NABIRE - Jumlah Pencari Kerja (pencaker) di Kabupaten Nabire menunjukkan tren peningkatan yang signifikan pada tingkat pendidikan SMA dan Sarjana (S1). Data terbaru dari Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Nabire, berdasarkan penerbitan kartu pencari kerja (AK-1 atau Kartu Putih), mengindikasikan bahwa kelompok lulusan SMA menjadi yang paling dominan, meskipun jumlah sarjana juga mengalami peningkatan.

Kepala Bidang Penempatan Tenaga Kerja Kabupaten Nabire, Benediktus Dimi, S.IP, mengungkapkan bahwa fenomena ini memberikan gambaran jelas mengenai tingkat pendidikan para pemegang kartu pencari kerja di wilayah tersebut. Peningkatan terjadi pada lulusan SMA/ sederajat serta jenjang D3 hingga S1, namun secara keseluruhan, lulusan Sekolah Menengah Atas (SMA) jauh lebih banyak dan mendominasi total data pencari kerja yang terdaftar.

Meskipun, Benediktus Dimi, tidak merinci angka persentase pasti, ia menegaskan bahwa sebaran pemegang kartu AK-1 berdasarkan jenjang pendidikan terakhir menunjukkan lulusan SMA memiliki porsi terbesar. Gambaran ini mengonfirmasi bahwa tantangan penyerapan tenaga kerja di Nabire utamanya berada pada tingkat pendidikan menengah, di mana persaingan untuk mendapatkan pekerjaan juga diperkirakan semakin ketat.

#Efektivitas Penyerapan Kerja Belum Terukur

Terkait dengan efektivitas Disnakertrans dalam memfasilitasi penempatan kerja, khususnya persentase pencari kerja yang berhasil terserap atau mendapatkan pekerjaan dalam kurun waktu enam bulan setelah penerbitan kartu.

Benediktus Dimi menyatakan bahwa data ini belum bisa dipastikan. Hal ini disebabkan karena tidak adanya laporan balik secara rutin dari para pencari kerja yang telah diterima di sektor swasta maupun instansi lain.

Disnakertrans selalu menganjurkan kepada para pencaker yang sudah mendapatkan pekerjaan untuk segera melapor, namun Benediktus Dimi mengakui bahwa laporan tersebut sepanjang ini tidak pernah ada. 

"Sehingga kan belum bisa pastikan. Tidak ada laporan dari para penduduk," ujarnya. Ketiadaan data umpan balik ini menjadi hambatan utama dalam mengukur keberhasilan program penempatan kerja secara objektif.

Mengenai sektor permintaan, data dari minat atau tujuan kerja utama yang dicantumkan oleh pemegang kartu AK-1 menunjukkan kecenderungan yang sangat kuat ke arah Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dibandingkan sektor swasta. 

Ini dapat menjadi indikator yang kuat mengenai sektor mana yang paling diminati oleh tenaga kerja lokal di Kabupaten Nabire.

"Yang lebih banyak bahwa CPNS, dibanding swasta, lebih banyak CPNS, kalau yang swasta ini jarang," terang Benediktus Dimi. Walaupun ada peningkatan minat pada sektor swasta di tahun 2023-2024, terutama karena adanya penerimaan di perusahaan kelapa sawit yang memicu para Pencaker datang dan meminta surat pengantar, minat ke CPNS tetap jauh lebih dominan.

Data ini menggarisbawahi preferensi tenaga kerja lokal terhadap stabilitas dan jaminan karir yang ditawarkan oleh status CPNS, jauh melampaui daya tarik potensi dan dinamika sektor swasta. Pemerintah daerah, melalui Disnakertrans.(sam)