Logika Pers : Memahami Proposisi Pers yang Bermanfaat

Dengan seabreg bahan dari hasil verifikasi sebelumnya, wartawan melanjutkan urutan berikutnya yaitu afirmasi. Kalau dalam ilmu bahasa, itu membuat predikasi terhadap subjek. Setelah sekian banyak hasil kerja verifikasi, tahap afirmasi atau penilaian dilakukan wartawan saat mengetik berita. Disini lah letak wartawan sebagai sang penafsir. 

Tapi bukan tafsiran subjektif pribadi, melainkan tafsiran atau intreprestasi berdasarkan hasil verifikasi maksimal. Disini nalar, benak atau pikiran wartawan ikut bekerja. Hanya saja bahan yang dipakai untuk penilaian atau jugdman adalah hasil verifikasi. Dan benak yang digunakan adalah benak yang telah bersentuhan dengan kaidah logika. 

"Singkatnya wartawan harus faktual dengan verifikasi maksimal, harus logis, harus merdeka dan bertanggungjawab serta integral dalam mental, ' ujar Munib. 

Menurutnya, kalimat-kalimat yang disusun wartawan itu dalam tinjauan ilmu logika disebut preposisi-proposisi. Setiap disiplin ilmu atau terminologi tersusun dari proposisi-proposisi idiomatik yang berlaku dibidangnya masing-masing. 

Pada resep dapur-dapur redaksi seperti Kompas (buku Vademekum Wartawan) atau Tempo (buku Seandainya saya wartawan Tempo) mengenalkan siapa itu reporter, apa itu berita dan apa itu features. Tentang menulis ditekankan pada keterampilan teknik-teknik membuat lead atau kepala berita. Di buku Akal Sehat Dahlan Iskan di jelaskan News Value yang disitu diistilahkan rukun iman berita. 

Semua resep dapur redaksi itu lebih pada teori-teori membuat berita yang laku di pasar untuk mendongkrak oplah. Definisi berita terbaik Jawa Pos versi Dahlan Iskan adalah berita yang di pasar laku keras. Kompas mendefinisikan, berita terbaik Kompas adalah Laporan dari peristiwa yang dikerjakan dengan standar internasional. Lain lagi Tempo, dia menitik berat pada tulisannya yang enak dibaca, dan menyoroti tema yang diangkat secara tajam. 

Membahas jurnalistik sebagai barang dagangan itu sudah basi. Pembahasan seputar resep dapur redaksi masa lalu sudah kadaluwarsa. Oplag-oplag dan eksemplar-eksemplar sudah tersedot disrupsi flatform digital. Ketika berita menyeberang ke media digital pun tidak ter kapitalisasi dengan baik. Itulah realitanya. 

Sebuah proposisi atau pernyataan harus benar. Disini kebenarannya dimulai dari jiwa wartawan yang tidak punya maksud lain dalam berita yang dibuatnya kecuali kerja profesional sesuai kaidah yang dipegangnya. Semangat untuk kerja sesuai koridor yang ada, dan mengerjakannya secara semaksimal dengan jiwa yang bersih dari kepentingan lain. 

Barang kali juga proposisi Pers pada kebangsaan, sebagai mana peran Pers Nasional pada awal mulanya. Untuk sesi ini butuh waktu tersendiri.Alasan-alasan yang mendasarinya perlu kita bangun. 

Proposisi wartawan agak bias di era Industri Pers, ketika di sebelah ruang redaksi ada ruang pemasaran. Dimata seorang pemasaran berita wartawan, isi dan kemasannya harus laku dijual. 

Kalau tidak laku, dapat uang dari mana untuk menggaji wartawan. Demikian percakapan seperti ini sering terdengar dari pimpinan media yang selama ini biasanya lebih berpihak pada ruang pemasaran dan menekan redaksi. 

Ketika dalam ilmu logika proposisi itu adalah bagian dari kemerdekaan berpikir. Merdeka untuk membangun konsepsi (subjek) yang dipahami bersama. Memverifikasinya secara maksimal. Serta membuat penilaian itu kemerdekaan yang sakral. Kemerdekaan jenis ini hanya diberikan kepada entitas berakal seperti manusia saja. Langsung oleh sistem Tuhan itu sendiri. 

Untuk itu menghilangkan kemerdekaan itu berarti menghilangkan separuh pertama kemanusiaan. Separuh keduanya itu mertanggungjawabkan. 

Bagaimana bisa mempertanggungjawabkan jika seseorang telah dikerangkeng pikirannya oleh doktrin dogma. Kemerdekaan jenis inilah yang secara masif ditekan oleh sebuah kepentingan profan perusahaan agar setiap berita menghasilkan uang. Bila perlu jual diri, dengan menjual berita. Kondisinya ada yang separah itu. 

Menurut Abdul Munib, karena proposisi sangat terkait dengan kemerdekaan manusia wartawan dalam pekerjaannya menafsir atau memberi penilaian, maka perkara ini harus menjadi perhatian khusus. Kepada pikiran tidak sehat juga jika dijejali doktrin dan dogma. 

Yang lebih tepat adalah menunjukan jalan berpikir logis dan melatihnya dalam praktik. Jangan membangun perasaan bangga diri pada media atau organisasi wartawan yang diikuti, itu hanya akan memupuk ego sektoral. Ini yang dimasa lalu sering mengerdilkan wartawan, " ujar Munib. 

Menutup sesi kajian hari ini tentang proposisi Pers, Munib, menyampaikan bahwa seluruh pengetahuan itu berpondasi pada proposisi-proposisi. Proposisi pada beda-beda subjek bahasan menjadi disiplin ilmu menjadi menyebar sangat banyak. Kita hari ini sedang mendalami proposisi Pers. 

"Ada yang mengatakan pekerjaan Pers itu pekerjaan menulis sejarah hari ini. Produk Pers berupa koran harian bisa saja besoknya sudah jadi bungkus kacang goreng. Tapi proposisi Pers sebelum jadi bungkus kacang dibaca masyarakat. Dan ketika proposisi di dalamnya bermanfaat buat manusia maka, dia akan tinggal. 

Media yang bisa menjaga ini akan tetap hidup bersama masyarakat, ' ujarnya. (amd)