Masyarakat Adat Diminta Jaga Kerusakan Hutan
NABIRE – Masyarakat Adat yang memiliki hak ulayat atas hutan dan tanah di wilayah Kabupaten Nabire diminta untuk menjaga kerusakan hutan, terutama di daerah aliran sungai (DAS) dan sumber tangkapan air (kepala air). Karena, akibat kerusakan hutan di DAS dan kepala air, akan berdampak pada musibah banjir di wilayah Kabupaten Nabire.

NABIRE – Masyarakat Adat yang memiliki hak ulayat atas hutan dan tanah di wilayah Kabupaten Nabire diminta untuk menjaga kerusakan hutan, terutama di daerah aliran sungai (DAS) dan sumber tangkapan air (kepala air). Karena, akibat kerusakan hutan di DAS dan kepala air, akan berdampak pada musibah banjir di wilayah Kabupaten Nabire.
Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Nabire, Imanuel Monei, SPd,MAP di Sekretariat BPBD Nabire, Kamis (24/3) mengatakan selama beberapa waktu terakhir ini, Nabire terus mengalami musibah banjir, dibanding satu dasawarsa lalu. Musibah banjir yang terjadi di daerah ini, salah satunya disebabkan oleh penebangan hutan di sekitar kali (DAS) dan kepala air (daerah tangkapan air) sehingga ketika hujan tidak ada akar ataupun pohon yang mampu menahan air.
Oleh sebab itu, Monei mengimbau dan meminta kepada masyarakat pemilik ulayat hendaknya menjaga penebangan lair dan pembukaan lahan-lahan baru di wilayah adatnya masing-masing untuk menghindari musibah banjir yang besar kemudian hari.
Menurut catatan media, tahun lalu terjadi musibah banjir besar mulai Sima-Wami hingga Samabusa. Musibah banjir sepertinya adil dan beruntun dari barat Nabire ke arah Timur. Belum lagi laut pasang yang telah menghancurkan beberapa rumah warga sepanjang bibir pantai Nabire dari Waroki hingga Samabusa.
Monei menambahkan, untuk menanggulangi bencana alam khususnya banjir, pemerintah teru berjuang untuk menangkalnya dengan melobi pemerintah pusat dan pemerintah provinsi disamping berupaya melalui Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) Kabupaten Nabire. Pemerintah akan berjuang menata dan mencegah banjir di daerah ini sesuai dengan kemampuan dana.
Oleh sebab itu, Monei mengimbau masyarakat adat di daerah ini ikut menjaga kelestarian hutan di daerah ini dengan menjaga kerusahan hutan, daerah tangkapan air daerah aliran sungai. Masyarakat adat menurut penguasaan adatnya ikut menjaga dan menghimbau masyarakat untuk tidak membuka lahan dan melakuan penebangan liar sepanjang kali dan kepala air. Karena, akibat kerusakan alam di sepanjang kali dan daerah tangkapan air, dampaknya akan dirasakan banyak masyarakat di daerah ini ketika banjir malanda di tengah pemukiman warga.
Amukan Laut
Sementara itu, untuk menghindari amukan air laut ke pantai, seperti musibah air loop di Waroki dan sepanjang bibis pantai Nabire, Kepala BPBD Monei mengajak masyarakat untuk tidak membangun rumah di bibir pantai. Untuk menghindari abrasi dan musibah seperti banjir loop lalu di Waroki, warga diimbau untuk membangun rumah jauh dari bibir pantai dan tempat yang aman dari ancaman naiknya air laut ke darat.
Sebab, kata Monei, Nabire juga sedang menghadapi masalah abrasi sepanjang pantai mulai dari timur ke barat. Pemerintah akan berjuang membendung abrasi pantai tetapi masyarakat juga diimbau untuk membangun rumah di lokasi yang aman dengan tidak membangun di bibir pantai yang rawan abrasi. (ans)
Bagikan artikel ini



