DOGIYAI - Hasil karya warga Kampung Kitakebo, Distrik Aboujaga Mapia Barat (Mabar), Kabupaten Dogiyai Propinsi Papua Tengah kembali dipromosikan di Gedung Sarina, Jakarta Pusat, dalam kegiatan Festival Budaya Noken.

Festival noken yang digelar itu berlangsung selama tiga hari. Beaktris Kotouki dan Bernadeta Butu, ikut ambil bagian menjadi peserta dalam festival tersebut. Dalam acara ini ditambilkan Noken Anggrek ukuran sedang dan besar, termasuk pakaian anyaman dan berbagai pernak-pernik dari bahan anggrek.

Festival budaya untuk mempromosi noken asli Papua asal Kitakebo dan noken anggrek itu menjadi daya tarik dan memiliki keunikan tersendiri saat dipromosi di Gedung Sarina Jakarta Pusat tersebut.

Demikian keterangan Bernadeta Butu, kepada Wartawan Papuasos Nabire usai perayaan natal anak-anak Sekami Gereja Katolik Santo Antonius Padua Wonorejo, belum lama ini.

Sosok perempuan guru di daerah terpencil itu sebelumnya merajut noken di depan panitia dan para pengunjung Kota Metropolitan, ketika acara berlangsung.

Perempuan pedalaman asal Kampung Magoda, Distik Mapia Tengah Dogiyai Papua Tengah ini juga merajut noken dan mempromosikan berbagai bentuk dan ukuran, baik besar dan kecil pada saat acara festival dimaksud.

Saat ditemui di kediamannya, yakni di sekitar Sekolah Dasar Inpres Wonorejo itu, dirinya mengatakan, noken berasal dari Provinsi Papua Tengah telah diakui sebagai budaya leluhur dunia. Sebelumnya warga Papua Tengah diundang untuk menampilkan hasil kekayaan Papua pada umumnya.


Distrik Mapia Barat, Kabupaten Dogiyai khususnya dan umumnya Papua Tengah, kata mantan Kepsek SD Inpres Wonorejo ini, menunjukan sebagai sosok perempuan yang mampu mempromosikan noken diacara festival noken dan dilansir oleh media besar di Jakarta, tak ketinggalan banyak warga yang simpatik dan sempat ada yang membeli noken pada saat itu.(don)