MOANEMANI – Pemerintah  Kabupaten (Pemkab) Dogiyai bersama Komisi Pemberantasan HIV/AIDS dan Minumam keras (Miras), beberapa  waktu  yang lalu menggelar penyuluhan HIV/AIDS dan Miras yang berada di Dogiyai. Kegiatan penyuluhan melibatkan tokoh masyarakat, pemuda  dan wanita termasuk didalamnya aparat kampung dan Bamuskan di 79 kampung yang ada di Dogiyai. Tempat kegiatan penyuluhan di Aula Pemda Dogiyai selama sehari itu dibuka Asisten III Setda Dogiyai, Zakaria Palisungan, MT, didampingi Drs. Anthon Iyowau, selaku ketua penyelengara penyuluhan.Asisten III Zakaria pada kesempatan itu mengatakan, sebelum saya membacakan sambutan tertulis Bupati Dogiyai, izinkan saya menyampaikan ucapan terima kasih dan bangga atas pikiran yang baik yang dimunculkan oleh Komisi Pemberantasan HIV / AIDS  dan Miras serta memberikan anjungan jempol.“Langsung saja bertanya, mengapa demikian ? menurut prediksi dan analisa bahwa anak-anak Papua ini bisa saja punah, lantaran pengunaan atau mengkomsumsi alkohol. Selain itu, perilaku seks bebas dan menyimpang. Diriya memeetik ayat alkitab nasrani ‘Sodom dan Gomora hancur karena perbuatan dosa,” tandasnya.Jelas Palisungan, perilaku hidup yang menyimpang dari perintah Tuhan, misalnya penyakit masyarakat  yang ada sekarang ini seperti Togel dan kegiatan perjudian lainnya, menimbulkan konflik dalam rumah tangga, yang seharusnya tempat yang aman dan bahagia. Hal itu juga berdampak pada kemalasan akhirnya membuat tidak nyaman dan merusak  hidup kita di masa depan yang lebih baik.Untuk itu, pemerintah daerah mengajak penyuluhan ini diikuti dengan baik dan kiranya dapat dipraktekan di lingkungan dimana saja. Demikian pula kepada remaja untuk diarahkan ke masa depan yang lebih baik, sehingga waktu yang ada tak perlu disia-siakan. Isilah, kata Bupati Dogiyai, dengan kegiatan yang menguntungkan diri dan takut akan Tuhan.Dalam penyuluhan ini sebagai narasumber  pihal Polsek Moanemani, yakni Hitalua Eduat Paluo. Dimana, dirinya mengajak kepada semua warga untuk pertama melakukan perbaikan tabiat kita lebih dulu. Karena kalau tidak akan terjadi gejolak sosial di daerah Meuwo ini. Musibah apapun bisa saja terjadi karena perilaku alam yang masih murni ini. “Pemerintah bersama masyarakat harus berkomitmen memberantas Miras, sehingga daerah Mapia dan Kamu Dogiyai aman. Pengamanan diri individu keluarga dan kelompok kita dapat ditingkatkan,” jelasnya.Hal ini juga seperti dikatakan Pendeta Mathen Keiya, bahwa tubuh manusia adalah rumah kabah Tuhan sendiri. Pemerintah dari, aparat pemerintah dan pelajar adalah wakil Tuhan di dunia ini, maka hidup manusia kini dikembalikan kepada  sepuluh hukum perintah Allah sendiri.“Pikiran dan tubuh adalah Tuhan, maka kita tidak bisa sia-siakan. Imamat sepuluh ayatnya yang kedua  ‘Disana tertulis jangan meminum minuman keras’. Kekuasan itu pun tidak bisa direbut melalui Miras. Manusia sekarang tak bisa membuat undang-undang baru,” ujar pendeta .Hidup dalam jaman roh kudus kita harus hati-hati. Akhirnya, melalui penyuluhan ini kepala kampung bekerja sama dengan Polisi Pamong Praja (Pol PP). Dan pihak aparat harus siap membuka pos penjagaan untuk menjaga keamanan, peredaran dan pemasok Miras di Moanemani disamping menjadi pemantau di masing-masing kampung. (don)