NABIRE - Ketua Umum Panitia Pelaksana (Panpel) Liga 4 PSSI Piala Gubernur Provinsi Papua Tengah, Alfred Fredy Anouw, menyoroti 'kritik publik' yang tertuju pada penyelenggaraan liga tahunan dan bergengsi ini.

Hal ini disampaikan Alfred Fredy Anouw, yang kerap disapa AFA kepada awak media, Selasa pagi (24/2/2026) pukul 10.00 WIT, melalui sambungan pesan WhatsApp.

AFA menjelaskan, iven liga merupakan kompetisi yang bergulir setiap tahun dan dilaksanakan oleh Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) dari Liga 1, Liga 2, Liga 3 dan Liga 4 adalah satu kesatuan iven setahun sekali.

Ia menegaskan, liga 4 ini ajang anak-anak muda Papua untuk menunjukan skil dan bakat. Mereka juga akan rutin berolahraga dan latihan, ini akan terhindar dari hal-hal negatif pada penyakit sosial. Sebab, sangat jarang kalau menjadi penjual bakso, sol sepatu, jualan pentolan dan lainnya.

"Liga 4 ini bukan hanya sekedar ajang biasa. Tetapi, tempat bagi anak-anak muda Papua menunjukkan skil dan bakat yang selama ini berlatih sepak bola untuk bisa ada di tingkat liga 2 atau pun liga 1. Dan dapat membantu mereka terhindar dari pergaulan bebas," tegasnya.

AFA menambahkan, kalau satu tim bawa minimal 20 pemain, maka mereka secara ekonomi sedikit tertolong. Dan apabila 20 pemain dikalikan 7 tim, maka minimal sudah ada 140 anak-anak Papua bisa mendapatkan sedikit tambahan dana.

Ia berpesan, meskipun sedikit, tetapi bisa menambah modal usaha sampingan agar berguna lagi. "Melalui olahraga sepak bola, menjadi anak-anak muda Papua sebagai tempat bagi para pemain bisa menghidup kebutuhan sehari-hari atau juga biaya pendidikan. Karena, tidak mungkin berjualan bakso, pentolan dan sebagainya," tandasnya.

Ketua Panpel justru menanyakan 'Kritik publik' dengan pesan pembatalan liga 4 dan harus selesaikan masalah Kapiraya, maka itu sama sekali tidak ada unsur apa pun.

Ia menyatakan, soal Kapiraya sedang dimediasi oleh Gubernur Papua Tengah, Meki Nawipa dengan menghadirkan tiga bupati dari Mimika, Deiyai dan Dogiyai, beserta tim harmonisasi masing-masing kabupaten tersebut.

"Kalau pembatalan dengan alasan Kapiraya itu sudah jauh beda. Soal Kapiraya itu, pemerintah sedang dalam penyelesaian dengan pendekatan adat. Justru melalui sepak bola ini dia dapat menyatukan perbedaan," tutupnya.(rob/ist)