NABIRE - Lomba Tari Yosim Pancar (Yospan) tingkat SMP dan SMA se-Kabupaten Nabire tahun 2025 resmi dibuka, Selasa (26/8/2025) di Aula Wicaksana Laghawa Polres Nabire. Acara ini bertujuan untuk melestarikan seni dan budaya Papua, khususnya tari Yospan, serta menjadi wadah bagi generasi muda untuk mengekspresikan bakat dan kreativitas mereka.

Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Kabupaten Nabire, Martina Deba, S.E, dalam sambutannya menekankan pentingnya peran Yospan sebagai pemersatu bangsa dan simbol semangat Papua. 

Ia mengatakan, ‘budaya warisan Papua ini perlu dijaga, dipupuk dan dirawat kelestariannya’, terutama di kalangan anak-anak muda. Lomba ini menjadi salah satu sarana untuk mencapai tujuan tersebut.

Martina Deba menjelaskan, lomba ini bertujuan untuk mengaktifkan dan melestarikan seni budaya tradisional Papua, khususnya tari Yospan, agar tetap dikenal oleh generasi muda. Selain itu, lomba ini memberikan ruang bagi remaja untuk menunjukkan kreativitas, mengembangkan bakat seni dan meningkatkan rasa percaya diri.

Lomba ini diikuti oleh 260 peserta dari tingkat SMP dan SMA di Kabupaten Nabire. Setiap tim terdiri dari 12 penari dan satu offisial. Seluruh kegiatan didanai oleh Anggaran Alokasi Umum (DAU) Bidang Pendidikan Kabupaten Nabire tahun 2025.

Bupati Nabire, Mesak Magai, S.Sos., M.Si, diwakili oleh Wakil Bupati, H. Burhanuddin Pawennari, secara resmi membuka acara tersebut. Dalam sambutannya, wakil bupati menyampaikan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah menyelenggarakan kegiatan ini, terutama Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga.

Burhanuddin Pawennari menyampaikan, tema acara tahun ini adalah ‘Budayaku, Identitas Bangsaku’. Ia menjelaskan bahwa tari Yospan memiliki makna mendalam tentang persaudaraan, kebersamaan dan semangat gotong royong. 

"Melalui tarian ini kita belajar bahwa seni bukan hanya soal keindahan, tetapi juga tentang jati diri, persatuan dan kebanggaan terhadap budaya kita sendiri," ujarnya.

Ia menambahkan, kegiatan ini menjadi wadah penting untuk melestarikan budaya asli Papua dan mengembangkan kreativitas seni generasi muda tanpa melupakan akar budaya mereka. Lomba ini juga melatih nilai-nilai penting seperti kerja sama, percaya diri, disiplin dan sportivitas.

Kepada seluruh peserta, Burhanuddin Pawennari berpesan agar mereka menampilkan yang terbaik dengan penuh semangat dan bangga. Ia menekankan bahwa kalah atau menang bukanlah tujuan utama, terpenting pengalaman, proses belajar dan persaudaraan yang terjalin. 

"Budaya adalah jati diri. Jika kita menjaga dan mencintai budaya kita sendiri, maka kita akan terus berdiri tegak di mana pun kita berada tanpa kehilangan identitas sebagai anak Papua dan tentunya sebagai bangsa Indonesia," tambahnya.

Dengan dibukanya lomba ini, diharapkan akan lahir generasi muda yang tangguh, kreatif dan tetap mencintai budayanya. Acara pembukaan dimeriahkan dengan penampilan tari Yospan yang memukau dari para penari, diikuti dengan penampilan dari para peserta lomba.(sam)