Pemprov Papua Tengah Ajak Gen Z Jadi Penentu Masa Depan Daerah
Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengajak Generasi Z (Gen Z) untuk tidak sekadar menjadi penerus bangsa, tetapi mengambil posisi sebagai penentu arah masa depan daerah melalui aksi nyata di bidang kesehatan, sosial, literasi digital dan bela negara.

NABIRE – Masa depan Papua Tengah tidak hanya ditentukan oleh pembangunan jalan, gedung dan berbagai infrastruktur fisik. Di balik semua itu, ada satu kekuatan yang dinilai jauh lebih menentukan: kualitas generasi mudanya.
Pesan tersebut mengemuka dalam Focus Group Discussion (FGD) Generasi Papua Tengah bertema “Aksi Nyata, Sadar Stunting, dan Menyebarluaskan Energi Positif Bela Negara” yang digelar di Guest House Kabupaten Nabire, Jumat (23/10/2026).
Pemerintah Provinsi Papua Tengah mengajak Generasi Z (Gen Z) untuk tidak sekadar menjadi penerus bangsa, tetapi mengambil posisi sebagai penentu arah masa depan daerah melalui aksi nyata di bidang kesehatan, sosial, literasi digital dan bela negara.
Sambutan Gubernur Papua Tengah yang dibacakan Asisten I Bidang Pemerintahan dan Kesejahteraan Rakyat Setda Papua Tengah, Alanthino Wiay, menegaskan pentingnya keterlibatan generasi muda dalam pembangunan.
Alanthino menyampaikan salam dari Gubernur dan Wakil Gubernur Papua Tengah yang tidak dapat menghadiri kegiatan karena harus mengikuti agenda kunjungan kerja pimpinan pusat di Nabire.
Menurutnya, pembangunan Papua Tengah harus berjalan seimbang. Pembangunan fisik harus dibarengi dengan pembangunan manusia agar kemajuan daerah memiliki fondasi yang kuat.
“Membangun Papua Tengah tidak cukup hanya dengan membangun jalan dan gedung, kita juga harus membangun kualitas manusianya,” ujar Alanthino saat membacakan sambutan gubernur.
Gen Z dan Ancaman Stunting
Salah satu persoalan yang menjadi perhatian serius dalam FGD tersebut adalah stunting.
Pemprov Papua Tengah menilai pencegahan stunting bukan hanya tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan. Generasi muda juga memiliki ruang besar untuk mengambil bagian, terutama melalui edukasi dan peningkatan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya gizi serta kesehatan.
Sebab, persoalan stunting berkaitan langsung dengan masa depan sumber daya manusia.
Anak yang sehat, ibu yang sehat, remaja yang memahami kebutuhan gizi dan keluarga yang peduli terhadap kesehatan merupakan fondasi penting untuk melahirkan generasi Papua Tengah yang cerdas, berkarakter dan mampu bersaing.
Karena itu, Gen Z didorong tidak hanya menjadi penerima informasi, tetapi juga agen perubahan yang mampu membawa pesan pencegahan stunting dari ruang diskusi ke keluarga, sekolah, kampus dan lingkungan masyarakat.

Lawan Hoaks, Bela Negara di Ruang Digital
Tantangan generasi muda tidak hanya berada di dunia nyata. Ruang digital juga menjadi medan penting dalam menjaga persatuan.
Dengan jumlah pengguna media sosial yang terus berkembang, Gen Z dinilai memiliki posisi strategis untuk menciptakan ruang digital yang sehat.
Pemprov Papua Tengah mengingatkan generasi muda agar tidak mudah terjebak dalam penyebaran berita bohong, ujaran kebencian maupun informasi yang berpotensi memecah belah masyarakat.
Sebaliknya, media sosial harus dimanfaatkan untuk menyebarkan informasi yang benar, edukatif, kreatif dan memberikan energi positif.
“Jangan biarkan jari kita lebih cepat menyebarkan kebencian daripada kebaikan. Jadikan media sosial sebagai ruang untuk menebarkan inspirasi, kreativitas, dan perubahan,” demikian pesan Gubernur Papua Tengah yang disampaikan dalam forum tersebut.
Pesan itu sekaligus memperluas makna bela negara di era digital.
Bela negara tidak selalu harus diwujudkan melalui tindakan fisik. Menjaga persatuan, menyaring informasi sebelum membagikannya, menolak hoaks, menghormati perbedaan dan menggunakan teknologi untuk kepentingan masyarakat juga merupakan bentuk kontribusi generasi muda bagi bangsa.
Delapan Kabupaten, Satu Energi Generasi Muda
FGD tersebut menjadi ruang pertemuan generasi muda dari delapan kabupaten di Papua Tengah, yakni Nabire, Puncak, Puncak Jaya, Dogiyai, Deiyai, Intan Jaya, Paniai dan Mimika.
Pemprov Papua Tengah berharap forum tersebut tidak berhenti sebagai kegiatan seremonial maupun diskusi di dalam ruangan.
Sebaliknya, gagasan yang lahir harus diterjemahkan menjadi aksi nyata di lingkungan sekolah, kampus, keluarga dan masyarakat.
Gen Z diharapkan mampu menjadi penggerak kampanye pencegahan stunting, penyebar informasi positif sekaligus penjaga persatuan di tengah derasnya arus informasi digital.
Pada akhirnya, pembangunan Papua Tengah tidak hanya diukur dari panjang jalan yang dibangun atau jumlah gedung yang berdiri.
Lebih jauh dari itu, keberhasilan pembangunan akan terlihat dari lahirnya generasi yang sehat, cerdas, kreatif, berkarakter, kritis terhadap informasi dan memiliki kepedulian terhadap masa depan daerahnya.
Dari tangan Gen Z inilah, wajah Papua Tengah masa depan mulai dibentuk—bukan hanya sebagai penerus, tetapi sebagai generasi yang ikut menentukan ke mana daerah ini akan melangkah. (Luk)
Bagikan artikel ini



