya.


Terkait pemberitaan salah satu media yang menyebutkan, Ketua KPU Nabire akan melaporkan Sekretaris KPU Nabire ke Polda Papua, karena dugaan terkait diskriminatif gender, Sekretaris KPU Nabire, Saverius Tebai merasa kesal karena dalam pemberitaan media berupa tudingan. Semestinya pemberitaan media harus netral dan berimbang.


Sekretaris KPU Nabire menyayangkan pemberitaan media yang tidak netral. Dirinya menilai judul pemberitaan tidak sesuai dengan kondisi sebenarnya terjadi, yang ada itu hanya untuk mencari pembenaran sepihak saja.


"Kejadian penganiayaan oleh Ketua KPU Nabire kepada Sekretaris tersebut terjadi sekitar jam 12.35 saat sedang persiapan pelantikan petugas pemutahiran data pemilih (Pantarlih), Senin tanggal 24 Juni 2024. Jadi ada upaya mengalihkan isu Sekretaris KPU Nabire memukul Ibu KPU Nabire, itu tidak benar. Tidak mungkin saya pukul.


Saya tau hukum dan dampak yang akan timbul ketika adu fisik. Kejadian itu disaksikan oleh staf di ruang kerja Kasubag," jelas Saverius Tebai.


Saverius Tebai juga menceritakan, saat itu dirinya berada di ruangan Kasubag saat sedang berkoordinasi, kemudian tiba-tiba Ketua KPU Nabire masuk tanpa permisi dan berkata-kata. Dirinya mempersilahkan duduk untuk berdiskusi, namun tidak diindahkan. Ketua KPU Nabire mengayunkan tangannya mengenai pipi kanan secara tiba-tiba dan dirinya tidak melihatnya saat aksinya itu.


"Saya spontan berdiri dan sama sekali tidak melakukan perlawanan, karena menyadari bahwa dunia hari ini bukan adu fisik tetapi adu nalar, kemudian tidak mungkin lelaki lawan seorang wanita yang lemah secara fisik. Selain aturan adat melarang akan hal itu juga saya orang hukum tau persis terhadap dampak hukumnya. Sehingga saya menerima pukulan yang diayunkan kepada saya tanpa perlawanan apa-apa," ungkap Saverius Tebai.


Lanjutnya, dirinya berdiri pindah ruangan ke arah ruang CCTV agar peristiwa itu terekam karena aksi bertubi-tubi supaya nampak jelas di CCTV terhadap upaya pemukulan oleh Ketua KPU Nabire. Saverius Tebai menyampaikan kondisi saat itu ada pula staf yang membendung untuk berhenti dari aksinya.


"Tidak lama kemudian saya lakukan visum di RSUD Nabire diantar SPKT Polres Nabire. Kali ini saya bertahan pada keadaan ini, namun terhadap siapapun dia lakukan staf saya di kantor tindakan ini, maka bukti visum akan saya proses hukum sebagai efek jera. Pernah juga terjadi penendangan pintu hotel sambil memaki-maki oleh yang bersangkutan, ketika itu ada acara di salah satu hotel di Nabire," bebernya.

Sekretaris KPU Nabire Bakal Dilaporkan ke Polda Papua


Sementara dalam pemberitaan salah satu media menyebutkan, Ketua KPU Kabupaten Nabire, Sarlota NM Wartanoy bakal melaporkan Sekretaris KPU setempat ke Polda Papua atas tindakan kekerasan dan diskriminasi terhadap perempuan. Hal itu disampaikan Sarlota NM Wartanoy ketika ditemui usai bertemu dengan Ketua Lembaga Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk Keadilan (LBH APIK) Jayapura, Nur Aida Duwila untuk melaporkan hal tersebut dan meminta pendampingan guna melaporkan ke Polda Papua.


"Semenjak awal sampai insiden kemarin itu adalah kesekian kali saya merasa didiskrimnasi dalam perihal pekerjaan, sehingga saya secara langsung berhadapan dengan oknum tadi untuk mengklarifikasi kenapa seringkali arahan saya dianulir, sementara kebijakan yang diturunkan selalu sesuai dengan aturan yang ditetapkan oleh KPU," ujarnya kepada wartawan di Jayapura, Jumat (28/6/2024) malam.


Menurut Ketua KPU Nabire, oknum tersebut justru balik menantang dan menyebutkan bahwa dirinyalah yang menjadi kuasa pengguna anggaran, sehingga kewenangan Sarlota sebagai Ketua KPU tidak berlaku.


Jawaban tersebut memicu emosi korban untuk bertindak keras, namun pelaku berhasil menghindar lalu memukul balik tepat ke arah mata dan meninggalkan lebam kebiruan.


"Saya memang emosi lantaran beliau sendiri tidak pernah koperatif, tapi lalu saya dipukul balik sampai mata sebelah kiri lebam dan biru," terangnya.


Diskriminasi juga menyasar persoalan hak atas fasilitas sebagai Ketua KPU Nabire. Sarlota harus meminta berulang kali, contohnya seperti kendaraan yang tidak pernah diperolehnya semenjak menjabat.


"Sebagai Ketua KPU kami diberikan fasilitas kendaraan, tapi saya tidak ada, jadi sering pakai motor atau mobil yang saya sewa sendiri, sementara sekretaris dan bendahara pakai mobil dinas, alasannya karena kendaraan yang ada semua sesuai nama, dan saya tidak ada nama sangat tidak jelas," ujarnya.


Bahkan hal-hal pekerjaan yang sudah diputuskan bersama komisioner lainnya untuk dilaksanakan, diubah secara sepihak tanpa berkoordinasi, beliau hanya mau dengan komisioner selain dirinya ketua.


"Saya lelah dengan diskriminasi beliau yang berulang kali, saya tidak tau apakah beliau ada kepentingan politik termasuk saat kami ingin mengajukan sosialisasi pada Pileg kemarin, pak sekretaris bilang tidak ada dana sosialisasi, sementara ini Pemilu serentak pertama kali jadi masyarakat perlu diedukasi," paparnya.


Anehnya menurut Sarlota, Sekretaris KPU tersebut pernah menyatakan keberatan atas edaran yang dikeluarkan olehnya terkait pemilihan sekretaris PPD dan PPS.

"Sementara edaran tersebut berkaitan dengan aturan PKPU 8 Tahun 2022, yakni syarat menjadi sekretaris PPD dan PPS yang selalu diingatkan saat Rakor KPU," terangnya.


Sarlota mengaku bingung dengan keberatan Sekretaris KPU, karena hal tersebut bukan menjadi ranah yang bersangkutan.(ist/PPN)