NABIRE – Persiapan perayaan Hari Ulang Tahun (HUT) ke-70 Gerakan Pentakosta di Tanah Papua (GBGP) terus dimatangkan. Hingga Kamis (15/10/2026), kesiapan panitia dilaporkan telah mencapai 99 persen dan seluruh rangkaian kegiatan akbar tersebut siap digelar di Nabire, Provinsi Papua Tengah.

Perayaan Yubelium 70 tahun GBGP yang menandai perjalanan organisasi sejak 1956 hingga 2026 ini tidak sekadar menjadi peringatan usia pelayanan. Momentum tersebut sekaligus menjadi ruang untuk mengenang perjuangan para perintis pekabaran Injil dan perjalanan panjang pelayanan gereja di Tanah Papua.

Ketua Panitia HUT ke-70 GBGP, Pdt. Bernard Amir Waly, S.Th, mengatakan perayaan tahun ini menjadi peristiwa bersejarah karena untuk pertama kalinya HUT GBGP dilaksanakan secara akbar dengan melibatkan semangat kebersamaan umat Tuhan di Tanah Papua.

“Ini merupakan HUT akbar yang pertama kali. Baru pertama kali di usia ke-70 tahun ini kita laksanakan secara akbar di Kota Nabire, Provinsi Papua Tengah,” ujar Bernard saat diwawancarai Papuapos Nabire, Kamis (15/10/2026).

Menurut dia, pelaksanaan HUT ke-70 tersebut lahir dari komitmen bersama untuk memperkuat persatuan di lingkungan GBGP. Persatuan dinilai menjadi kebutuhan penting untuk menghadapi berbagai tantangan pelayanan sekaligus memperbesar kontribusi gereja bagi pembangunan di Tanah Papua.

“Ini didasari atas komitmen bersama dari umat Tuhan, bagaimana GBGP harus bersatu demi membangun pekerjaan Tuhan yang besar di Tanah Papua,” katanya.

Bernard menyebut momentum tersebut juga menjadi penting setelah GBGP melewati berbagai persoalan internal yang cukup besar. Karena itu, perayaan HUT ke-70 diharapkan menjadi titik balik untuk memperkuat kebersamaan dan menatap masa depan dengan semangat yang baru.

“Kita baru selesai keluar dari persoalan besar. Puji Tuhan, oleh karena inisiatif dari pimpinan Sinode, kita bisa sampai pada momentum ini,” ujarnya.

Apresiasi untuk Pemerintah Papua Tengah

Dalam kesempatan itu, Bernard menyampaikan apresiasi kepada Pemerintah Provinsi Papua Tengah, khususnya Gubernur Papua Tengah, yang dinilai telah memberikan dukungan terhadap pelaksanaan HUT akbar tersebut.

Menurutnya, dukungan pemerintah sekaligus menjadi dorongan agar GBGP terus memperkuat persatuan dan mengambil peran lebih besar dalam pembangunan Papua, khususnya melalui pelayanan keagamaan dan pekabaran Injil.

“Kami mengucapkan terima kasih kepada pemerintah, dalam hal ini Gubernur Provinsi Papua Tengah, yang sudah membantu menyukseskan HUT akbar ini,” katanya.

Ia menambahkan, imbauan pemerintah agar GBGP bersatu menjadi pesan penting yang harus dijawab dengan langkah nyata oleh seluruh elemen gereja.

“GBGP itu adalah rumah besar dan GBGP adalah gereja yang tertua di Tanah Papua,” tegasnya.

Jangan Lagi Berjalan Sendiri

Lebih jauh, Bernard berharap perayaan HUT ke-70 tidak berhenti sebagai seremoni peringatan sejarah. Momentum Yubelium tersebut harus menghasilkan komitmen baru agar seluruh unsur gereja dapat berjalan bersama dalam pelayanan.

Ia mengajak seluruh elemen GBGP untuk meninggalkan pola berjalan sendiri-sendiri dan mulai memperkuat kerja sama demi kepentingan pelayanan serta masyarakat Papua.

“Ke depan kita tidak lagi berdiri sendiri, tidak berjalan sendiri, tetapi mari kita bergandengan tangan,” ajaknya.

Menurut Bernard, kemajuan Papua, terutama dalam pelayanan pekabaran Injil, tidak mungkin dikerjakan oleh satu orang atau satu kelompok saja. Dibutuhkan kolaborasi dan persatuan agar pelayanan dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas.

“Pelayanan pekabaran Injil tidak bisa dikerjakan oleh seseorang. Diperlukan kerja sama,” katanya.

Ia berharap perayaan HUT ke-70 GBGP di Nabire menjadi momentum untuk menyatakan komitmen bersama dalam membangun persatuan gereja dan memperkuat pelayanan di seluruh Tanah Papua.

“Melalui HUT ini kita nyatakan komitmen untuk bersatu. Mari kita bersama-sama membangun Papua, khususnya dalam pelayanan pekabaran Injil, hingga Papua ke depan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa,” pungkasnya. (rob)