NABIRE - Musyawarah Besar (Mubes) I Enam Suku Pesisir dan Kepulauan menjadi wadah untuk memetakan wilayah adat dan memperjuangkan pengakuan legal-formal atas tanah ulayat keenam suku di wilayah rumpun adat Saireri II (Nabire). 

Dalam pelaksanaan Mubes tersebut juga diharapkan membawa dampak krusial bagi enam suku pesisir dan kepulauan di Nabire, yakni Suku Wate, Yerisiam, Yaur/Hegure, Umari, Moor, dan Napan/Gwoa. 

Dikatakan Ketua Panitia Mubes Enam Suku, Daud Munei, Mubes enam suku pesisir dan kepulauan, hari ini begitu luar biasa, dihadiri oleh Forkopimda maupun dari unsur DPR Provinsi Papua Tengah, MRP, para kepala suku, dewan adat dan lembaga serta seluruh masyarakat adat enam suku pesisir, dari Wapoga sampai Goni. 

“Acara berjalan begitu baik, begitu hikmah dan kami telah melaksanakan pembukaan. Setelah pembukaan, kita akan masuk kepada pleno—pleno dan sidang pleno,” ucap Daud.

Lanjutnya, dalam acara pembukaan ini lengkap. Peserta dari enam suku semua hadir. Bahkan peserta yang hadir melebihi dari target yang disiapkan. “Yang kita rencanakan itu 100 per suku setiap suku, namun yang datang melebihi dari apa yang kita putuskan. Masyarakat enam suku yang luar biasa,” katanya.

Daud menambahkan, target dari 800 itu ternyata melebihi yang ditargetkan. “Kita cukup bangga dengan antusias dari masyarakat enam suku pesisir untuk musyawarah ini,” imbuhnya. 

Selaku panitia, ia menyampaikan terima kasih. Bagaimana masyarakat dari kampung-kampung begitu antusias datang untuk mengikuti musyawarah ini. “Dan kita harapkan masyarakat akan tetap mengikuti besok dan penutupan nanti pada 1 Agustus,” tandasnya. (rob)