Merasa Ancaman, RPM Simapitowa Tolak Rencana Pembukaan Jalan Trans Nabire Menou dan Mapia
NABIRE - Rumpun Pelajar Mahasiswa Siriwo Mapia Piyaiye Topo Wanggar (RPM Simapitowa) di Jayapura menyatakan menolak Pembangunan Jalan Trans Nabire, Menou hingga tembus Mapia, Kabupaten Dogiyai.

NABIRE - Rumpun Pelajar Mahasiswa Siriwo Mapia Piyaiye Topo Wanggar (RPM Simapitowa) di Jayapura menyatakan menolak Pembangunan Jalan Trans Nabire, Menou hingga tembus Mapia, Kabupaten Dogiyai.
Menurut mereka itu adalah ancama serius yang akan dihadapi oleh seluruh marga Simapitowa. "Kami RPM Simapitowa di Jayapura dengan tegas menolak perencanaan pembangunan Jalan Trans Nabire- Menou hingga ke Mapia, karena ini menjadi ancaman serius bagi masyarakat, jalan sudah ada lalu dipaksakan dibalik itu ada apa, hal yang aneh, kami duga pasti ada kepentingan lain," demikian dikatakan Ketua RPM Simapitowa Jayapura, Oktopianus Petege kepada media ini Sabtu (11/5/2024).
Menurutnya, Jalan Trans Nabire menuju Dogiyai sudah ada, jika jalan itu dibuka lagi lewat Menou menuju Mapia, utu pihaknya menduga ada kepentingan lain.
"Jalan Trans Nabire menuju Dogiyai inikan sudah ada, tidak perlu lagi buka jalan lewat Menou ke Mapia, jika rencana pembukaan itu terjadi, maka kami duga ini pasti ada keperluaan lain yang ingin menguasai daerah kami," katanya.
Terlepas dari itu, pihaknya juga menolak segala bentuk perusahaan yang masuk ke wilayah Simapitowa. Menurut mereka perusahaan hanya merusak kehidupan masyarakat serta merusak hutan yang masih tersisa.
"Terlepas dari hal di atas, kami juga menolak segala bentuk perusahaan yang masuk di wilayah Simapitowa, bagi kami jika perusahaan masuk ke wilayah kami tidak akan ada jaminan hidup bagi masyarakat kecil yang ada hanya korban dan korban. Untuk itu dengan tegas kami menolak segala bentuk perusahaan yang masuk di wilayah kami," tegasnya.
Di tempat yang sama, pembina organisasi RPM Simapitowa di Jayapura, Donatus Boga, menyampaikan pernyataan yang sama. Ia turut dukung apa yang dinyatakan oleh anggota RPM Simapitowa, menurutnya perusahaan tidak akan memberikan jaminan hidup, justeru tanah milik rakyat yang akan habis.
"Sebagai pembina tentu saya dukung dengan apa yang telah dinyatakan oleh RPM Simapitowa di Jayapaura, bagi kami tanah adalah kehidupan, kami tidak ada planet, selain Planet Bumi, jadi kami ikut dukung dengan sikap RPM Siimapitowa," pungkasnya. (modes)
Bagikan artikel ini



