Peningkatan Kasus ODHA di Nabire Mengkhawatirkan, Didominasi Usia Produktif

NABIRE - Kasus Orang Dengan HIV/AIDS (ODHA) di Kabupaten Nabire menunjukkan tren peningkatan yang mengkhawatirkan dari tahun ke tahun. Data terbaru dari Januari hingga Juni 2025 mencatat adanya 330 penambahan kasus baru yang didominasi oleh kelompok usia produktif.
Ketua Komisi Penanggulangan AIDS (KPA) Nabire, Gian A Nababan, S.Sos, membenarkan lonjakan jumlah pengidap HIV/AIDS ini. Ia menegaskan bahwa angka 330 penambahan dalam enam bulan pertama 2025 menjadi sinyal serius.
"Ini sudah mengkhawatirkan karena trennya ini terus bertambah dari tahun 2020 hingga Juni 2025," ungkap Gian Nababan saat ditemui awak media di Aula Sekda Nabire, Rabu (29/10/2025), menyuarakan keprihatinannya terhadap laju penyebaran yang tak terhenti.
Nababan berpendapat, bahwa upaya pencegahan dan penahanan laju pertumbuhan ODHA memerlukan pertemuan lintas sektor yang melibatkan KPA, pemerintah, tokoh masyarakat dan semua pihak terkait. Permasalahan ini, katanya, tidak dapat diselesaikan oleh KPA sendiri.
Salah satu tantangan terbesar yang dihadapi KPA adalah stigma negatif yang melekat pada pengidap HIV/AIDS, yang menjadi penghambat utama dalam memberikan pencerahan dan edukasi kepada masyarakat luas.
Oleh karena itu, KPA berencana menggencarkan sosialisasi ke sekolah-sekolah, berbagai kelompok masyarakat dan komunitas, guna memastikan mereka tidak salah memahami tentang HIV/AIDS. Adanya rasa takut berlebihan menyebabkan banyak orang enggan untuk melakukan pemeriksaan dini.
KPA Nabire kini akan memfokuskan upaya pada dunia pendidikan, yang dinilai masih minim dalam memberikan edukasi terkait bahaya HIV/AIDS. Pihak sekolah, menurutnya, memiliki peran krusial sebagai ‘filter’ awal untuk menahan laju penambahan kasus pada usia produktif.
"Kenapa tidak kita coba melakukan pendekatan ke sekolah dengan konsep yang benar supaya mereka itu bisa melakukan sosialisasi ataupun edukasi, sedini mungkin," tegas Ketua KPA Nabire.
Ia berpendapat bahwa sekolah adalah lembaga yang paling konsisten untuk melakukan edukasi jika materi HIV/AIDS dapat dimasukkan secara rutin ke dalam kurikulum atau kegiatan belajar-mengajar.
Data sebelumnya juga menunjukkan betapa vitalnya peran sekolah, di mana pada tahun 2024, dari 704 kasus baru, setengahnya adalah usia produktif yang berada di usia sekolah.
Untuk itu, KPA bertekad menggandeng pihak sekolah untuk mendapatkan format terbaik dalam bahan pendidikan, entah melalui kurikulum formal atau ekstra kurikulum. Nababan menggarisbawahi: sekolah jangan ditinggalkan sebagai filter pertama bagi usia produktif.(amd)
Bagikan artikel ini


