NABIRE – Penyerangan Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) di Kabupaten Nabire, pada Jumat (17/09/2025) lalu, telah menewaskan satu orang warga sipil, dan delapan korban luka-luka tembak lainnya, termasuk empat anggota Polri, Polres Nabire.

Aksi keji mengguncang Ibu Kota Provinsi Papua Tengah ini, dikabarkan terjadi pada pukul 09.30 WIT, di Jalan Trans Nabire – Enarotali atau tepatnya sekitar Kilometer (KM) 18, Distrik Uwapa (Topo), Nabire oleh KKB, pimpinan Aibon Kogoya.

Dari keterangan yang di dapat dari Kapolres Nabire, AKBP Samuel Tatiratu, S.I.K, menyebutkan penyerangan terhadap warga sipil dan aparat keamanan itu menyebabkan satu warga meninggal dunia dan delapan orang lainnya terluka, terdiri dari empat warga sipil dan empat anggota Polres Nabire, Polda Papua Tengah.

“Penyerangan dilakukan oleh KKB pimpinan Aibon Kogoya. Kami telah melakukan langkah cepat untuk mengamankan lokasi dan mengevakuasi korban ke RSUD Nabire,” ujar Kapolres Nabire dalam keterangannya kemarin.

Untuk keterangan menyangkut kronologis kejadian usai penyerangan terdapat warga sipil terjadi sekitar pukul 14.40 WIT. Di mana rombongan Kapolda Papua Tengah turun dari Topo (usai respon kejadian) dan posisi mobil anggota Polres Nabire yang ditumpangi Kasat Narkoba bersama 4 anggota di bagian paling belakang (terakhir).

Disebutkan, saat berada di jalan, sebelum Kali Pepaya, terdengar tembakan 2 kali dari atas ke arah mobil, menyebabkan kaca depan pecah dan mobil masih melaju, kemudian terdengar 4-5 kali lagi tembakan. Anggota di mobil sempat membalas tembakan ke arah bunyi tembakan 2 kali.

Adapun korban terluka dari pihak aparat, yakni HS (45) anggota Polri (Kasat Narkoba Polres Nabire) mengalami luka tembak di bagian kepala /dahi kanan dan bahu kanan. LM (30) anggota Polri dari Polres Nabire mengalami luka robek tembak di bagian bahu belakang. THB (26), Polri (luka ringan akibat serpihan timah di punggung kiri) dan GY (28), anggota Polri, terdapat pecahan timas di kepala.

Dari kejadian ini, masyarakat Adat Kabupaten Nabire secara tegas mengecam aksi kejahatan dan kekerasan yang dilakukan oleh kelompok bersenjata OPM (Organisasi Papua Merdeka) di wilayah Papua Tengah, khususnya di Kabupaten Nabire. Tindakan-tindakan tersebut tidak hanya mengganggu stabilitas keamanan, tetapi juga menghambat pembangunan dan mengancam keselamatan masyarakat sipil.

Sebagai bagian dari anak bangsa, masyarakat adat menilai bahwa setiap bentuk kekerasan bersenjata adalah tindakan yang bertentangan dengan nilai kemanusiaan dan adat istiadat Papua yang menjunjung tinggi kedamaian, persaudaraan, dan kebersamaan. 

Oleh karena itu, masyarakat adat dalam keteranga yang didapat media ini melalui halam media online, mendukung penuh aparat keamanan TNI–Polri dalam menjaga stabilitas keamanan dan menindak tegas para pelaku kejahatan yang berusaha merusak kedamaian di tanah Papua.

Masyarakat Adat Kabupaten Nabire juga menegaskan komitmennya untuk terus mendukung setiap kebijakan pemerintah pusat dan daerah yang berorientasi pada kesejahteraan masyarakat Papua, dengan mengedepankan persatuan dan kedamaian.(wan)