BALI - Meski kerap dianggap penyakit kuno, nyatanya malaria masih menjadi masalah kesehatan serius di banyak negara, termasuk di Kawasan Asia Pasifik. Di Papua Tengah, Kabupaten Mimika tidak hanya penyumbang pendapatan sector tabang terbesar di Indonesia, akan tetapi penyumbang terbanyak malaria skala nasional, sekitar 492 orang terinfeksi malaria atau 97%. Menyusul kabupaten Nabire penyumbang terbanyak kedua setelah Mimika, sekitar 200 orang terinfeksi atau 45%.  

Hal itu disampaikan Wakil Gubernur Papua Tengah Deinas Geley, S.Sos.,M.Si melalui rekaman audio, yang diterima dapur redaksi Papua Pos Nabire. Selasa (17/6/25) sore, setelah mempresentasikan eliminasi malaria di Papua Tengah dalam pertemuan para pemimpin dan ahli kesehatan dari berbagai negara berkumpul di Nusa Dua, Bali, dalam acara 9th Asia Pacific Leaders’ Summit on Malaria Elimination yang diadakan oleh Asia Pacific Leaders Malaria Alliance (APLMA) bersama Kementerian Kesehatan RI. 

“Dalam forum internasional, khusus kita Papua Tengah, tadi saya sudah presentasikan bahwa Papua Tengah itu terdiri dari delapan kabupaten. Malaria yang besar adalah 97% di Timika. Dan dia menyumbang terbanyak di seluruh Indonesia. Seluruh Indonesia itu kita dari Papua Tengah. Khususnya di Kabupaten Timika malaria yang terkena adalah 492 orang kemudian persentasenya itu 97%. Di Kabupaten Nabireh terbesar keduanya sekitar 200 orang kena malaria atau 45%, sedangkan Kabupaten Paniai 5%, Kabupaten Puncak Jaya 5%, Kabupaten Intan Jaya 5%, Kabupaten Puncak 10%, Kabupaten Dogiyai 4% dan kabupaten Deiyai 0%,”rinci Deinas.

Lantaran itu, untuk menuntaskan eliminasi malaria, Deinas mengaku, dalam forum asia Pasifik di Bali pihaknya telah menandatangi kesepakatan untuk memerangi malaria tidak hanya di Papua Tengah tetapi skala internasional.

“Hasil pertemuan tadi kita sudah tanda tangan kesepakatan untuk menuntaskan malaria di dunia. Jadi tadi kami sudah tandatangan integritas untuk mentuntaskan malaria tersebut”, ujar Deinas.

Untuk di provinsi Papua Tengah, Deinas mengatakan, setelah balik dari Bali akan membentuk Satuan Tugas (Satgas) untuk memerangi malaria dari risiko terinfeksi terutama kelompok rentan di daerah-daerah sesuai angka resiko.

“Dari keputusan yang tadi kami sepakat semua, kita akan bentuk Satgas. Jadi Satgas di provinsi kita bentuk, kemudian di Kabupaten. Khusus Kabupaten itu di Nabire dengan Timika. Jadi secara otomatis ketuanya Bupati, kemudian Sekretarisnya Kepala Dinas Kesehatan, sampai ke puskesmas-puskesmas untuk tuntaskan malaria ini”, papar Deinas. (you)