Pastor Oktovianus Menarik Simpati Umat Hadir di Gereja Katolik Santo Antonius Padua

NABIRE - Pastor Oktovianus menarik simpati umat untuk hadir di di Gereja Katolik Santo Antonius Padua, Bumi Wonorejo, saat perayaan ekaristi suci vigili paskah atau malam paskah, beberapa hari lalu. Inti perayaan, menurut Pastor Oktovianus, adalah pengenangan akan peralihan dari maut kepada kehidupan, dari kematian kepada kebangkitan.
Menurut homili Pastor Oktovianus, orang kristen jaman purba dulu biasanya mengadakan vigili, merayakan perayaan–perayaan seperti paskah, Tuhan mereka semacam “suntuk" berjaga dan berdoa membaca dan mendengarkan isi kitab suci serta penjelasanya. Serta diiringi nyanyian dan pujian. Itu kebiasaan jemaat yang sudah terjadi 2000 tahun lalu, dan hal itu bertahan sampai hari ini. Kata dia, gereja katolik masih mempertahankan tradisi iman hingga hari ini.
Kotbah pastor menarik perhatian umat setelah lalui momen penting seperti Rabu Abu, Kamis Putih, Jumat Agung, ekaristi perayaan suci Sabtu Agung di Gereja Katolik Wonorejo. Melalui perayaan ekaristi suci ini, kata Pastor Paroki Nabire Barat, Pastor Oktovianus, akhirnya kita memiliki pemahaman baru tentang arti vigili paskah. Sekarang ini vigili paskah Tuhan beralih dari kematian, beralih kebangkitan, dari maut menuju kepada kehidupan, beralih dari kegelapan menuju kepada terang.
“Kita menyaksikan upacara bersama api unggun api cahaya kebangitan bersama Yesus. Nikmati melalui perubahan besar dengan lilin paskah besar yang menyala. Upacara cahaya tadi kita memperingati beralihnya Yesus maut kegelapan makam kepada kebangkitan,” ujarnya.
Lanjutnya, pengalaman peralihan dari kegelapan menuju terang ini dilukiskan dalam Injil Matius (28 : 1-10). Pintu kubur yang tadinya tertutup rapat, dibuka oleh sebuah peristiwa. Disusul peristiwa gempa bumi yang besar, kegelapan kubur akhinya dihalau oleh cahaya terang. Nampak malaikat Tuhan berpakaian putih kemilauan nampak bercahaya nampak terang. Berkata kepada para murid Yesus, “Jangan takut Yesus sudah bangkit. Dia mendahului kemu ke Galilea bukit yang ditunjuk oleh Yesus sendiri (Injil Mat : 28-16). Disanalah para murid yang lesu karena kesedihan wafatnya Yesus beralih menuju kuat. Mereka yang sebelumnya mati rohani beralih untuk bangkit mewartakan kebangkitannya. Kita juga dengan melakukan perubahan pembaharuan janji baptis kita masing–masing.” Pembaptisan yang diterima, katanya, diajak untuk beralih cara hidup yang lama kepada hidup yang baru. Jaga baik janji baptis untuk perubahan dan tidak untuk mengingkari.
“Tidak boleh ada tipu muslihat, tidak boleh mati jiwanya berikan hati yang baru dan roh yang baru. Malam paskah ini kesempatan baik untuk kita memberikan hari yang baru dan perasaan yang baru,” ujarnya.(don)
Bagikan artikel ini



