NABIRE – Dari dua tulisan sebelumnya, jika sekolah kehilangan visi pendidikan kemudian menggerakan sekolah, kebanyakan anak–anak pejabat di daerah pedalaman mengirim anaknya di kota besar di Papua dan juga di luar Papua untuk mendapat pendidikan yang baik.

Tidak sedikit orang di pedalaman keadaan sekolah yang tidak memiliki ATK, hanya papan tulis dan meja guru kosong.

Mereka ada yang mendapat beasiswa pemerintah Papua dan ada yang menempuh non beasiswa.

  Mereka mengerti bahwa sekolah yang dekat tidak akan instan yang memiliki IQ yang baik.

Membimbing anak mereka yang menjadi insan yang unggul.

Pejabat yang mengurusi bidang itu anak mereka juga dikirim.

Anak mereka keluar daerah membarui sekolah sebagai lembaga pendidikan.

Kalau begitu apa yang dilakukan membarui sekolah pendidkan di Papua ? Pengelolaan lembaga sekolah dari sekolah yang bersangkutan.

Hal yang baik sekolah–sekolah sudah mulai akreditasi.

Setiap sekolah mulai diakreditasi.

Rekrutmen tenaga guru mesti diperhatikan.

Tenaga kependidikan dan pendidik mesti diperhatikan serius.

Jika memang tidak memiliki motivasi menjadi pendidik, tidak usah ditarik menjadi guru.

Panggilan hidupnya menjadi guru sekolah rumah kediaman.

Kemampuannya terus saja ditingkatkan.

Panggilan hidupnya terus diberdayakan.

Melayani para peserta didik, titik penting penyelenggaran sekolah bagi guru.

  Tidak sembarang orang ditunjuk sebagai tenaga kepala sekolah.

Langkah yang sangat amat penting visi sekolah–sekolah dikemudian.

Belajar ditempat lain bagaimana mengelola sekolah dalam pendidikan.

Pemerintah sebagai pengambil kebijakan tidak bisa main–main dengan sekolah.

Tak boleh menghasilkan generasi asal-asalan dikemudian hari.

Siswa didik disiapkan baik untuk mewarisi nilai kehudupan kedepan yang lebih baik.

Pemerintah setempat berinvestasi kepada lembaga sekolah funa mencetak generasi berkwalitas.

Apa yang mau ditawarkan oleh sekolah tanpa pendidikan sebuah proses itu. (don)