NABIRE - Pemerintah Kabupaten Nabire meluncurkan sebuah inisiatif mulia untuk menekan angka stunting melalui ‘Gerakan Orang Tua Asuh Cegah Stunting’ atau Genting. Program ini mengajak masyarakat untuk berperan aktif sebagai orang tua asuh, memberikan bantuan langsung kepada anak-anak yang berisiko mengalami stunting. Langkah ini diambil untuk mempercepat pencapaian target nasional dalam mengatasi masalah gizi buruk di Nabire.

Kepala Dinas Pengendalian Penduduk dan Keluarga Berencana (DPPKB) Kabupaten Nabire, Paulus Talakua, S.KM.,M.Kes, menjelaskan, program Genting merupakan salah satu dari lima prioritas utama yang dicanangkan oleh Kementerian. 

"Kami di DPPKB bertanggung jawab penuh dalam pencegahan, bukan pengobatan. Kami harus bertindak sebelum kasus stunting bertambah," tegas Talakua saat ditemui Papuapos di ruang kerjanya, Rabu (13/8/2025). Ia menambahkan bahwa upaya ini dilakukan untuk mencapai target, yaitu menangani 283 kasus stunting pada tahun 2025.

Kerja sama intensif sedang dijalin antara DPPKB Nabire dan BKKBN pemerintah Provinsi Papua untuk memastikan program ini berjalan efektif. Kolaborasi ini menjadi kunci penting untuk menyelaraskan strategi dan intervensi yang dibutuhkan, agar setiap langkah yang diambil dapat memberikan dampak maksimal. Dengan adanya sinergi ini, diharapkan target penurunan stunting dapat tercapai lebih cepat.

Salah satu bentuk bantuan konkret dalam program Genting adalah pemberian dua butir telur setiap hari selama tiga bulan kepada anak-anak yang teridentifikasi berisiko stunting. Bantuan ini tidak bersumber dari dana pemerintah, melainkan sepenuhnya berasal dari donasi para donatur yang peduli dan memiliki empati terhadap kondisi anak-anak di Nabire.

Hingga saat ini, antusiasme masyarakat cukup tinggi. Sebanyak 51 orang tua asuh telah mendaftar dan siap membantu. Mekanisme penyaluran bantuan dirancang dengan sangat efisien. Para kader di setiap desa bertugas mengambil telur dari para orang tua asuh, lalu mendistribusikannya langsung ke rumah anak-anak yang menjadi sasaran program.

"Kader di desa menjadi garda terdepan kami. Mereka memastikan bantuan ini sampai tepat sasaran dan tepat waktu, setiap hari," ujar Talakua. 

Proses penyaluran yang terstruktur ini menjamin bahwa setiap anak mendapatkan asupan gizi yang konsisten, yang sangat krusial dalam masa pertumbuhan.

Selain program Genting, Talakua juga menerapkan terobosan lain. Ia gencar melakukan pendekatan langsung kepada berbagai kelompok, organisasi dan individu di Nabire. Tujuannya adalah untuk meningkatkan kesadaran dan mendorong partisipasi aktif dari berbagai elemen masyarakat dalam upaya pencegahan stunting.

Pendekatan ini memungkinkan pemerintah daerah untuk lebih memahami kebutuhan di lapangan dan memberikan dukungan yang lebih maksimal. Dengan melibatkan lebih banyak pihak, masalah stunting tidak lagi hanya menjadi tanggung jawab pemerintah, melainkan menjadi gerakan bersama seluruh masyarakat Nabire.

Talakua menyambut baik kolaborasi yang terjalin dengan perwakilan Kementerian BKKBN Provinsi Papua. "Hari ini adalah momen terbaik. Sasaran dan intervensi kami sudah sangat jelas," ujarnya. 

Ia optimistis bahwa dengan kerja keras dan dukungan dari semua pihak, upaya ini akan memberikan dampak positif yang signifikan bagi masa depan anak-anak di Nabire.

Program ini tidak hanya berfokus pada pemberian bantuan, tetapi juga menumbuhkan rasa kepedulian sosial dan gotong royong di tengah masyarakat. Dengan menjadi orang tua asuh, warga Nabire tidak hanya memberikan telur, tetapi juga harapan bagi anak-anak untuk tumbuh sehat dan meraih masa depan yang lebih cerah.(sam)