UNITO - Sekalipun sudah ada Puskesmas Perawatan Di Unito Distrik Sukikai Selatan tetapi sayangnya tenaga kesehatan (Nakes) kosong (nihil). Gedung Puskesmas Perawatan Unito terlantar bagai gedung tak bertuan. Karena sejak lama tak ada aktifitas sehingga gedungnya terlantar membisu di kelilingi belantara. Puskesmas tersebut dibangun dengan dana yang tidak sedikit untuk menyediakan sarana pelayanan kesehatan bagi masyarakat dengan status Puskesmas Perawatan. 

Selama beberapa bulan terakhir ini tidak ada pelayanan kesehatan kepada masyarakat karena tidak ada petugas medis. Masyarakat Unito merasakan adanya pelayanan kesehatan selama dua bulan terakhir ketika ada program "kaki abu" di tempatkan di Unito. Sepeninggal relawan program "Kali abu" putus lagi pelayanan kesehatan di Unito. 

Tokoh masyarakat Unito, Nolbertus Semu dan Frans Makai menilai kondisi kesehatan masyarakat Unito seperti sebelum adanya pemerintah di belantara  wilayah dataran  rendah selatan Dogiyai. Masyarakat kembali dengan obat-obatan tradisional. Harapan masyakat mendapat pelayanan kesehatan dari pemerintah sepertinya hanya sebuah impian belaka  karena tidak ada petugas kesehatan yang melayani masyarakat lewat Puskesmas Pembantu (pustu) di Tagiwo dan Puskesmas Perawatan di Unito. 

Penilaian dua tokoh masyarakat Unito ini tidak sekedar omongan tetapi berdasar fakta yang terjadi sebulan terakhir inI. 

Keluhan warga itu terlontar seketika menyaksikan Esebius Tagi ketika mengalami luka-luka akibat serangan babi hutan awal September ini luka-lukanya tak bisa diatasi dengan tindakan medis tetapi pengobatan secara tradisional. Demikian juga ketika anak ke 2 dari Esebius Tagi digigit ular bisa juga ditangani secara tradisional. 

Lebih parah lagi seorang anak berusia kurang lebih dua tahun meninggal dunia awal pekan ini setelah sakit ringan selama sepekan. "Saya sangat sedih karena anak ini meninggal tanpa minum sebiji obatpun. Kalau soal meninggal dan hidup itu di tangan Tuhan. Tetapi yang saya sedih karena anak ini meninggal tanpa minum sebiji obatpun. Padahal di sini ada Puskesmas dan ada petugas yang ditempatkan pemerintah," sedihnya Edmundus Semu dari pinggir mayat putrinya. 

Mencermati nihilnya pelayanan kesehatan di Unito masyarakat menilai ibarat kembali tinggal di belantara seperti masa lalu. (ans)