KAPIRAYA - Beberapa tahun lalu ada pertikaian persoalan tapal batas Suku Mee dan Mimika Wee di Kapiraya, serta muncul wilayah yang mengandung potensi alam berproduktif. Lantas hal tersebut membuat semua stakeholder baik gereja, pemerintah, Majelis Rakyat Papua (MRP) dan lembaga adat untuk berusa mediasi.

Namun usaha itu tidak pernah selesai, dengan demikian muncul situasi konflik atas rebutan kepemilikan hak ulayat antar suku Mee dan suku Mimika Wee. 

Dan pada 24 November 2025, terjadi konflik horizontal antar suku Mee wilayah Kapiraya dan suku Mimika Wee di sekitar Kapiraya bertikai, hal tersebut membuat ada yang meninggal dan luka-luka serta ada yang dibawa ke rumah sakit.

"Dengan demikian sebagai tokoh muda yang peduli terhadap hidup manusia Papua, maka diharapkan masalah ini dapat diselesikan dengan cepat dan tegas," ujar Pastor Benyamin Magai, Pr., Selasa (25/11/2025) melalui pesan WhatsApp.

Oleh karena itu, kepada pihak pemerintah provinsi, kabupaten yang ada kaitannya, MRP, DPRP dan DPRD, kepala suku, tokoh adat dan semua yang berkepentingan agar hal ini menjadi perhatian.

Diharapkan dan mengutuk keras, agar tindakan seperti ini tidak boleh terjadi lagi, tetapi harus diselesaikan dengan kepala dingin dan melalui jalur dialog yang secara bermartabat. 

Suku Mee siapa dan suku Mimika Wee siapa, untuk duduk bersama dan berbicara, agar masalah ini diharapkan tidak melibatkan pihak ketiga, selain suku Mee dan Mimika wee, supaya tidak menimbulkan soal berkepanjangan. “Tuhan akan berkati kita bila diselesaikan dengan cara yang bermartabat, Nimo, Saipa dan Koyao Koha,” tandasnya.(edi/ist)